KLH Ungkap Faktor Penghambat Penghentian Praktik "Open Dumping"
- 07 Apr 2026 07:29 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- KLH mengungkapkan masih banyak tempat pemrosesan akhir (TPA) yang masih melakukan sistem pembuangan terbuka (open dumping).
- Minimnya alokasi anggaran serta keterbatasan sumber daya tanah menjadi kendala serius bagi pemerintah daerah setempat.
- Praktik penumpukan sampah terbuka sangat berbahaya bagi lapisan ozon karena menghasilkan gas metan yang merusak lingkungan.
RRI.CO.ID, Jakarta – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengungkapkan faktor penghambat utama penghentian pembuangan sampah terbuka (open dumping). Demikian disampaikan Direktur Pengurangan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Agus Rusli, Senin 6 April 2026.
Menurut dia, saat ini masih banyak tempat pemrosesan akhir (TPA) yang melakukan open dumping. “Fenomena ini menjadi faktor utama penghambat target pemerintah untuk mencapai kebersihan lingkungan yang berkelanjutan secara masif,” ujarnya.
Agus mengakui minimnya alokasi anggaran serta keterbatasan sumber daya tanah menjadi kendala serius bagi pemerintah daerah setempat. “Padahal, praktik penumpukan sampah terbuka sangat berbahaya bagi lapisan ozon karena menghasilkan gas metan yang merusak lingkungan,” ucapnya.
Karena itu, Agus menginstruksikan seluruh pemerintah kabupaten dan kota segera menyesuaikan sistem pengolahan sampah sesuai regulasi perundangan. Menurut dia, pembuangan terbuka harus segera ditinggalkan karena teknik tersebut hanya memindahkan masalah tanpa proses pengolahan yang berarti.
"Sistem sanitary landfill memang membutuhkan biaya besar, tetapi efektivitasnya sangat tinggi untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup,” tuturnya. “Keberhasilan program transisi ini sangat bergantung pada komitmen penuh dari para pimpinan daerah.”
Agus menekanan pemerintah provinsi juga harus ikut bertanggung jawab karena koordinasi antarwilayah diperlukan untuk menyediakan fasilitas pemrosesan. "Kami mendorong penggunaan biomassa sebagai alternatif penutup tumpukan sampah jika ketersediaan tanah di daerah tersebut sangat terbatas," ucapnya.
Menurut Agus, tingkat kesadaran masyarakat dalam memilah limbah rumah tangga saat ini terpantau masih rendah. Kondisi tersebut mengakibatkan volume sampah organik yang masuk ke TPA tetap tinggi mencapai 50 persen.
Agus juga mengatensi urgensi replikasi percontohan pengolahan limbah mandiri dari tingkat terkecil guna mengurangi beban harian lokasi pembuangan. Langkah ini juga diharapkan dapat mengurangi produksi sampah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....