Laporan "Asal Bapak Senang" Membudaya, Presiden Minta Sampaikan Laporan Jujur
- 20 Mar 2026 14:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Presiden Prabowo Subianto menilai masih kuatnya budaya “Asal Bapak Senang” (ABS) dalam birokrasi memicu munculnya laporan tidak akurat
- Presiden Prabowo juga mengungkapkan dirinya aktif memantau berbagai kritik di ruang publik
- Presiden Prabowo kerap menguji kebenaran laporan yang diterima, tidak ingin hanya menerima informasi yang menyenangkan tanpa verifikasi mendalam
RRI.CO.ID, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menilai masih maraknya budaya “Asal Bapak Senang” (ABS) dalam birokrasi memicu munculnya laporan tidak akurat. Kepala Negara menegaskan kondisi tersebut menjadi tantangan serius dalam pengambilan keputusan pemerintah.
“Budaya ABS ini, asal bapak senang, asal ibu senang, laporan palsu ini, sudah membudaya. Saya kira di semua institusi, ini bagian dari masalah kami,” ujar Presiden Prabowo dalam video sesi tanya jawab dengan jurnalis di Hambalang, Bogor, yang tayang Kamis, 19 Maret 2026.
Menurut Presiden, informasi yang tidak akurat akan berdampak langsung pada kualitas kebijakan. Untuk itu, Presiden menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap setiap laporan yang diterima.
“Kalau salah informasi, ya keputusan tidak baik. Ini yang jadi masalahnya,” kata Presiden.
Presiden Prabowo juga mengungkapkan dirinya aktif memantau berbagai kritik di ruang publik. Bahkan, ia tidak segan menyimak konten yang bersifat tajam dan menyakitkan sebagai bahan evaluasi.
“Benar, saya suka monitor, postingan, podcast. Yg menyakitkan pun saya nonton,” ucap Presiden.
Presiden menilai bahwa kritik, meskipun disampaikan dengan cara yang kurang baik, tetap memiliki nilai untuk meningkatkan kewaspadaan. Hal itu justru membuatnya lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.
“Karena saya anggap walaupun dia nyerang begitu dengan cara yang tidak baik, kadang-kadang saya ambil kesimpulan. Dia motivasinya hanya dendam saja, tidak apa-apa, ini justru membuat saya lebih waspada,” ujar Presiden.
Kepala Negara mengaku kerap menguji kebenaran laporan yang diterima. Ia tidak ingin hanya menerima informasi yang menyenangkan tanpa verifikasi mendalam.
“Karena itu di Danantara, laporan pertama, pak satu tahun hasilnya bagus, begini-begini-begini. Saya kejar dia, ini laporan benar nggak?” ucap Presiden.
Presiden menegaskan pentingnya sikap terbuka terhadap kritik dan kondisi yang tidak nyaman. Menurut Presiden, seorang pemimpin harus siap menghadapi tekanan dan tantangan.
“Kita harus realitas Pak, dan kita harus siap terima tidak baik, kita harus siap dimaki-maki. Kita harus siap dicurigai, nggak apa-apa,” kata Presiden.
Kepemimpinan yang kuat, kata Presiden, justru ditentukan dari keberanian menghadapi persoalan. Presiden menilai setiap masalah harus dihadapi secara langsung untuk segera diselesaikan.
“Saya belajar banyak, seorang pemimpin yang baik tidak boleh takut menghadapi kesulitan. Kalau pemimpin yang unggul, lihat kesulitan, harus dikejar kesulitan itu, rush to the problem, solve the problem,” ujar Presiden.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....