Biaya Tinggi, Pengamat Lingkungan Sebut WTE Perlu Dukungan Pendanaan
- 27 Mar 2026 14:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Proyek waste to energy membutuhkan biaya besar dengan harga listrik tinggi (sekitar 20 sen/kWh), sehingga dinilai kurang menarik bagi investor.
- Surya Dharma menilai WTE tetap bernilai karena menghasilkan energi sekaligus mengatasi masalah sampah.
- Pemerintah memprioritaskan pembangunan WTE di Banten, termasuk wilayah Serang, Cilegon, dan Tangerang sebagai solusi pengelolaan sampah.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pendanaan pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (waste to energy) dinilai masih menjadi tantangan, terutama dari sisi kelayakan investasi. Meski membutuhkan biaya besar dan harga listrik yang dihasilkan relatif tinggi, proyek ini tetap memiliki nilai tambah bagi pemerintah.
Ketua Indonesia Center for Renewable Energy Studies, Surya Dharma mengatakan harga listrik dari waste to energy cukup mahal. Yaitu dapat mencapai sekitar 20 sen per kWh.
"Sudah dihitung sebetulnya dengan pola yang sekarang itu sampai harga listriknya 20 stent per KWH. Walaupun itu kan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga listrik yang dibeli dari sumber dari energi yang lain," katanya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Jumat, 27 Maret 2026.
Namun demikian, menurutnya, skema ini tidak bisa dilihat hanya dari sisi energi semata. Ia menegaskan terdapat dua manfaat utama, yakni produksi energi listrik serta pengelolaan sampah yang selama ini memerlukan biaya besar.
Ia menambahkan, jika kedua aspek tersebut diperhitungkan bersamaan, maka proyek ini menjadi lebih layak secara ekonomi bagi pemerintah. Terlebih, pengelolaan sampah merupakan layanan publik yang tetap harus dijalankan, meskipun tanpa keuntungan finansial langsung.
Lebih lanjut, ia menilai waste to energy berpotensi menjadi sumber energi alternatif di masa depan. Namun, hal ini tetap harus didukung sistem pengelolaan sampah yang baik, termasuk pemilahan sejak dari hulu.
"Selama ini pengelolaan sampah selalu membutuhkan biaya tanpa memberikan keuntungan langsung. Dengan waste to energy, ada nilai tambah karena selain mengolah sampah juga menghasilkan energi," ucapnya.
Pemerintah mempercepat persiapan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi di Provinsi Banten. Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, Banten menjadi salah satu wilayah prioritas dalam penanganan sampah nasional.
"Paling tidak ada dua aglomerasi yang akan dibangun waste to energy, yaitu Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon. Kemudian Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, dan Kabupaten Tangerang pada aglomerasi yang lain," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....