Pergerakan Lempeng Laut Maluku Jadi Penyebab Gempa 7,6 Magnitudo
- 02 Apr 2026 13:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BMKG memutakhirkan kekuatan gempa di wilayah Maluku menjadi 7,6 magnitudo dan terus memantau aktivitas tektonik.
- Perubahan muka air laut terdeteksi di lima lokasi salah satunya dengan ketinggian hingga 75 sentimeter.
- Masyarakat diimbau tetap tenang dan mengikuti informasi resmi di tengah gempa susulan serta dampak kerusakan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Geofisika (BMKG) Kelas III Ternate melaporkan adanya aktivitas tektonik besar dalam gempa 7,6 magnitudo yang mengguncang Maluku Utara (Malut)-Sulawesi Utara (Sulut). Petugas Operasional BMKG Kelas III Ternate Basri Kamaruddin memastikan, BMKG akan terus memantau pergerakan lempeng laut secara intensif selama masa tanggap.
"BMKG menyampaikan kepada masyarakat agar tetap tenang dan selalu update informasi yang dirilis oleh instansi terkait, yaitu BMKG maupun BPDB daerah setempat. Kemudian juga jangan panik," ujar Basri dalam dialog bersama Pro3 RRI, Kamis, 2 April 2026.
Menurutnya, pergerakan lempeng Laut Maluku menjadi penyebab utama terjadinya guncangan hebat pada wilayah tersebut. Area tersebut, lanjut dia, merupakan zona sangat eksis gempa yang sering mengalami aktivitas seismik signifikan setiap hari.
"Dari rilis BMKG, sekarang ini untuk peningkatan dini tsunami itu sudah pada status peningkatan dini tsunami 3. Itu artinya sudah ada update masuk terkait ketinggian pengamatan muka air laut," ujar Basri.
Basri mengatakan, peralatan pendeteksi telah mencatat perubahan muka air laut pada lima lokasi strategis di Maluku. Ia merinci kenaikan air tertinggi terpantau di wilayah Minahasa Utara dengan ketinggian mencapai angka 75 sentimeter.
Sementara, lokasi pengamatan lainnya meliputi Belang setinggi 68 sentimeter dan wilayah Sidangoli setinggi 35 sentimeter. Ia memastikan, sensor pada pelabuhan terus melaporkan fluktuasi air yang terjadi secara tiba-tiba akibat guncangan utama.
"Kalau dari data yang kami dapat, itu sudah ada lima lokasi peralatan tide gauge yang mencatat adanya perubahan muka air laut. Di antara yang pertama di Belang 0,68 meter, Bitung ada 20 cm, di Halmahera Barat, Maluku Utara 30 cm, Minahasa Utara 75 cm, dan Sidangoli 35 cm," kata Basri, membeberkan.
Adapun gempa utama tersebut memicu terjadinya 15 kali kejadian gempa susulan di sekitar lokasi. Sementara, magnitudo dari rentetan gempa susulan tersebut tercatat memiliki kekuatan yang lebih kecil dari getaran pertama.
Basri menerima laporan mengenai kerusakan bangunan di Kota Ternate akibat besarnya energi getaran yang dihasilkan oleh gempa. Ia mengatakan, beberapa dinding rumah warga mengalami keruntuhan pada Kelurahan Siko, Kelurahan Gambesi, hingga wilayah Dufa-Dufa.
“Sudah pasti ada gempa susulan dengan kejadian gempa yang sebesar itu, maksudnya 7,6, ada gempa susulan. Berdasarkan catatan sementara kami, terjadi 15 kejadian gempa susulan," ucap Basri.
Adapun dampak kerusakan berat juga terjadi di Pulau Batang Dua tepatnya pada wilayah Desa Mayau. Bahkan, lanjut dia, sebuah atap gereja roboh dan sebagian dinding rumah penduduk mengalami kehancuran akibat guncangan lempeng tersebut.
Peristiwa itu, kata Basri juga mengakibatkan korban jiwa akibat runtuhnya bagian luar gedung KONI di wilayah Saryo Kota Manado. Ia membenarkan informasi mengenai satu orang warga meninggal dunia dan satu orang lainnya mengalami luka-luka pascainsiden tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....