Fenomena Curhat AI sebagai Ruang Aman Emosional
- 26 Jan 2026 04:18 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Fenomena curhat ke kecerdasan buatan/Artificial Intelligence (AI) kian marak di kalangan Gen Z dan Gen Alpha. AI dinilai menjadi ruang aman menyalurkan emosi tanpa rasa dihakimi.
Psikolog klinis Amanasa Indonesia, Salma Ghina Sakinah Safari, menyebut faktor Utama tren tersebut adalah rasa aman psikologis. Menurutnya, AI memungkinkan individu terbuka tanpa takut dinilai atau disalahkan.
Ia menyebut, manusia sering khawatir mendapat penilaian negatif ketika bercerita pada sesama. Karena itu, AI hadir sebagai pendengar netral yang tidak memberikan konsekuensi sosial.
Selain rasa aman, faktor anonimitas turut memperkuat keberanian bercerita. Pengguna merasa identitas mereka terlindungi sehingga lebih leluasa mengekspresikan perasaan.
"AI itu tidak tahu dia siapa, jadi lebih bisa terbuka tanpa ada judgement dan tidak ada konsekuensi sosialnya. Mereka tidak perlu menjaga citra dan bisa berhenti kapan saja kalau misalkan sudah capek ceritanya," ujar Salma dalam dialog bersama Pro3 RRI, Minggu, 25 Januari 2026.
Salma menilai fenomena ini wajar di tengah kehidupan modern yang semakin sibuk. Ia menyebut, banyak anak muda kesulitan menemukan waktu dan ruang aman bersama keluarga.
Namun, ia mengingatkan AI sebaiknya hanya menjadi wadah sementara. Ia meneaskan, relasi antarmanusia tetap penting untuk kesehatan mental jangka panjang.
"AI dirancang untuk memvalidasi, akhirnya dengan validasi-validasi tersebut, mereka meyakini validasi itu. Akhirnya mungkin banget menimbulkan delusi-delusi tertentu," ujarnya.
Sementara itu, kreator konten Tatash Pridasari menilai AI sering dijadikan tempat mencari validasi emosional. Banyak anak muda merasa lebih nyaman bercerita kepada teknologi dibandingkan teman.
Tatash mengaku pernah menggunakan AI sebagai sarana berbagi perasaan. Namun, ia tetap menekankan pentingnya interaksi sosial langsung.
"Aku pribadi pernah curhat juga sama AI masalah asmara ya. Sejauh ini, kalau aku pribadi nggak pernah memaknai sampai membuat curhat yang ke ranah depresi itu belum pernah," ujarnya.
Ia mengingatkan, ketergantungan berlebihan pada AI berpotensi mengurangi kepekaan sosial. Ia menyebut, generasi muda perlu membangun komunikasi sehat dengan lingkungan sekitar.
"Memang terkadang AI memberikan ruang aman, tapi balik lagi, namanya manusia itu kan kita mahluk sosial. Pasti akan ada masanya butuh interaksi, butuh energi dari manusia lainnya," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....