Pengamat Lingkungan: Waste to Energy Perlu Dukungan Pemilahan Sampah

  • 27 Mar 2026 13:44 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pengolahan sampah menjadi energi tetap berjalan tanpa pemilahan maksimal, namun efisiensinya menurun tanpa sistem hulu–hilir yang baik.
  • Surya Dharma menekankan pentingnya edukasi dan mekanisme pemilahan agar sampah tidak tercampur kembali di lapangan.
  • Prabowo Subianto menginstruksikan percepatan program waste to energy di kota besar untuk pengelolaan sampah yang lebih efektif.

RRI.CO.ID, Jakarta - Penerapan teknologi waste to energy (pengolahan sampah) menjadi energi dinilai tetap dapat berjalan meski tanpa pemilahan maksimal dari masyarakat. Namun, efektivitasnya akan menurun jika tidak didukung sistem pengelolaan yang baik dari hulu hingga hilir.

Ketua Indonesia Center for Renewable Energy Studies, Surya Dharma mengatakan bahwa proses insinerasi tetap bisa mengolah sampah campuran. Akan tetapi, tanpa pemilahan sejak awal, kualitas dan efisiensi energi yang dihasilkan menjadi kurang optimal.

"Kalau sekarang karena tidak ada mekanisme dan edukasi secara menyeluruh. Mungkin ketika di hulu kita sudah pilah-pilah, datang pemulung lalu dicampur-campur lagi," katanya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Jumat, 27 Maret 2026.

Ia menegaskan pentingnya pelibatan masyarakat dalam sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh. Menurutnya, edukasi dan mekanisme yang jelas diperlukan agar proses pemilahan tidak sia-sia dan tidak kembali tercampur di lapangan.

Lebih lanjut, ia menilai pengelolaan sampah harus dilakukan secara komprehensif, tidak hanya mengandalkan teknologi waste to energy. Ia mencontohkan praktik di sejumlah negara yang menerapkan sistem pengangkutan sampah terpisah berdasarkan jenis dan jadwal tertentu.

"Misalnya, ada jadwal khusus pengambilan sampah plastik, sampah rumah tangga, hingga logam. Jika tidak sesuai jadwal, sampah tidak akan diangkut," ucapnya.

Dalam sistem tersebut, masyarakat diwajibkan memilah sampah seperti plastik, sampah rumah tangga, dan logam ke dalam kantong berbeda. Pengambilan pun dilakukan sesuai jadwal, sehingga jika tidak sesuai, sampah tidak akan diangkut.

Menurutnya, pola tersebut mendorong kedisiplinan masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas sampah yang masuk ke tahap pengolahan akhir. Dengan demikian, proses di tingkat hilir menjadi lebih efisien dan terkelola dengan baik.

Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan jajaran menteri Kabinet Merah Putih untuk mempercepat implementasi pengelolaan sampah di daerah. Langkah itu adalah bagian dari program waste to energy atau pengolahan sampah menjadi energi.

"Kepala Danantara Bapak Rosan Roeslani melaporkan perkembangan program Waste to Energy (WTE), khususnya di kota-kota besar. Dan padat penduduk seperti Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Bali, dan kota lainnya," ujar Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam keterangan peran yang diterima RRI, Rabu, 25 Maret 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....