Pemerhati Sebut Cuaca Ekstrem Bukan Penyebab Utama Longsor di Bandung Barat
- 25 Jan 2026 13:21 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Longsor yang terjadi di Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, dipicu cuaca ekstrem, namun bukan menjadi penyebab utama. Hal itu disampaikan Pakar Geologi Lingkungan dan Kebencanaan UGM, Dwikorita Karnawati.
Menurutnya, cuaca ekstrem hanya berperan sebagai pemicu terjadinya longsor. Ia mengatakan, penyebab utama justru berasal dari perubahan tata guna lahan.
“Sebetulnya cuaca ekstrem itu hanya sebagai pemicu, bukan penyebab utama. Penyebab utamanya adalah tata guna lahan yang memperparah lokasi atau daerah yang sebenarnya sudah parah dari segi kerentanan bencana geologi,” kata Dwikorita, Minggu, 25 Januari 2026.
Mantan Kepala BMKG tersenut menyebut, kondisi geologi, tektonik, dan iklim Jawa Barat memang sudah rentan secara alamiah. Namun, kerentanan itu diperparah oleh tata lingkungan yang tidak memperkuat kondisi alam.
Dwikorita menegaskan, Jawa Barat memiliki tingkat curah hujan tertinggi di Indonesia. Kondisi tersebut menuntut kewaspadaan tinggi, terutama saat puncak musim hujan.
“Apalagi saat ini di puncak musim hujan dan Jawa Barat biasanya curang hujan itu tertinggi di seluruh Indonesia. Sehingga perlu benar-benar kewaspadaan, kesiagaan dan pencegahan terjadinya bencana susulan,” katanya.
Dia juga menyoroti posisi permukiman yang berada di zona rawan longsor. Badan Geologi telah memetakan zona merah gerakan tanah sejak lama.
Para korban, kata dia, umumnya berada di wilayah zona merah tersebut. Sayangnya, masyarakat tidak mengetahui kawasan itu termasuk daerah berbahaya.
“Badan geologi itu sudah mengeluarkan peta zona kerentanan gerakan tanah, termasuk longsor yang terjadi hari ini. Para korban itu umumnya berada di zona merah,” ucapnya.
Dia menekankan pentingnya penataan ruang berbasis peta kerentanan bencana. Permukiman seharusnya tidak diizinkan berada di zona rawan longsor.
“Tata ruangnya harus diatur memperhatikan zona merah, jangan diizinkan untuk permukiman. Tata ruang seharusnya memperhatikan zona-zona bahaya longsor atau kerentanan gerakan tanah tersebut,” ujar Dwikorita.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....