Hadapi Tekanan Geopolitik Global, Pancasila Diharapkan jadi Kompas Strategis
- 05 Apr 2026 11:32 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Anggota DPR RI Fraksi Golkar, Bambang Soesatyo (Bamsoet) menegaskan, dinamika geopolitik global yang semakin memanas menjadi ujian nyata
- Anggota Komisi III DPR ini menekankan, Pancasila harus ditempatkan sebagai kompas strategis bangsa
- Karena itu, implementasi Pancasila, khususnya sila keadilan sosial, harus diwujudkan
RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota DPR RI Fraksi Golkar, Bambang Soesatyo (Bamsoet) menegaskan, dinamika geopolitik global yang semakin memanas menjadi ujian nyata. Terutama, ujian nyata bagi relevansi Pancasila sebagai dasar ideologi sekaligus arah kebijakan luar negeri Indonesia.
Anggota Komisi III DPR ini menekankan, Pancasila harus ditempatkan sebagai kompas strategis bangsa. Yakni, dalam menghadapi tekanan geopolitik global.
"Kita tidak bisa lagi memandangnya sekadar sebagai nilai normatif. Tetapi, sebagai dasar pengambilan keputusan yang konkret dalam politik luar negeri dan kebijakan nasional,” kata Bamsoet dalam keterangan persnya, di Jakarta, Minggu, 5 April 2026.
Bamsoet menilai, dunia saat ini sedang bergerak menuju tatanan multipolar dengan konflik terbuka. Mulai dari, perang ekonomi hingga perebutan sumber daya yang dampaknya langsung dirasakan hingga ke dalam negeri.
"Eskalasi konflik global, telah berdampak langsung pada stabilitas energi dunia. Indonesia masih mengimpor sekitar 25 persen kebutuhan minyak dan 30 persen LPG dari Timur Tengah menjadi sangat rentan," ucap Bamsoet.
Gejolak harga energi dunia, menurutnya, berpotensi mendorong defisit anggaran Indonesia melampaui batas aman tiga persen. Hal ini berpotensi terjadi, jika tidak diantisipasi dengan kebijakan fiskal yang adaptif.
“Dalam situasi seperti ini, prinsip bebas aktif harus ditafsirkan ulang secara lebih berani. Indonesia tidak boleh terjebak dalam netralitas pasif, tetapi harus aktif membangun posisi strategis yang berpihak pada kepentingan nasional,” ucap Bamsoet.
Kemudian, Waketum Golkar ini menuturkan, tekanan geopolitik juga datang dari fragmentasi ekonomi global. Dunia saat ini, tengah menghadapi perlambatan pertumbuhan, proteksionisme, serta pergeseran menuju tatanan multipolar.
"Mengubah pola perdagangan dan investasi global, dalam hal ini, meskipun ekonomi Indonesia relatif stabil. Dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen," ujar Bamsoet.
Ke depannya, menurutnya, ketergantungan terhadap komoditas dan fluktuasi harga dunia menjadi kerentanan struktural yang harus diatasi. Ketahanan ekonomi nasional tidak bisa dilepaskan dari dinamika global.
"Karena itu, implementasi Pancasila, khususnya sila keadilan sosial, harus diwujudkan. Melalui penguatan kemandirian ekonomi, hilirisasi industri, dan penguasaan teknologi strategis,” kata Bamsoet.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....