Ketua IAI: Bangunan Tahan Gempa Butuh Biaya Lebih Tinggi

  • 03 Apr 2026 12:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ketua IAI Jakarta, Teguh Aryanto menyebut bangunan tahan gempa memerlukan biaya lebih tinggi karena penggunaan material dan struktur yang lebih kuat.
  • Biaya awal yang lebih mahal dinilai sebanding dengan upaya meminimalkan kerugian dan risiko korban saat terjadi gempa.
  • Pemerintah melalui Kementerian PU telah menyiapkan desain rumah tahan gempa terjangkau, serta mendorong penggunaan material ringan untuk meningkatkan keselamatan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, Teguh Aryanto menilai bangunan tahan gempa umumnya membutuhkan biaya lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan material dan struktur yang harus memenuhi standar keamanan lebih ketat.

Menurutnya, penggunaan pembesian serta kualitas beton yang lebih baik menjadi faktor utama peningkatan biaya tersebut. Namun, ia mengingatkan bahwa biaya pembangunan seharusnya tidak hanya dilihat dari sisi awal.

"Kalau hanya melihat biaya awal memang lebih mahal. Tapi jika dibandingkan dengan kerugian saat terjadi gempa, tentu jauh lebih besar dampaknya," katanya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Jumat, 13 April 2026.

Ia menjelaskan, masyarakat di wilayah rawan gempa sering kali masih mengabaikan pentingnya konstruksi tahan gempa. Padahal, sebagian besar korban dalam peristiwa gempa terjadi akibat tertimpa bangunan yang tidak kuat.

Ia juga menyinggung kearifan lokal pada masa lalu yang sebenarnya telah menerapkan konsep bangunan tahan gempa. Meskipun masih terbatas pada bangunan sederhana dan berlantai rendah.

Ia menambahkan, Kementerian Pekerjaan Umum telah memiliki program desain rumah tahan gempa dengan biaya terjangkau. "KementerianPU pernah beberapa kali kok dia membuat desain-desain rumah yang memang tahan gempa, tapi memang masih sangat terbatas," ujarnya.

Selain itu, ia mengimbau masyarakat untuk memilih material bangunan yang lebih ringan guna meminimalkan risiko saat terjadi gempa. Menurutnya, penggunaan material berat seperti dinding masif dan genteng tanpa struktur yang kuat dapat meningkatkan potensi korban jiwa.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta warga terdampak gempa bumi untuk struktur bangunan rumahnya. Hal ini penting dilakukan guna menghindari risiko roboh akibat gempa susulan.

"Untuk bangunan gedung tinggi dan rumah-rumah agar dicek kembali kondisi struktur bangunan," ucap Plh. Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Fachri Radjab dalam keterangan pers yang diterima RRI, Jumat, 13 April 2026. Ia menekankan kondisi visual bangunan dari luar tidak menjamin keamanan di dalamnya.

Masyarakat diminta untuk lebih teliti memeriksa detail struktur, baik pada hunian pribadi maupun gedung perkantoran. "Walaupun bangunannya masih berdiri, tapi apabila ada retakan-retakan atau kondisi-kondisi tidak stabil, itu perlu menjadi kewaspadaan," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....