Mengulas Sejarah Hari Jadi Kota Parepare

  • 17 Feb 2026 09:13 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta – Hari jadi Kota Parepare ditetapkan berdasarkan momentum pelantikan Wali Kotamadya pertamanya pada 17 Februari 1960. Ketetapan tersebut kemudian ditegaskan melalui Surat Keputusan DPRD Nomor 3 Tahun 1970 sebagai dasar peringatan resmi setiap tahunnya.

Melansir laman resmi Pemerintah Kota Parepare, pada awal perkembangannya wilayah ini berupa perbukitan liar yang dipenuhi semak belukar. Lubang-lubang tanah miring tersebar tidak beraturan dari kawasan Cappa Ujung hingga ke bagian selatan kota.

Seiring berjalannya proses sejarah yang cukup panjang dan dinamis, kawasan tersebut perlahan berkembang menjadi pusat permukiman. Dari dinamika itulah kemudian lahir penamaan Kota Parepare yang dikenal luas hingga sekarang.

Dalam Lontara Kerajaan Suppa disebutkan, sekitar abad XIV seorang anak Raja Suppa meninggalkan istana kerajaan. Ia kemudian memilih menetap di wilayah pesisir selatan dan mendirikan kawasan baru karena kegemarannya memancing.

Wilayah pesisir tersebut selanjutnya berkembang menjadi Kerajaan Soreang yang cukup berpengaruh pada masanya. Tidak lama kemudian, sekitar abad XV, berdiri pula Kerajaan Bacukiki yang memperkaya jejak sejarah kawasan itu.

Sebagian kalangan menengarai nama Parepare berkaitan erat dengan kisah kunjungan Raja Gowa XI. Manrigau Dg. Bonto Karaeng Tunipallangga yang memerintah pada 1547–1566 disebut pernah melintasi wilayah ini.

Dalam kunjungan persahabatan dari Bacukiki menuju Soreang, ia terpukau dengan hamparan wilayah yang dinilai sangat strategis. Secara spontan ia menyebut “Bajiki Ni Pare” yang berarti pelabuhan di kawasan ini dibuat dengan baik.

Sejak penyebutan tersebut, Parepare semakin ramai disinggahi para pedagang, termasuk orang-orang Melayu dari kawasan Suppa. Letaknya yang terlindungi oleh tanjung menjadikannya pelabuhan alami yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Secara etimologis, kata Parepare juga memiliki makna dalam bahasa Bugis sebagai kain penghias dalam acara pernikahan. Istilah itu tercatat dalam karya sastra lontara La Galigo yang disusun Arung Pancana Toa Naskah NBG 188.

Naskah tersebut terdiri atas 12 jilid dengan total 2.851 halaman yang memuat berbagai istilah penting. Kata Parepare tercantum pada jilid dua halaman 62 baris 30 dengan bunyi “pura makkenna linro langkana PAREPARE”.

Ungkapan itu bermakna kain penghias depan istana sudah terpasang sebagai simbol kemeriahan acara. Makna tersebut memperlihatkan bahwa istilah Parepare telah lama hidup dalam tradisi budaya Bugis.

Melihat posisinya yang strategis sebagai pelabuhan yang terlindungi tanjung, Belanda kemudian merebut kawasan ini. Parepare selanjutnya dijadikan kota penting di wilayah bagian tengah Sulawesi Selatan.

Dari kota inilah Belanda bermarkas dan secara bertahap memperluas pengaruhnya ke wilayah timur serta utara Sulawesi Selatan. Kawasan Ajatappareng pada masa itu berpusat secara administratif di Parepare.

Pada zaman Hindia Belanda, Parepare berstatus sebagai Afdeling Parepare yang mencakup lima Onder Afdeling. Wilayah tersebut meliputi Barru, Sidenreng Rappang, Enrekang, Pinrang, dan Parepare sendiri.

Di setiap Onder Afdeling berkedudukan seorang Controlur atau Gezag Hebber sebagai pimpinan pemerintahan kolonial. Struktur tersebut juga dibantu aparat raja-raja Bugis seperti Arung Barru dan Addatuang Sidenreng.

Struktur pemerintahan kolonial tersebut berjalan hingga pecahnya Perang Dunia II sekitar tahun 1942. Setelah Indonesia merdeka pada 1945, struktur pemerintahan kemudian disesuaikan dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1945 tentang Komite Nasional Indonesia.

Selanjutnya melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1948, struktur pemerintahan kembali mengalami penyesuaian signifikan. Di daerah hanya terdapat Kepala Daerah atau Kepala Pemerintahan Negeri tanpa lagi jabatan Asisten Residen.

Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959, empat Onder Afdeling berubah menjadi Kabupaten Tingkat II. Sementara Parepare berstatus Kota Praja Tingkat II Parepare yang kemudian berubah menjadi Kotamadya.

Setelah berbagai perubahan nomenklatur tersebut, status Kotamadya akhirnya berganti menjadi Kota hingga sekarang. Berdasarkan pelantikan H. Andi Mannaungi pada 17 Februari 1960, tanggal itu resmi ditetapkan sebagai hari jadi Kota Parepare.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....