Bapanas Pastikan Pangan Surplus jelang El Nino
- 08 Apr 2026 12:22 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Bapanas memastikan ketersediaan pangan strategis dalam kondisi surplus jelang El Nino
- Komoditas seperti jagung, gula, telur ayam, dan daging ayam diproyeksikan aman
- Surplus jagung diperkirakan lebih dari 4 juta ton
- Pemerintah terus memantau stabilitas harga pangan pasca Ramadan dan Idulfitri
- Harga pangan dinilai terkendali dan berada di bawah HET serta HAP
- Inflasi pangan April 2026 tercatat sebesar 1,58 persen
- BMKG memprediksi El Nino berpotensi terjadi pada semester kedua 2026
- Pemerintah tetap mewaspadai dampak El Nino terhadap sektor pangan
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketersediaan pangan strategis dalam kondisi surplus menjelang potensi El Nino. Komoditas seperti jagung, gula, telur ayam, dan daging ayam diproyeksikan aman.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman mengatakan proyeksi tersebut berdasarkan neraca pangan nasional hingga Mei 2026. Kondisi ini dinilai cukup untuk menghadapi musim kemarau.
“Pangan strategis nasional berada pada kondisi surplus dan relatif aman,” ucapnya dalam rilis resmi Kementan, Selasa 7 April 2026. Ia merinci sejumlah komoditas diperkirakan mengalami surplus, jagung menjadi yang terbesar dengan surplus lebih dari 4 juta ton.
Selain itu, gula konsumsi, daging ayam, dan telur ayam juga diproyeksikan surplus. Kondisi ini menunjukkan ketersediaan pangan nasional dalam kondisi cukup.
Menurutnya, pemerintah tidak hanya menjaga pasokan. Stabilitas harga pangan juga terus dipantau setelah periode Ramadan dan Idulfitri.
Ia mengatakan harga sejumlah komoditas seperti beras, kedelai, dan bawang putih cenderung stabil. Harga berada di bawah Harga Eceran Tertinggi dan Harga Acuan Penjualan.
“Secara umum, harga pangan terkendali,” ucapnya. Ia menambahkan inflasi pangan pada Maret 2026 tercatat sebesar 1,58 persen, angka ini menunjukkan tren yang semakin terkendali.
Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan potensi El Nino diperkirakan muncul pada semester kedua 2026. Ia menjelaskan fenomena ini dapat memicu penurunan curah hujan dan kekeringan, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi sektor pangan.
“Prediksi BMKG menunjukkan El Nino berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50 hingga 80 persen,” ucapnya. Ia mengatakan saat ini kondisi iklim global masih berada pada fase netral, namun, peluang menuju El Nino tetap perlu diwaspadai.
Menurutnya, prakiraan pada periode Maret hingga April masih memiliki ketidakpastian. Hal ini dipengaruhi fenomena spring predictability barrier.
Ia menambahkan tingkat kepercayaan prediksi akan meningkat pada Mei 2026. BMKG juga memperkirakan musim kemarau tahun ini lebih kering dan panjang dari normal.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah optimistis ketahanan pangan tetap terjaga. Stabilitas harga diharapkan mampu menghadapi dampak El Nino.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....