BMKG Ingatkan Pentingnya Langkah Antisipasi Musim Kemarau 2026
- 04 Mar 2026 16:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menekankan pentingnya langkah antisipasi musim kemarau 2026. Utamanya bagi kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga seluruh lapisan masyarakat.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, hal itu untuk mengantisipasi berbagai risiko yang mungkin terjadi sepanjang musim kemarau 2026. Di sektor pangan misalnya, para petani perlu segera menyesuaikan jadwal tanam.
Dalam hal ini dengan memilih varietas yang lebih hemat air, tahan kekeringan, serta memiliki siklus panen yang lebih singkat. “Langkah ini harus dibarengi dengan penguatan sektor sumber daya air melalui revitalisasi waduk,” kata Faisal dalam Konferensi Pers Prakiraan Awal Musim Kemarau 2026 di Gedung Multi-Hazard Early Warning System Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.
Selain itu perbaikan jaringan distribusi demi menjamin ketersediaan air bersih bagi kebutuhan domestik maupun operasional PLTA di sektor energi. Selain manajemen air, kewaspadaan terhadap dampak lingkungan juga menjadi prioritas utama.
Pemerintah daerah perlu menyiapkan mekanisme respons cepat untuk menghadapi penurunan kualitas udara. Sekaligus, meningkatkan kesiapsiagaan di sektor kehutanan guna mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini (Early Warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (Early Action). Dalam hal ini oleh para pemangku kepentingan demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia,” katanya, menekankan.
BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau tahun 2026 lebih awal dibandingkan rerata klimatologinya. Kondisi ini dipicu berakhirnya fenomena La Niña Lemah pada Februari 2026, yang kini telah bergeser ke fase Netral dan berpotensi menuju El Niño pada pertengahan tahun.
Pemantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan nilai indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28 (Netral) dan diprediksi bertahan hingga Juni 2026. Namun, mulai pertengahan tahun peluang munculnya El Niño kategori Lemah-Moderat sebesar 50-60 persen pada semester kedua tahun ini perlu menjadi perhatian.
“Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap stabil pada fase Netral sepanjang tahun. Peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi Angin Timuran (Monsun Australia) menjadi penanda dimulainya musim kemarau," ujarnya.
BMKG mencatat sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau 16,3 persen wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Mencakup pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, NTB, NTT, serta sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi.
Sementara, 184 ZOM (26,3 persen) menyusul masuk musim kemarau pada Mei 2026, dan 163 ZOM (23,3 persen) pada Juni 2026. Berdasarkan data tersebut, awal kemarau di 325 ZOM (46,5 persen) diprediksi MAJU dari biasanya, SAMA 173 ZOM (24,7 persen), dan MUNDUR 72 ZOM (10,3 persen).
“Wilayah yang diprediksi mengalami awal kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara. Kemudian, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua,” ujarnya.
Berdasarkan hasil analisis BMKG, puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada Agustus 2026. Di mana mencakup 429 ZOM atau sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia.
Wilayah lain akan mengalami puncak kemarau pada Juli (12,6 persen) dan September (14,3 persen). Wilayah yang memasuki puncak musim kemarau pada Juli, meliputi sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan bagian tengah dan utara, sebagian kecil Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga wilayah barat Pulau Papua.
Memasuki Agustus, cakupan wilayah yang mengalami puncak kemarau semakin meluas secara signifikan. Kondisi kering ini akan mendominasi wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, seluruh wilayah Bali dan Nusa Tenggara, serta sebagian Maluku dan Pulau Papua.
Pada periode September, puncak musim kemarau masih dialami di sebagian Lampung, sebagian kecil Jawa, dan sebagian besar NTT. Puncaknya akan dirasakan di wilayah Sulawesi bagian utara dan timur, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, serta sebagian kecil Pulau Papua.
BMKG memproyeksikan sifat musim kemarau 2026 secara umum akan bersifat Bawah Normal atau lebih kering dari biasanya di 451 ZOM (64,5 persen) dan Normal di 245 ZOM (35,1 persen). Sebaliknya, hanya terdapat 3 ZOM (0,4 persen) di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang berpotensi mengalami kemarau Atas Normal atau lebih basah. (rel)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....