Operasi Perdamaian, Puan Tegaskan Kehadiran Indonesia Tidak Sebatas Diplomasi

  • 01 Apr 2026 11:09 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ketua DPR RI, Puan Maharani menyayangkan, kehadiran Indonesia dalam operasi perdamaian dunia sering dipahami datar oleh publik.
  • Ketua DPP PDIP ini menegaskan, kehadiran Indonesia dalam panggung internasional tidak sebatas simbol diplomasi aktif negara
  • Negara harus memastikan bahwa setiap perkembangan ancaman dipetakan secara lebih adaptif

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua DPR RI, Puan Maharani menyayangkan, kehadiran Indonesia dalam operasi perdamaian dunia sering dipahami datar oleh publik. Ketua DPP PDIP ini menegaskan, kehadiran Indonesia dalam panggung internasional tidak sebatas simbol diplomasi aktif negara.

Peristiwa tiga prajurit TNI gugur di Lebanon, menurutnya, menunjukkan ada risiko nyata. Risiko nyata tersebut, harus dibaca sebagai bagian dari perubahan lanskap konflik global.

"Ketika prajurit Indonesia gugur dalam misi perdamaian. Menunjukkan bahwa komitmen Indonesia terhadap perdamaian internasional selalu dibayar dengan tanggung jawab yang tidak ringan," kata Puan dalam keterangan persnya, di Jakarta, Rabu, 1 April 2026.

Peristiwa gugurnya prajurit TNI di Lebanon, ia mengungkapkan, memperlihatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara komitmen internasional Indonesia. Sekaligus, perlindungan maksimal terhadap personel yang ditugaskan.

"Keberanian pasukan Indonesia di medan konflik harus selalu diikuti dengan kesiapan negara. Negara harus memastikan bahwa setiap perkembangan ancaman dipetakan secara lebih adaptif," ucap Puan.

Ke depannya, Puan mengharapkan, peristiwa kelam itu dapat semakin meningkatkan kesadaran bagi semua pihak. Yakni, betapa pentingnya langkah dan upaya menciptakan perdamaian.

"Terutama bagi pihak-pihak yang masih berseteru dan berada dalam konflik geopolitik berkepanjangan. Perang harus segera dihentikan, sudah berapa banyak korban berjatuhan demi kekuasaan pihak-pihak tertentu," ujar Puan.

Sebelumnya diberitakan, Praka Farizal Rhomadhon, prajurit TNI dalam misi UNIFIL, gugur akibat tembakan artileri di Lebanon selatan. Insiden itu terjadi dekat Adchit Al Qusayr pada Minggu, 29 Maret 2026, di sekitar posisi kontingen Indonesia.

Serangan tersebut juga melukai tiga prajurit lainnya, yakni Rico Pramudia, Bayu Prakoso, dan Arif Kurniawan. Mereka mengalami luka akibat dampak tembakan artileri yang menghantam area sekitar penugasan pasukan UNIFIL Indonesia.

Sehari kemudian, PBB melaporkan kembali insiden serangan terhadap konvoi logistik UNIFIL di Lebanon selatan. Serangan itu terjadi dekat Bani Hayyan pada Senin, 30 Maret 2026, dan melibatkan pasukan penjaga perdamaian Indonesia.

Dua prajurit TNI dilaporkan gugur dalam serangan tersebut, yakni Kapten Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Selain korban gugur, dua prajurit lainnya terluka, yaitu Sulthan Wirdean Maulana dan Deni Rianto akibat serangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....