Indonesia–Belanda Perkuat Diplomasi Budaya dan Perfilman
- 31 Jan 2026 17:01 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menegaskan komitmen Indonesia dalam memperkuat kerja sama kebudayaan, perfilman, arsip sejarah, serta pengelolaan warisan budaya dengan Kerajaan Belanda. Komitmen tersebut dibahas bersama Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Kerajaan Belanda, Gouke Moes, dalam pertemuan bilateral di sela International Film Festival Rotterdam (IFFR).
Menurut Fadli Zon, kerja sama arsip sejarah dan budaya menjadi salah satu fokus utama. Khususnya pemanfaatan arsip Belanda yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah dan kebudayaan Indonesia.
“Pentingnya kerja sama di bidang arsip sejarah dan budaya. Khususnya pemanfaatan arsip Belanda yang berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan Indonesia,” kata Fadli Zon dalam keterangannya, Sabtu (31/1/2026).
Pemerintah Belanda menyambut baik inisiatif tersebut karena dinilai mengedepankan pendekatan yang etis, inklusif, dan saling menghormati antarnegara. Kerja sama ini diharapkan melibatkan sejumlah institusi penting, seperti Eye Film Museum dan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV).
Dalam kesempatan itu, Fadli Zon juga mengapresiasi perhatian IFFR terhadap perfilman Indonesia yang dinilai semakin mendapat ruang di kancah internasional. Ia pun mengusulkan penyelenggaraan program khusus bertajuk “Indonesia Focus” atau “Indonesia Spotlight” pada edisi IFFR mendatang sebagai platform pertukaran budaya melalui sinema.
Di bidang perfilman dan audiovisual, kedua negara sepakat menindaklanjuti Perjanjian Kerja Sama Ko-produksi Audiovisual Indonesia–Belanda yang telah ditandatangani pada 4 Desember 2024. Saat ini, proses ratifikasi perjanjian tersebut tengah berjalan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga terkait di Indonesia.
Pengembangan talenta perfilman lintas negara juga diperkuat melalui program SAMASAMA Lab sebagai inisiatif ko-kreasi bersama. Program ini melibatkan Netherlands Film Fund (NFF), Manajemen Talenta Nasional Kementerian Kebudayaan RI, serta Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI).
“Program ini dirancang untuk membangun ekosistem kreatif lintas negara yang berkelanjutan melalui pengembangan proyek, pertukaran pengetahuan, dan jejaring profesional,” ujar Fadli Zon. Inisiatif tersebut diharapkan mampu memperkuat kapasitas pelaku industri kreatif kedua negara.
Selain kerja sama perfilman, Fadli Zon juga mengusulkan percepatan repatriasi 37 objek Warisan Budaya Bersifat Kebendaan (WBBK) yang telah memperoleh rekomendasi pengembalian dari Colonial Collection Committee (CCC). Usulan ini dinilai sebagai langkah penting dalam pemulihan sejarah dan keadilan budaya Indonesia.
Ia secara khusus mengusulkan pengembalian karya dan peninggalan pelukis legendaris Raden Saleh yang saat ini berada di Museum Naturalis, Belanda. "Kami mengusulkan repatriasi koleksi karya dan peninggalan Raden Saleh sebagai bagian dari upaya pemulihan sejarah seni dan identitas budaya Indonesia,” katanya.
Dalam pertemuan tersebut, Fadli Zon juga meminta dukungan Kerajaan Belanda terhadap pencalonan Indonesia sebagai Anggota Komite Antar-Pemerintah UNESCO yang akan berlangsung pada Juni mendatang. Dukungan ini dinilai strategis untuk memperkuat peran Indonesia dalam diplomasi kebudayaan global.
Pertemuan bilateral ini menegaskan komitmen Indonesia dan Belanda untuk membangun hubungan budaya yang setara dan kolaboratif. Kebudayaan diposisikan sebagai jembatan dialog, keadilan sejarah, serta kerja sama internasional yang berorientasi ke masa depan dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....