Begini Nasib 43 Ribu Jemaah Umrah di Arab di tengah Perang
- 11 Mar 2026 15:04 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Haji RI, Dahnil Anzar Simanjutak menyebut ada 43.000 WNI yang tengah melaksanakan ibadah umrah di Arab Saudi. Pihaknya belum memastikan apakah ada jemaah yang terjebak dan tidak bisa pulang ke Tanah Air karena terganggunya penerbangan imbas perang Iran dengan Amerika Serikat-Israel.
"Sekarang jemaah umrah disana ada sekitar 43.000, bukan yang terjebak ya, sedang melaksanakan umrah ada sekitar 43.000, ini data terakhirnya. Yang sempat terjebak itu saya tidak tau persis datanya belum ada update," kata Danhil kepada wartawan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 10 Maret 2026.
Wamen Dahnil menyatakan sebelumnya ada 2.000 jemaah umrah yang sempat terdampar akibat terganggunya penerbangan. Mereka tidak bisa pulang karena menggunakan penerbangan tidak langsung ke Indonesia alias transit.
"Terakhir kan sudah kembali karena ada stranded kan terdampar, itu ada sekitar dua ribuan yang berangkat. Tadinya rata-rata yang ter-stranded atau tergagal pulang itu rata-rata karena pesawatnya transit, kalau ada pesawat direct itu biasanya bisa langsung," ujarnya.
Ia mengatakan penerbangan yang tidak langsung atau transit, berdampak kepada tingginya harga tiket pesawat. Akibatnya para jemaah harus tinggal sementara di luar negeri sambil mencari tiket pesawat yang lebih murah.
"Transit kemudian harga tiketnya mahal. Akhirnya mereka terpaksa banyak yang terhenti sementara di sana untuk mencari tiket yang bisa dijangkau," kata politisi Partai Gerindra tersebut.
Dahlil menyebut jumlah masyarakat yang umrah semakin berkurang pasca pecahnya perang Iran dengan Amerika Serikat. Pemerintah telah mengeluarkan imbaun agar masyarakat menunda untuk melakukan perjalanan umrah.
"Data kami memang ada penurunan yang berangkat karena mempertimbangkan keselamatan dan dinamika konflik itu tadi. Kami menyarankan mengimbau untuk menunda keberangkatan, karena kan orientasi negara tentu adalah keselamatan warga negara, karena kan apapun bisa terjadi," ujarnya.
"Kita tidak tahu eskalasi konflik di Timur Tengah seperti apa, karena dinamikanya sangat dinamis dan setiap saat mengalami perubahan. Oleh sebab itu untuk memitigasi kita menyampaikan imbaua menunda."
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....