Salat Idulfitri di Istiqlal, Pesan Khotbah Tegaskan Harmoni dalam Perbedaan
- 21 Mar 2026 13:11 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- 1. Pelaksanaan Idulfitri di Masjid Istiqlal diikuti ratusan ribu umat Muslim
- 2. Tuhan memberikan keragaman bagi Indonesia sehingga rakyat hidup berdampingan
- 3. Khotib salat Idulfitri di Masjid Istiqlal oleh Prof Noorhadi Hasan
- 4. Perbedaan bukan sebagai alasan untuk saling terpecah belah
RRI.CO.ID, Jakarta- Pelaksanaan salat Idulfitri di Masjid Istiqlal, Jakarta, berlangsung dengan khidmat. Ratusan ribu masyarakat dari Jakarta sekitarnya, memadati masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut.
Rektor UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta Prof Noorhadi Hasan yang menjadi Khotib Idulfitri menyampaikan pesannya. Dalam khotbahnya, Prof Noorhadi mengatakan perbedaan bukan merupakan alasan untuk saling terpecah belah.
Prof Noorhadi mengatakan pendiri bangsa telah merumuskan dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. Semboyan tersebut memiliki visi mendalam bahwa dengan perbedaan agar saling mengenal satu sama lain.
“Ini bukan hanya slogan tapi memiliki visi mendalam. Bahwa perbedaan bukan alasan terpecah belah tapi dasar saling mengenal, saling belajar dan melengkapi,”kata Prof Noorhadi, dalam khotbahnya, Sabtu, 21 Maret 2026.
Noorhadi mengatakan Indonesia dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa berbagai keragaman baik suku, bangsa dan budaya. Rakyat Indonesia dapat hidup berdampingan secara damai dan harmonis dalam satu tanah air Indonesia yang membentang dari Sabang hingga Merauke.
“Kita menyaksikan kehidupan mozaik yang kaya. Keragaman membentuk identitas bangsa Indonesia,”ujarnya.
Adapun dalam perspektif keagamaan, perbedaan suku dan budaya membuka ruang bagi manusia. Ruang untuk saling mengenal, membangun empati, memperluas kebangsaan dan kemanusiaan.
“Merawat keberagaman bukan sekedar kewajiban sosial. Tapi tanggung jawab moral spiritual kita sebagai umat beriman,”ujarnya.
Prof Noorhadi juga mengingatkan umat Islam untuk menghadirkan kemaslahatan dan kebaikan untuk bangsa dan negara. Menurutnya agama tidak boleh sebatas spiritual.
"Kita hidupkan dalam sendi kehidupan sumber nilai yang mendorong terciptanya perdamaian, persaudaraan. Terciptanya solidaritas dan kepedulian terhadap sesama sehingga berkontribusi nyata bagi pembangunan dan peradaban kita,"ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....