Akademisi Soroti PJJ, Berisiko Turunkan Kualitas Pendidikan
- 07 Apr 2026 15:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) untuk efisensi energi dinilai berisiko menurunkan kualitas pendidikan, terutama pada aspek kemampuan kognitif, interaksi sosial, dan keterampilan praktis mahasiswa.
- Materi dasar perkuliahan tetap harus disampaikan melalui tatap muka, dengan saran porsi pembelajaran daring tidak lebih dari 20% agar proses transfer pengetahuan tetap optimal.
- Alasan efisiensi energi dianggap tidak tepat untuk mengorbankan kualitas pendidikan, mengingat interaksi langsung di kampus sangat krusial bagi pengembangan bekal generasi masa depan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Guru Besar Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Al Makin, menilai pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidak tepat dijadikan solusi jangka panjang untuk efisiensi energi. Ia menegaskan, kebijakan tersebut berpotensi menurunkan kualitas pendidikan.
Menurutnya, pengalaman selama pandemi menunjukkan dampak negatif PJJ terhadap kemampuan mahasiswa. Penurunan terjadi pada aspek kognitif, sosial, hingga keterampilan praktis.
“Karena pembelajaran daring selama kita jalani dalam masa pandemi itu dampaknya merugikan bagi kemampuan siswa ya. Baik itu kemampuan kognitif, kemampuan sosial, dan skill-skill yang lainnya,” ujarnya dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Selasa 7 April 2026.
Ia menjelaskan, pembelajaran daring membuat transfer pengetahuan dari dosen ke mahasiswa tidak optimal. Selain itu, interaksi sosial yang penting dalam proses belajar juga berkurang.
“Banyak dari berbagai macam jurnal ilmiah yang diterbitkan mengamati pembelajaran secara online selama pandemi. Banyak terjadi penurunan kognitif pengetahuan maupun sosial,” katanya.
Ia juga menyoroti penggunaan teknologi seperti artificial intelligence (AI) dalam pembelajaran. Menurutnya, inovasi tersebut tetap perlu dikaji secara bijak agar tidak mengorbankan kualitas pendidikan.
Alasan efisiensi energi, menurutnya, tidak seharusnya menjadi dasar utama penerapan PJJ. Apalagi, sebagian besar mahasiswa sebenarnya berada dekat dengan kampus dan masih memungkinkan untuk belajar tatap muka.
Menurutnya, pembelajaran langsung atau luring tetap penting untuk membangun kemampuan komunikasi dan interaksi. Hal ini menjadi bekal penting bagi generasi masa depan.
“Kalau memang harus di efisiensi, salah satu dampak negatifnya jika harus daring ya pendidikan dirugikan. Ada beberapa hal yang bisa disampaikan jarak jauh, tapi tidak semua,” ucapnya.
Ia menegaskan, dampak pembelajaran daring selama pandemi masih terasa hingga kini. Ia menyebut kemampuan siswa cenderung menurun dibandingkan sistem tatap muka.
Menurut dia, materi dasar tetap harus disampaikan secara tatap muka. “Pembelajaran daring sebaiknya tidak lebih dari 20 persen dari total pertemuan,” katanya.
Al Makin mengimbau agar kebijakan pendidikan tetap mengutamakan kualitas. Efisiensi energi dinilai penting, tetapi tidak boleh mengorbankan mutu pembelajaran.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....