Kembali Ingatkan Pentingnya Kerukunan Pemimpin, Presiden: Mutlak

  • 09 Feb 2026 07:21 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Malang - Presiden Prabowo Subianto untuk kesekian kali mengingatkan pentingnya kerukunan para pemimpin dalam menjaga persatuan bangsa. Pesan itu disampaikan dengan penuh semangat dalam pidato Mujahadah Kubro Satu Abad Nahdlatul Ulama, di Malang, Jawa Timur, Minggu, 8 Februari 2026.

Presiden menegaskan, persatuan pemimpin mutlak menjadi syarat utama kemajuan bangsa. Ia mengingatkan, tidak ada bangsa yang kuat jika para pemimpinnya tidak prukun.

Presiden menilai, perbedaan pandangan merupakan hal wajar dalam sistem demokrasi. Namun, para pemimpin diminta tetap mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa.

“Boleh kita bertanding, boleh kita bersaing, boleh kita berdebat. Tapi di ujungnya semua pemimpin Indonesia harus rukun, harus menjaga persatuan dan kesatuan," ucapnya.

Baca Juga: Presiden Puji Toleransi Gereja dan NU di Malang

Menurut Presiden, persatuan adalah kekuatan utama yang harus terus dijaga dalam kehidupan bernegara. Sejarah menunjukkan bangsa ini hanya bisa bertahan jika para pemimpinnya rukun.

Dalam konteks sejarah, Presiden mengingatkan, meski Proklamasi Kemerdekaan dibacakan di Jakarta, ujian sesungguhnya terjadi di Jawa Timur. Ia menekankan, pertempuran Surabaya menjadi bukti tekad bangsa mempertahankan kemerdekaan.

Dalam peristiwa itu, Presiden menuturkan, bangsa Indonesia mampu menghadapi kekuatan besar dunia. Perlawanan rakyat Jawa Timur dan Surabaya disebutnya menjadi tonggak penting sejarah nasional.

“Dalam pertempuran itu bangsa indonesia berhasil mempertahankan kemerdekaan kita melawan negara-negara besar di dunia. Kita berhasil menghadapi inggris pemenang perang dunia kedua," ucap Presiden.

Presiden juga menekankan, peran ulama dalam memimpin perlawanan rakyat saat itu. Perjuangan tersebut menegaskan bangsa Indonesia menolak kembali dijajah oleh kekuatan asing.

“Rakyat Jawa Timur, rakyat Surabaya, dipimpin oleh para ulama, kita telah membuktikan. Bangsa Indonesia ini tidak mau tunduk lagi kepada siapapun yang ingin menjajah bangsa kita," ucapnya.

Sisi lain, Presiden kemudian menegaskan, Nahdlatul Ulama telah membuktikan perannya sebagai pilar kebesaran bangsa Indonesia. NU diakui selalu tampil menyelamatkan negara setiap kali berada dalam situasi berbahaya.

“Seratus tahun kiprah pengabdian, NU telah membuktikan sungguh-sungguh adalah pilar kebesaran bangsa Indonesia. Setiap kali negara dalam keadaan bahaya, NU tampil untuk menyelamatkan," ujarnya.

Presiden menilai, NU konsisten memberi teladan dalam menjaga persatuan nasional sepanjang sejarah Indonesia.

Sikap tersebut disebut selaras dengan pelajaran penting dari perjalanan bangsa.

“NU selalu memberi contoh. NU selalu berusaha untuk menjaga persatuan, dan memang itulah pelajaran sejarah," kata Presiden.

Sejalan dengan pesan Presiden, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz, menegaskan, pentingnya persaudaraan.

Menurutnya, Mujahadah Kubro dimaknai sebagai ajang mempererat persatuan untuk menjaga keutuhan NKRI.

Gus Kikin, sapaan akrabnya, menyampaikan hal itu dalam pidato sambutan di Stadion Gajayana, Kota Malang. Ia menegaskan, semangat persatuan merupakan warisan pendiri NU, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari, sejak 100 tahun lalu.

Nilai tersebut terus dijaga sebagai fondasi utama gerakan NU dalam kehidupan kebangsaan. “Kesatuan dan persaudaraan sebagai warga NU menjadi bagian dari ikhtiar menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Gus Kikin dalam pidatonya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....