Pengamat Sebut Fenomena El Nino 'Godzilla' Jadi Peluang Besar Sektor Perikanan
- 23 Mar 2026 21:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- El Nino Godzilla picu lonjakan stok ikan lewat fenomena upwelling.
- Potensi besar di sektor perikanan dan garam, tapi butuh kesiapan pemerintah.
- Momentum dinilai strategis untuk dorong Indonesia jadi negara maritim kuat.
RRI.CO.ID, Jakarta - Fenomena El Nino 'Godzilla' dinilai membawa peluang besar bagi sektor kelautan Indonesia, terutama dalam peningkatan stok ikan secara signifikan. Namun, pemerintah diminta bergerak cepat agar potensi tersebut tidak terlewat begitu saja.
Pengamat Maritim dari Ikatan Alumni Lemhannas Strategic Center (ISC), Dr. Capt. Mercellus Hangkeng Jayawibawa, menjelaskan fenomena ini memicu proses upwelling atau pengadukan air laut. Kondisi tersebut membuat nutrisi dari dasar laut naik ke permukaan dan memperkaya ekosistem perairan.
“Fenomena El Nino 'Godzilla' ini, akan membuat lautan seperti teraduk. Sehingga membuat ganggang-ganggang atau alga itu tumbuh dengan baik, dan alga-alga inilah yang akan dimakan oleh ikan,” kata Marcellus dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Senin 23 Maret 2026.
Melimpahnya nutrisi akan mendorong pertumbuhan alga yang menjadi sumber makanan ikan. Dampaknya, populasi ikan berpotensi meningkat dan memberikan keuntungan ekonomi bagi nelayan.
“Selain dari potensi kenaikan ikan, panas yang berlebih nantinya juga keuntungan bagi petani-petani garam tentunya. Petani-petani garam akan lebih banyak mengakses garam untuk dikonsumsi oleh masyarakat,” ujarnya.
| Baca juga: Sinyal El Nino Kuat Intai Kemarau |
Namun, Mercellus menyoroti kesiapan pemerintah dalam mengelola lonjakan potensi tersebut, baik dari sisi produksi maupun distribusi. Ia juga mendorong agar program pemerintah seperti makan bergizi gratis dapat mulai mengarah pada konsumsi ikan, mengingat ketersediaannya diprediksi meningkat.
Menurutnya, secara wilayah, perairan yang berpotensi mengalami peningkatan stok ikan meliputi wilayah Pasifik Ekuator ke atas, seperti Jepang dan Filipiana. Indonesia sendiri juga masuk dalam wilayah Ekuator.
“Jadi yang saya lihat itu daerah-daerah Laut Arafuru, lalu Laut Natuna. Kemudian juga lautan-lautan di sekitar Sulawesi itu akan melimpah ikannya,” katanya.
Meski demikian, ia menilai Indonesia masih belum maksimal memanfaatkan fenomena alam serupa di masa lalu. Kurangnya edukasi dan fokus sebagai negara maritim menjadi salah satu penyebab potensi tersebut belum tergarap optimal.
“Pemerintah sudah mulai melakukan pembuatan kampung-kampung nelayan yang memang terfokus untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki. Tapi perlu juga kecepatan dilakukan sehingga kampung-kampung nelayan ini tidak hanya satu waktu, tapi dimanfaatkan secara masif untuk diperlukan atau dibangun,” ucapnya
Di sisi lain, nelayan diimbau tetap memperhatikan keselamatan dengan menghindari jalur pelayaran internasional. Hal ini penting untuk meminimalkan risiko kecelakaan saat aktivitas penangkapan ikan meningkat.
Fenomena ini diperkirakan berlangsung mulai April hingga Oktober dan dampaknya bisa terasa hingga beberapa tahun ke depan. Karena itu, momentum ini dinilai krusial untuk memperkuat sektor kelautan sebagai penopang ketahanan pangan nasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....