Mendikdasmen: Literasi Keagamaan Lintas Budaya Perkuat Pendidikan Toleransi
- 11 Nov 2025 11:17 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, literasi keagamaan lintas budaya penting dalam sistem pendidikan nasional. Menurutnya, program ini menjadi strategi membangun generasi toleran agar mampu hidup berdampingan di tengah keragaman agama dan budaya.
“Konferensi ini merupakan gerakan mendorong kehidupan beragama yang lebih terbuka dan saling menghormati. Kami ingin menumbuhkan social trust di masyarakat multikultural melalui pendidikan karakter dan pembelajaran yang mendalam,” kata Mu'ti dalam Konferensi Internasional Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB), di Jakarta, Senin (11/11/2025).
Kemendikdasmen, lanjut dia, sedang mengintegrasikan nilai-nilai toleransi dan empati melalui program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Program tersebut menekankan pentingnya interaksi lintas agama dan budaya bagi siswa agar memiliki pemikiran terbuka dan jiwa gotong royong.
“Kami berupaya menanamkan karakter toleran melalui kegiatan yang mendorong kolaborasi dan kebersamaan antar siswa berbeda keyakinan. Kerja sama dengan Institut Leimena akan memperkaya bahan ajar dan modul pembelajaran tentang keberagaman,” katanya, menjelaskan.

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho dalam Konferensi Internasional Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) di Jakarta, Selasa (11/11/2025). (Foto: RRI/Tsalisa)
Ia berharap, program literasi keagamaan lintas budaya dapat diterapkan luas di sekolah dan lembaga pendidikan keagamaan. Ia mengatakan, kolaborasi lintas kementerian dan mitra internasional menjadi kunci membangun bangsa yang damai dan berkeadaban.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho mengatakan, pengalaman Indonesia menjadi model bagi pendidikan multikultural dunia. Menurutnya, kolaborasi lintas lembaga dan dukungan ASEAN menjadi momentum penting memperkuat masyarakat inklusif di kawasan Asia Tenggara.
“Indonesia telah menunjukkan praktik baik dalam mengelola keberagaman agama dan budaya melalui pendidikan. Prinsip literasi keagamaan lintas budaya ini sejalan dengan visi ASEAN 2045 untuk membangun komunitas inklusif dan kohesif,” kata Matius.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....