Tidur di Mobil Dengan Mesin Menyala, Simak Penjelasan Dokter Bahaya Gas CO
- 26 Mar 2026 14:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Dokter Adam Prabata menjelaskan tidur di dalam mobil dengan mesin menyala sangat berisiko menyebabkan keracunan gas karbon monoksida
- Dokter menjelaskan bahwa gejala awal keracunan karbon monoksida umumnya tidak spesifik dan sulit dikenali secara cepat, gejalanya meliputi sakit kepala, pusing, lemas, mual, kebingungan, hingga rasa mengantuk yang berlebihan
- Karbon monoksida mengganggu pelepasan oksigen ke jaringan sehingga memperparah kondisi tubuh
RRI.CO.ID, Jakarta - Kasus meninggalnya pasangan suami istri di dalam mobil saat perjalanan mudik di Pidie Jaya, Aceh, menjadi peringatan serius. Peristiwa ini diduga kuat berkaitan dengan paparan gas beracun karbon monoksida di dalam kabin mobil yang tertutup.
Dokter Adam Prabata menjelaskan tidur di dalam mobil dengan mesin menyala sangat berisiko menyebabkan keracunan gas karbon monoksida. Kondisi ini semakin berbahaya jika seluruh pintu dan jendela kendaraan tertutup rapat tanpa sirkulasi udara.
“Karbon monoksida (CO) adalah gas tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa, sehingga sangat berbahaya. Orang sering tidak sadar sedang menghirupnya," ujar Adam melalui unggahan di akun X AdamPrabata, Rabu, 25 Maret 2026.
Ia menjelaskan, gejala awal keracunan karbon monoksida umumnya tidak spesifik dan sulit dikenali secara cepat. Gejala tersebut meliputi sakit kepala, pusing, lemas, mual, kebingungan, hingga rasa mengantuk yang berlebihan.
"Gejala awal keracunan CO itu tidak khas, antara lain sakit kepala, pusing, lemas, mual, bingung, atau rasa mengantuk. Bahkan orang yang keracunan CO saat sedang tidur dapat meninggal sebelum sempat merasakan atau mengenali gejalanya,” kata Adam.
Secara medis, gas karbon monoksida akan masuk ke dalam tubuh dan berikatan dengan hemoglobin dalam darah. Ikatan ini, lanjut Adam, membentuk carboxyhemoglobin yang menghambat distribusi oksigen ke seluruh jaringan tubuh.
Ia menegaskan, ikatan karbon monoksida dengan hemoglobin jauh lebih kuat dibandingkan oksigen dalam tubuh manusia. Akibatnya, organ vital seperti otak dan jantung mengalami kekurangan oksigen atau hipoksia.
Kondisi tersebut, disebut Adam, dapat memicu gangguan serius seperti kerusakan sistem saraf hingga gangguan irama jantung. Dalam situasi berat, korban dapat mengalami penurunan kesadaran hingga berujung kematian.
Selain itu, karbon monoksida juga mengganggu pelepasan oksigen ke jaringan sehingga memperparah kondisi tubuh. Proses penggunaan oksigen pada tingkat sel turut terganggu akibat paparan gas tersebut.
“CO juga membuat hemoglobin yang masih membawa oksigen menjadi lebih tidak mau untuk melepas oksigennya ke jaringan. Sehingga pengantaran oksigen makin buruk, dan penggunaan oksigen di tingkat sel terganggu,” ucapnya.
Adam mengimbau masyarakat untuk menghindari kebiasaan tidur di dalam mobil dengan mesin menyala. Ia juga menyarankan agar segera keluar mencari udara segar jika mencurigai adanya paparan gas berbahaya.
“Bila ada kecurigaan paparan CO, tindakan pertama adalah segera keluar ke udara segar. Matikan sumber CO bila aman dilakukan, dan cari pertolongan medis segera,” ucap Adam.
Sebelumnya, sepasang suami istri ditemukan meninggal dunia di dalam mobil di Gampong Keude Lueng Putu, Bandar Baru, Pidie Jaya, Aceh. Informasi awal mengenai peristiwa tersebut beredar melalui akun X @miskintv_, Rabu, 25 Maret 2026.
Kasat Reskrim Polres Pidie Jaya AKP Saiful Kamal mengatakan tidak ditemukan tanda kekerasan pada tubuh korban. “Dugaan sementara korban meninggal akibat menghirup gas karbon monoksida di dalam mobil,” ujar Saiful.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....