DPR: Pemerintah Harus Perkuat Mitigasi Cegah Bencana Longsor
- 04 Feb 2026 18:31 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta — Komisi VIII DPR RI menyoroti bencana yang terjadi di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, sebagai bentuk kegagalan ekologis. Menurutnya ini di akibatkan kesalahan pembangunan dan lemahnya pengelolaan tata ruang oleh pemerintah.
Hal tersebut dikatakan langsung Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina saat ditemui di Jakarta. Ia menyampaikan keprihatinan mendalam atas berbagai bencana yang terjadi di Indonesia, termasuk peristiwa di Cisarua.
Menurutnya, bencana di Cisarua merupakan bentuk kegagalan ekologis yang seharusnya bisa dideteksi sejak dini. Ia mengingatkan bahwa wilayah Bandung Barat berada pada jalur rawan, salah satunya alur Sesar Lembang.
“Kabupaten Bandung Barat itu jelas salah satu wilayah rawan. Tetapi ruang yang diberlakukan oleh pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah masih membiarkan masyarakat tinggal di sekitar jalur Sesar Lembang,” kata Selly, kepada rri.co.id.
Selain itu, ia juga menyoroti keberadaan permukiman di wilayah lereng dengan tingkat kecuraman di atas 45 derajat yang seharusnya sudah dilarang untuk hunian. Menurutnya, aturan tata ruang semestinya dipatuhi secara konsisten oleh pemerintah daerah maupun kementerian dan lembaga terkait.
“Kalau bicara tata ruang, itu harus dipatuhi oleh semua instrumen negara. Tidak bisa hanya jadi dokumen, tapi diabaikan dalam praktik,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengungkapkan adanya masukan dari mitra Komisi VIII, termasuk Kementerian Sosial dan BNPB. Yakni terkait keterbatasan anggaran kebencanaan.
Disebutkan bahwa pada anggaran tahun 2025 dan 2026, kedua lembaga tersebut mengalami efisiensi anggaran. Sementara kebutuhan penanganan bencana justru semakin meningkat.
“Selain anggaran kedaruratan, yang tidak kalah penting adalah anggaran preventif untuk mitigasi dan antisipasi bencana. Karena ini sering kali justru terabaikan,” ujarnya.
Ia menekankan, pemerintah pusat dan daerah seharusnya memberikan peringatan dini (early warning) kepada masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana. Terutama di daerah yang sudah masuk kategori zona merah.
Sementara, Basarnas bersama tim SAR gabungan kembali melanjutkan Operasi SAR terhadap korban terdampak bencana longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat. Hari ini merupakan hari ke-12 pelaksanaan operasi SAR.
"Pola pencarian pada hari ke-12 relatif tidak mengalami perubahan signifikan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Dengan tetap menggunakan pembagian sektor yang sama," kata Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo.
Bramantyo mengatakan, hari ini terdapat pergeseran penggunaan alat berat dari sektor A1 ke A2 karena terjadi penebalan lumpur yang semakin tinggi. Sehingga diperlukan dukungan alat berat untuk membantu proses pencarian.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....