Psikolog Ingatkan Risiko Ketergantungan Emosional Curhat ke AI

  • 26 Jan 2026 05:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Psikolog mengingatkan risiko ketergantungan emosional akibat curhat berlebihan kepada kecerdasan buatan/Artificial Intelligence (AI). AI dapat memicu ilusi kedekatan yang berbahaya bagi kesehatan mental.

Psikolog klinis Amanasa Indonesia, Salma Ghina Sakinah Safari, menyebut AI dirancang untuk memvalidasi emosi pengguna. Menurutnya, validasi berulang dapat memperkuat emosi negatif dan memicu distorsi persepsi.

Ia menilai kondisi ini berpotensi menimbulkan delusi tertentu. Pengguna bisa mempercayai asumsi yang belum tentu sesuai realitas.

"AI dirancang untuk memvalidasi, akhirnya dengan validasi-validasi tersebut, mereka meyakini validasi itu. Akhirnya mungkin banget menimbulkan delusi-delusi tertentu," ujar Salma dalam dialog bersama Pro3 RRI, Minggu, 25 Januari 2026.

Salma menegaskan, AI tidak mampu memahami kompleksitas hubungan manusia. Menurutnya, respon otomatis berisiko memperkuat kesimpulan keliru dalam pikiran pengguna.

Selain itu, ketergantungan pada AI juga berpotensi menghambat pencarian bantuan profesional. Hal ini disebabkan individu merasa cukup mendapatkan dukungan dari mesin.

Ia menyarankan AI hanya dijadikan alat refleksi sementara. Keseimbangan interaksi sosial tetap menjadi kunci kesehatan mental.

Konten kreator Tatash Pridasari turut mengkhawatirkan dampak sosial jangka panjang. Menurutnya, tren ini dapat menggeser pola relasi antarmanusia.

Ia menilai generasi muda perlu dibekali literasi digital dan emosional. Pemahaman batas penggunaan AI harus diperkuat sejak dini.

"AI itu nggak benar-benar memenuhi validasi yang kita butuhkan. Karena kalau kita bimbang, dia ikut bimbang, bahkan kadang-kadang dia memberikan beberapa opsi juga," ujarnya.

Tatash berharap edukasi tentang penggunaan AI terus digencarkan. Tujuannya agar teknologi tidak menggantikan peran hubungan manusia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....