Strategi Pemerintah Jaga Stabilitas Energi usai Penutupan Selat Hormuz

  • 03 Mar 2026 22:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan Selat Hormuz ditutup akibat dinamika perang Israel, Amerika, dan Iran. Penutupan tersebut berdampak tidak hanya pada konflik, tetapi juga mempengaruhi energi global secara luas.

“Ini dampaknya tidak hanya pada dampak perang tapi juga berdampak pada energi global. Kita tahu bahwa di selat Hormuz itu melewati kurang lebih sekitar 20,1 juta barel per day (hari),” ujarnya di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.

Ia menjelaskan sekitar 20,1 juta barel per hari pasokan global melewati Selat Hormuz. Jumlah tersebut merupakan bagian penting dari suplai minyak dunia yang terdampak situasi terkini.

Bahlil mengungkapkan Indonesia turut mengimpor minyak dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz. Namun, ia menyatakan setelah dilakukan pendetailan, impor dari kawasan tersebut hanya sekitar 20 hingga 25 persen.

Selebihnya, Bahlil menyebut Indonesia mengambil pasokan dari Afrika seperti Angola, Amerika, serta Brasil dan negara lainnya. Dengan demikian, secara keseluruhan ketergantungan Indonesia melalui Selat Hormuz hanya sekitar 20 hingga 25 persen.

“Jadi secara keseluruhan improved kita untuk crude 20-25% dari selat Hormuz. Selebihnya tidak dari sana,” katanya.

Ia menegaskan ketegangan tersebut tidak dapat diramalkan kapan akan berakhir, bisa cepat ataupun lambat. Untuk mengantisipasi skenario terburuk, pemerintah mengalihkan sebagian impor dari Timur Tengah ke Amerika demi memastikan ketersediaan pasokan.

“Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude yang kita ambil dari Middle East, sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika. Supaya ada kepastian ketersediaan crude kita,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....