Libatkan Ratusan OMK, Drama 'Lux in Nihilo' Hibur Umat Katolik Katedral Jakarta
- 03 Apr 2026 12:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Gereja Katedral Jakarta menghadirkan drama musik tari Lux in Nihilo sebagai bagian refleksi iman menjelang Ibadat Jumat Agung, mengangkat kisah sengsara dan wafat Yesus Kristus.
- Pertunjukan yang melibatkan sekitar 145 Orang Muda Katolik ini mengusung tema perjalanan dari kegelapan menuju terang, dengan figur Santo Petrus sebagai simbol jatuh dan bangkit.
- Umat menilai makna Tri Hari Suci relevan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai pengingat bahwa setiap kejatuhan selalu memberi kesempatan untuk bangkit kembali.
RRI.CO.ID, Jakarta - Gereja Katedral Jakarta menghadirkan drama musik tari bertajuk Lux in Nihilo sebagai bagian dari rangkaian peringatan Jumat Agung. Pertunjukan ini menjadi sarana refleksi iman bagi umat dalam mengenang sengsara dan wafat Yesus Kristus.
Humas Gereja Katedral Jakarta, Susyana Suwadie mengatakan, drama tersebut disutradarai oleh Yogi Pranowo dan melibatkan tim kreatif. Seluruh unsur pertunjukan dirancang untuk membawa umat masuk dalam perenungan yang lebih mendalam.
"Drama ini merupakan rangkaian sebelum memperingati Ibadat Jumat Agung. Di mana jalan salib ini mewakili bagaimana kita diajak merenungkan sengsara dan wafat Kristus melalui sebuah drama musik tari," katanya saat ditemui wartawan di halaman Gereja Katedral Jakarta, Jakarta Pusat, Jumat, 3 April 2026.
Ia menjelaskan, pertunjukan Lux in Nihilo dipersembahkan oleh Orang Muda Katolik Katedral Jakarta dengan melibatkan sekitar 145 orang. Tema Lux in Nihilo diangkat sebagai ajakan bagi umat untuk keluar dari krisis makna kehidupan.
Melalui pertunjukan ini, umat diajak melakukan perjalanan iman dari kegelapan menuju terang. Figur Santo Petrus menjadi tokoh utama dalam drama tersebut.
Kisahnya yang pernah jatuh dan mengalami penyesalan. Namun akhirnya bangkit kembali, diharapkan menjadi refleksi bagi umat tentang pengampunan dan harapan.
"Mengajak perjalanan iman untuk keluar dari krisis makna dari gelap menuju terang. Dari ketiadaan, dari kehampaan menuju ke suatu terang," ujarnya.
Umat Katolik asal Jakarta, Elma membagikan makna pribadi dalam memaknai Tri Hari Suci, khususnya Jumat Agung hingga Paskah. Ia menilai, peristiwa sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus menjadi pengingat akan kasih dan pengorbanan Tuhan bagi umat manusia.
Menurutnya, peringatan ini tidak hanya dimaknai sebagai rangkaian ibadat tahunan, tetapi juga relevan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengatakan, setiap manusia tidak luput dari kesalahan dan kejatuhan dalam hidup.
"Paskah ini kita memaknai bagaimana penderitaan Tuhan Yesus untuk menebus dosa-dosa umat manusia, kemudian bangkit di hari ketiga. Bagi saya, ini mengingatkan bahwa ketika kita jatuh dalam dosa, selalu ada kesempatan untuk bangkit kembali, " ujarnya.
Gereja Katedral Jakarta menghadirkan drama musik tari Lux in Nihilo sebagai bagian refleksi iman menjelang Ibadat Jumat Agung, mengangkat kisah sengsara dan wafat Yesus Kristus.
Pertunjukan yang melibatkan sekitar 145 Orang Muda Katolik ini mengusung tema perjalanan dari kegelapan menuju terang, dengan figur Santo Petrus sebagai simbol jatuh dan bangkit.
Umat menilai makna Tri Hari Suci relevan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai pengingat bahwa setiap kejatuhan selalu memberi kesempatan untuk bangkit kembali.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....