KPI Aceh Gandeng LPP RRI Hidupkan Kembali Sejarah ‘Radio Rimba Raya’
- 06 Apr 2026 13:03 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- KPI Aceh dan RRI berkolaborasi menghidupkan kembali sejarah Radio Rimba Raya melalui peringatan Hari Radio Aceh.
- Radio Rimba Raya dinilai sebagai simbol perjuangan yang penting untuk memperkuat nilai patriotisme di era digital.
- RRI mendukung penuh dengan pengembangan konten siaran serta perluasan jangkauan melalui platform digital.
RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Aceh M. Reza Fahlevi melakukan audiensi strategis dengan Direktur Program dan Produksi LPP RRI. Pertemuan tersebut bertujuan untuk membahas sinergi dalam menyukseskan peringatan Hari Radio Aceh yang sarat akan nilai sejarah.
Reza menjelaskan bahwa penetapan Hari Radio Aceh terinspirasi dari eksistensi heroik Radio Rimba Raya di masa perjuangan. Pihaknya ingin memastikan peran radio tetap relevan sebagai media informasi dan edukasi di tengah gempuran era disrupsi digital.
“Hari Radio Aceh ini terinspirasi dari Radio Rimba Raya karena memang ada beberapa sejarawan di Aceh yang sering mengangkat tentang Radio Rimba Raya. Maka kami melihat kami di KPI juga ini bagian dari agar eksistensi radio tetap terasa di era disrupsi digital saat ini,” ujar Reza di ruang rapat kantor LPP RRI, Jakarta, Senin, 6 April 2026.
Ketua KPI Aceh tersebut turut menyertakan Kepala Stasiun RRI Banda Aceh dalam pertemuan penting tersebut. Langkah ini diambil guna memperkuat koordinasi antara regulator penyiaran daerah dengan lembaga penyiaran publik sebagai representasi insan radio.
Reza menjelaskan bahwa Pemerintah Aceh telah menetapkan tanggal 20 Desember secara resmi sebagai Hari Radio Aceh melalui keputusan gubernur. Ia menilai momentum ini sangat krusial untuk membangkitkan kembali semangat patriotisme melalui udara bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Direktur Program dan Produksi LPP RRI Mistam menyambut bangga inisiatif dari para komisioner penyiaran dari Bumi Serambi Mekkah. Ia menegaskan bahwa Radio Rimba Raya bukan sekadar nama, melainkan sebuah tujuan besar yang harus dihidupkan kembali secara nasional.
“Yang namanya Radio Rimba Raya itu tidak sekedar ada tetapi dijadikan sebuah apa namanya goal dan dijadikan dihidupkan kembali. Saya merasa bangga karena dengan dihidupkannya kembali kesejarahan ini itu artinya akan membuka kembali kesejarahan dan di dalamnya itu menyangkut pula tentang Radio Republik Indonesia,” ujar Mistam.
Mistam menceritakan upaya serius RRI dalam menelusuri dokumen sejarah autentik suara ‘Indonesia Masih Ada’ hingga ke negara India. Ia mengirimkan utusan khusus ke All Indian Radio atau Doordarshan untuk mencari bukti fisik siaran agresi militer tersebut.
“Di tahun 2020-an kita memengirim utusan ke India untuk mencari sebuah dokumen yang menurut informasi dari Doordarshan. Nah, sampai detik ini itu terputus untuk mencari dokumen tentang suara tentang Republik Indonesia itu masih ada,” kata Mistam.
Direktur Program dan Produksi tersebut menekankan bahwa sejarah Radio Rimba Raya harus diketahui oleh seluruh anak bangsa di republik ini. Baginya, kehadiran Aceh merupakan bagian tidak terpisahkan yang memberikan dukungan sangat besar terhadap berdirinya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Mistam juga memberikan gambaran mengenai kondisi industri penyiaran radio dan televisi yang saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ia menyoroti tantangan berat dari percepatan teknologi dan maraknya penyebaran paham radikalisme melalui media sosial di ruang publik.
“Bahwa kondisi radio, kondisi televisi di Indonesia dalam konteks kekinian itu saya kira tidak dalam keadaan baik-baik saja. Dan apalagi beberapa tahun yang lalu hasil daripada BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) bahwa penggunaan sosial media itu hampir 50 persen itu bercokol radikalisme di sana,” ucap Mistam.
Ia menambahkan bahwa jangkauan RRI kini telah merambah ke platform digital guna menjangkau pendengar di seluruh belahan dunia. Berdasarkan riset terbaru, RRI menjadi pemenang secara nasional dengan tingkat capaian pendengar mencapai angka 44 persen saat ini.
“Sekarang teknologi kita bisa tracking streaming kita itu dari mana saja pendengar kita ini. Dari Belanda, dari Amerika, dari manapun pendengar RRI itu bisa ke tracking,” ujar Mistam.
LPP RRI berkomitmen memberikan dukungan penuh terhadap kesuksesan peringatan Hari Radio Aceh melalui pembuatan berbagai program siaran khusus. Kerja sama ini diharapkan mampu mengembalikan marwah radio sebagai alat pemersatu bangsa yang kokoh di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....