Kepala BMKG Prediksi Swasembada Pangan Optimal April 2026
- 28 Jan 2026 16:29 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menyatakan produktivitas swasembada pangan nasional akan mencapai hasil optimal mulai April. Faisal menilai pelemahan fenomena La Nina menjadi faktor utama penentu keberhasilan panen raya tahun ini.
Faisal menjelaskan bahwa intensitas La Nina kategori lemah tidak akan berubah menjadi status kuat dalam waktu dekat. Fenomena alam tersebut terpantau secara konsisten melalui pemantauan suhu di perairan Pasifik saat ini.
“Kalau berdasarkan pengalaman panjang itu tidak demikian. Karena La Nina lemah itu kan dipantau dari Nino 3.4 yang ada di perairan Pasifik,” ucap Faisal di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu, 28 Januari 2026.
Faisal memprediksi kondisi iklim Indonesia akan segera memasuki fase normal pada bulan keempat tahun ini. Status netral tersebut diprakirakan bertahan tanpa pengaruh gangguan El Nino maupun La Nina hingga akhir tahun.
“Nah ini, La Nina ini nanti akan terus melemah hingga sampai dengan bulan Maret, ini berdasarkan dari perkiraan iklimnya. Lalu nanti pada bulan April hingga akhir tahun, itu cenderung dalam kondisi normal, tidak ada El Nino, tidak ada La Nina, jadi normal,” kata Faisal.
Faisal berharap stabilitas cuaca dapat meningkatkan volume produksi sektor pangan nasional secara signifikan. Iklim yang lebih bersahabat mendukung penuh target pencapaian swasembada yang dicanangkan oleh pemerintah pusat.
“Sehingga ke depan diharapkan kita dapat meningkatkan produktivitas swasembada pangan. Peningkatan tersebut diprediksi pada April mendatang,” ujar Faisal.
Faisal mengingatkan para pemangku kepentingan untuk tetap waspada terhadap dinamika cuaca jangka menengah. Pihaknya sedang menyusun proyeksi kemungkinan kemunculan El Nino yang sangat berisiko pada musim kering tahun 2027.
“Karena tahun depan kita belum tahu, nanti akan ada prediksi iklim dari kedeputian klimatologi. Nanti apakah El Nino yang akan terjadi di tahun 2027, sehingga nanti musim keringnya akan lebih panjang,” kata Faisal.
Faisal mengungkapkan bahwa akhir periode penghujan tidak akan terjadi secara serentak di seluruh wilayah Indonesia. Daerah selatan seperti Jawa dan Bali akan memasuki musim kemarau mulai bulan April mendatang.
“Indonesia kan daerahnya sangat luas, kalau di daerah yang dimaksud Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, musim hujan itu berakhir kira-kira nanti di sekitar Februari sampai Maret ya. Nanti bulan April, Mei, Juni, hingga nanti September itu masuk ke musim kemarau,” ucap Faisal.
Faisal menambahkan bahwa curah hujan tinggi baru akan memasuki wilayah bagian selatan pada bulan Oktober. Pola pergantian musim ini tetap mengikuti karakteristik geografis masing-masing daerah secara alamiah.
Faisal memberikan catatan khusus mengenai siklus cuaca unik pada wilayah yang berada dekat garis ekuator. Wilayah Sumatra bagian utara memiliki frekuensi dua kali musim hujan dan kemarau dalam satu tahun.
“Tapi perlu diingat bahwa di daerah Ekuator, bagian utaranya ini agak berbeda, misalnya saya berikan contoh untuk daerah Sumatra ya, untuk Aceh, kemudian Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Dia memiliki kondisi di mana terjadi dua kali musim hujan dan dua kali musim kemarau,” kata Faisal.
Faisal menyatakan bahwa sebagian wilayah Aceh dan Riau saat ini mulai memasuki fase awal kemarau. Meskipun kondisi tidak terlalu kering, potensi kebakaran hutan dan lahan tetap perlu diantisipasi secara serius.
“Di mana sekarang kondisinya sudah masuk awal musim kemarau di daerah Aceh, Sumatra Utara, Riau, sampai dengan Sumatra Barat, itu sudah masuk kemarau. Tapi tidak begitu kering dia, tapi Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) mungkin terjadi,” ujar Faisal.
Faisal menyebut potensi hujan singkat yang akan muncul kembali pada pertengahan tahun. Setelah periode tersebut berakhir, wilayah utara Sumatra akan segera menghadapi musim kering yang kedua.
Sebelumnya, Ketua Komisi V DPR RI Lasarus mendorong penambahan peralatan teknologi untuk memperkuat sistem mitigasi bencana nasional. Lasarus menilai pemenuhan kebutuhan radar cuaca sangat mendesak demi meminimalkan jumlah korban jiwa akibat bencana.
Lasarus menginstruksikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk segera melengkapi fasilitas pemantauan dari Sabang sampai Merauke. Ia menegaskan bahwa kemampuan manusia dalam memodifikasi cuaca ekstrem memiliki batasan tertentu pada saat ini.
“Oleh karenanya, menurut saya perlengkapan peralatan yang memungkinkan secara teknologi perlu disiapkan. Keadaan tersebut juga harus dapat dipertanggungjawabkan secara empiris dan keilmuan,” ucap Lasarus.
Lasarus menggarisbawahi urgensi pengadaan alat tersebut menyusul rentetan bencana alam yang terus melanda wilayah Indonesia. Ia mengatakan bahwa data yang akurat dapat menjadi fondasi utama dalam penghitungan anggaran rehabilitasi fisik.
“Jadi PR bagi kita kebutuhan radar masih sangat besar. Masih ada kurang lebih 43 persen, ya, dari sekarang 57 persen yang sudah terpenuhi,” kata Lasarus.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....