Zulhas Jelaskan Impor 1000 Ton Beras AS Bukan untuk Konsumsi Umum Masyarakat

  • 03 Mar 2026 09:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menjelaskan rencana impor 1.000 ton beras dari Amerika Serikat (AS). Ia mengatakan beras yang diimpor bukan beras konsumsi umum masyarakat.

Komoditas itu masuk dalam kategori beras khusus dengan segmen pasar tertentu. Kebijakan impor tersebut, kata Zulhas, juga merupakan bagian dari kesepakatan dagang antara Indonesia dan AS.

“Seribu ton itu bagian dari perjanjian mengenai beras khusus. Bukan beras untuk makanan pokok masyarakat kita,” ujar Zulhas di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 2 Maret 2026.

Ia mengatakan beras khusus mencakup jenis tertentu seperti beras Jepang dan basmati. Ada pula beras dengan karakteristik khusus untuk kebutuhan kesehatan.

Zulhas mencontohkan Indonesia juga selama ini mengimpor beras Jepang untuk restoran tertentu. Harga beras tersebut bisa mencapai sekitar Rp100 ribu per kilogram karena kualitas dan peruntukannya yang spesifik.

Impor beras khusus, kata dia, tetap disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Pengadaan dilakukan untuk memenuhi permintaan sektor tertentu seperti restoran internasional.

Dalam kesempatan itu, Zulhas juga mengungkapkan pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto. Pertemuan membahas stabilitas pasokan dan harga pangan menjelang Ramadan dan Lebaran.

Ia mengaku mendapat arahan langsung untuk memastikan ketersediaan bahan pokok di lapangan. Pemerintah ingin harga tetap terkendali selama periode hari besar keagamaan.

“Saya diminta memastikan pangan, termasuk program MBG dan koperasi desa, berjalan baik. Sembako saat puasa dan Lebaran harus tersedia dan terjangkau,” kata Zulhas.

Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanesto menyebut realisasi impor bergantung pada permintaan dalam negeri. Pemerintah menyetujui alokasi impor beras khusus asal AS, namun volumenya relatif kecil.

"Pemerintah setuju memberikan alokasi impor untuk beras klasifikasi khusus asal AS. Namun tetap realisasinya tergantung permintaan dalam negeri," kata Haryo dalam keterangan tertulis, Minggu, 22 Februari 2026.

Ia mengeklaim jumlah 1.000 ton tersebut tidak signifikan dibandingkan produksi nasional. Produksi beras Indonesia pada 2025 tercatat mencapai 34,69 juta ton, sehingga porsi impor itu sangat kecil.

Selain beras khusus, Indonesia juga menyetujui impor 580.000 ekor ayam dari AS dalam kerangka perjanjian resiprokal. Pemerintah memastikan kebijakan tersebut tetap memperhatikan kepentingan produksi dan kebutuhan domestik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....