Luhut: Target Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Harus Capai Delapan Persen

  • 13 Feb 2026 15:02 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan target pertumbuhan ekonomi nasional harus melampaui angka enam persen. Luhut menyatakan bahwa pencapaian ekonomi saat ini sebesar lima persen belum dapat dikategorikan sebagai sebuah prestasi besar.

Indonesia perlu mengejar pertumbuhan tinggi guna menghindari jebakan pendapatan menengah sebelum bonus demografi berakhir pada 2042. Peningkatan angka pertumbuhan tersebut harus dipertahankan secara konsisten selama dua dekade mendatang demi menjadi negara maju.

“Jadi kalau 5 persen menurut saya bukan prestasi atau sampai 6 persen tidak prestasi. Kami bermimpi 8-9 persen dalam beberapa tahun ke depan," ujar Luhut di Jakarta, Jumat, 13 Februari 2026.

Luhut menyadari sepenuhnya bahwa masa keemasan struktur penduduk usia produktif Indonesia memiliki batas waktu yang sangat terbatas. Kesadaran kolektif mengenai sisa waktu bonus demografi menjadi sangat penting dalam menentukan arah kebijakan ekonomi strategis nasional.

Otoritas terkait harus memberikan perhatian ekstra terhadap garis waktu pembangunan agar tidak terjebak dalam status negara berkembang. Kecepatan dalam mengakselerasi pertumbuhan menjadi kunci utama sebelum memasuki periode tahun 2041 mendatang.

“Kita mau 6-7 persen, 8-9 persen sebenarnya, tapi ingat demografi bonus kita habis tahun 2041-2042. Kalau itu habis, we are gone, kita sudah pasti di middle income trap," kata Luhut.

Investasi luar negeri memegang peran sangat vital karena kontribusi anggaran negara terhadap pertumbuhan hanya sekitar 16 persen. Sisa kebutuhan dorongan ekonomi nasional harus dipenuhi melalui masuknya aliran modal dari para investor sektor swasta.

Pemerintah berkomitmen untuk memberikan kemudahan bagi para penanam modal melalui layanan penyambutan yang sangat luar biasa baik. Hal tersebut bertujuan guna memacu penciptaan lapangan kerja baru secara masif bagi seluruh rakyat Indonesia di masa depan.

“Investasi harus kita tambah, karena APBN hanya 15-16 persen terhadap pertumbuhan ekonomi dampaknya. Sisanya 86 persen atau berapa persen itu tadi dari investasi, jadi investor harus kita terima dengan karpet merah," ucap Luhut.

Reformasi sektor pasar modal menjadi langkah awal yang sangat krusial guna meningkatkan kepercayaan para pemilik modal asing. Pasar modal yang transparan dan akuntabel akan menjadi indikator positif bagi iklim investasi Indonesia di mata dunia.

Indonesia mencontoh keberhasilan India dalam melakukan restrukturisasi pasar modal yang mampu menarik investasi hingga sembilan kali lipat. Perbaikan sistem secara menyeluruh diharapkan mampu memberikan dampak serupa bagi penguatan struktur permodalan di dalam negeri saat ini.

“Kita belajar dari India bagaimana pasar modal di-reform, di-restructuring. Hal itu mempunyai dampak sembilan kali investasi yang masuk ke India," ujar Luhut.

Kondisi geopolitik global saat ini memang penuh ketidakpastian namun fondasi ekonomi Indonesia dinilai tetap berada pada posisi solid. Luhut sangat optimis bahwa angka pertumbuhan sebesar 5,5 persen merupakan target yang sangat mudah untuk direalisasikan.

Negara harus segera melakukan lompatan besar untuk mencapai target delapan hingga sembilan persen sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Keberhasilan transformasi ekonomi ini akan menentukan posisi Indonesia dalam peta kekuatan ekonomi global pada masa yang akan datang.

“Ini kalau kita lihat ketidakpastian global bermasalah, tapi Indonesia semakin solid, pertumbuhan ekonomi tadi buat saya kalau 5,5 persen tuh ya mudah lah itu. Tapi kita harus lebih dari itu," kata Luhut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....