Menteri Ekraf: Film Indonesia Harus Bisa Mendunia
- 03 Apr 2026 09:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menegaskan harapannya agar film Indonesia tidak hanya kuat di dalam negeri tetapi juga mampu bersaing dan mendunia.
- Sutradara Pelangi di Mars, Upie Guava, menjelaskan film ini juga menjadi bagian dari pengembangan teknologi filmmaking berbasis XR (Extended Reality) melalui riset sejak 202
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya berharap industri film nasional mampu berkembang dan bersaing di kancah internasional. Hal tersebut ia sampaikan saat menghadiri screening film animasi Pelangi di Mars bersama Kabinet Merah Putih.
Riefky mengatakan, pemerintah mengapresiasi karya anak bangsa yang berani menghadirkan konsep dan teknologi baru dalam produksi film. Menurutnya, film Pelangi di Mars menunjukkan potensi besar industri kreatif Indonesia untuk terus berkembang.
Ia menilai film tersebut berani mengangkat genre science fiction yang berkaitan dengan isu lingkungan. Tema tersebut dinilai masih jarang diangkat dalam industri film Indonesia, terlebih dengan pendekatan yang juga menyasar penonton anak-anak.
“Dan untuk itulah kementerian tidak bisa sendiri, kami perlu stakeholder, asosiasi, kementerian lembaga lain. Gimana kita sama-sama dengan keterbatasan kita masing-masing bisa mendukung karya anak bangsa ini,” katanya di Jakarta, Kamis, 2 April 2026.
Dalam kesempatan yang sama, sang sutradara, Upie Guava menyampaikan upaya memperkuat infrastruktur teknologi perfilman Indonesia. Menurutnya, dalam lima tahun terakhir industri film Indonesia berkembang pesat dengan banyaknya kreator muda yang menghasilkan karya berkualitas.
Dari sinilah Upi menyoroti penguatan teknologi dalam proses produksi film. Diperlukan R&D, trial and error, serta kolaborasi berbagai pihak untuk membangun sistem produksi yang sesuai dengan kebutuhan kreator di Indonesia.
“Teknologi itu harus ditempatkan untuk melayani kreator,” kata Upi. Menurutnya, arah perkembangan teknologi perfilman dunia saat ini mengarah pada XR atau Extended Reality.
Ia menambahkan, timnya termasuk salah satu pihak yang cukup awal mengadopsi teknologi tersebut di Indonesia melalui proses riset sejak 2020 hingga 2023. Sehingga, Pelangi di Mars dinilainya sebagai prototipe penggunaan teknologi tersebut dalam produksi film Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....