LPOI Imbau Umat Islam Tenang Hadapi Tayangan Provokatif

  • 14 Okt 2025 19:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) mengimbau umat Islam tetap tenang menyikapi tayangan provokatif salah satu stasiun televisi swasta. Meskipun tayangan tersebut dinilai telah menyudutkan pesantren serta ekosistemnya.

Ketua Umum LPOI, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj mengimbau kalangan santri dan umat Islam tidak terprovokasi. Serta terus waspada terhadap upaya adu domba yang dilakukan pihak-pihak tertentu.

Ia menyayangkan, tayangan framing negatif yang dilakukan televisi tersebut. Sebab, tindakan tersebut bukan hanya bentuk penyebaran kebencian tetapi juga pelecehan terhadap umat Islam.

“Sebelum memberitakan soal pesantren, seharusnya media memahami kultur dan nilai-nilai pesantren secara mendalam, jangan asal menuduh tanpa check and recheck. Mari kita berdoa agar Allah melindungi umat Islam dan pesantren dari sindikasi jahat yang berusaha menghancurkan citra mereka,” ujar KH. Said dalam keterangannya, Selasa (14/10/2025).

Ia menegaskan bahwa pihaknya menolak keras narasi jahat yang mendiskreditkan pesantren. Menurutnya, pesantren merupakan bagian penting dalam sejarah perjuangan dan pembangunan bangsa Indonesia.

“Tindakan menyebarkan kebencian terhadap pesantren adalah pelecehan terhadap umat Islam, pesantren telah berjasa besar bagi kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Upaya mendiskreditkan mereka adalah bentuk nyata dari infiltrasi sel-sel radikalisme yang berusaha menghancurkan pilar bangsa,” ujar KH. Said.

Lebih jauh, ia mensinyalir adanya sindikasi jahat yang terstruktur dan sistematis dalam melakukan character assassination terhadap pesantren dan para pemimpinnya. “Negara harus hadir dan bertindak tegas, jangan hanya berhenti karena pelaku meminta maaf," kata KH. Said yang juga Anggota Dewan Pengarah BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) itu.

"Tindakan itu sudah cukup menjadi alat bukti hukum untuk ditindaklanjuti. Jika dibiarkan, bisa menimbulkan konflik horizontal dan mengganggu stabilitas nasional,” ujar Kyai Said, panggilan akrabnya.

KH. Said menuturkan, keberadaan pesantren telah terbukti menjadi kekuatan sosial dan pendidikan yang nyata. Dengan lebih dari 24.000 jejaring pesantren di seluruh Indonesia, lembaga pendidikan Islam itu terus berperan dalam mencerdaskan masyarakat, memberdayakan umat, dan menjaga nilai-nilai kebangsaan.

“Budaya sopan santun, andap asor, dan kedermawanan yang diajarkan di pesantren merupakan akhlak luhur bangsa yang harus dijaga. Jangan malah dihancurkan dengan narasi jahat, kalau bangsa ini kehilangan sopan santun dan akhlak, maka negara akan mudah terkoyak,” ucap KH. Said.

Menurutnya, tradisi kemandirian dan solidaritas sosial di lingkungan pesantren juga menjadi modal penting bagi negara. Banyak pesantren yang membiayai pendidikan secara swadaya dan bahkan menggratiskan santri-santrinya.

“Kalau ada kyai yang kaya, itu karena kerja keras dan usaha mandiri. Kekayaan itu justru membawa manfaat bagi umat, bukan hasil korupsi,” katanya.

Untuk diketahui, LPOI merupakan wadah yang menaungi 14 organisasi masyarakat Islam besar di Indonesia. Organisasi ini berdiri sejak sebelum kemerdekaan dan terus berperan aktif dalam memperkuat nilai-nilai keislaman dan kebangsaan di Tanah Air.

Trans7 Minta Maaf ke Pesantren Lirboyo

Sebelumnya, stasiun televisi Trans7 akhirnya menyampaikan permohonan maaf resmi kepada Pondok Pesantren (PP) Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Ini usai viral tayangan program Xpose Uncensored pada 13 Oktober 2025 menuai kecaman publik.

Segmen dalam acara tersebut dinilai menyinggung dan menampilkan narasi yang kurang sensitif terhadap dunia pesantren. Permintaan maaf itu disampaikan Trans7 melalui surat resmi yang ditujukan kepada HM. Adibussholeh, pimpinan PP. Putri Hidayatul Mubtadiaat, Pondok Pesantren Lirboyo.

Dalam surat bertanggal 14 Oktober 2025, pihak Trans7 mengakui adanya keteledoran dalam proses penayangan dan menyesal atas dampak yang ditimbulkan. “Kami telah melakukan review dan tindakan-tindakan atas keteledoran yang kurang teliti sehingga merugikan keluarga besar PP. Lirboyo," katanya.

"Dengan segala kerendahan hati kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada segenap Kyai, Pengasuh, Santri. Serta Alumni Pondok Pesantren Lirboyo,” tulis pihak Trans7 dalam surat tersebut.

Trans7 juga menegaskan bahwa pihaknya menyadari tayangan tersebut telah menimbulkan ketidaknyamanan bagi keluarga besar pesantren. Mereka berjanji akan lebih berhati-hati dalam menayangkan konten yang berkaitan dengan ulama, kiai, dan kehidupan pesantren di masa mendatang.

“Hal ini menjadi pembelajaran berharga bagi kami agar tidak lagi menayangkan pemberitaan yang berkaitan dengan pesantren dalam program yang tidak relevan,” kata pernyataan itu.

Sebagai bentuk tanggung jawab, Trans7 menyatakan komitmennya untuk menghadirkan program yang justru menampilkan nilai-nilai positif dan keteladanan kehidupan pesantren di Indonesia, khususnya Pesantren Lirboyo.

Di akhir suratnya, Trans7 menyebut permintaan maaf tersebut sebagai bentuk itikad baik untuk menjaga marwah lembaga pendidikan keagamaan di Tanah Air. “Kami berharap kesalahan ini menjadi pelajaran agar hal serupa tidak terulang di masa mendatang,” tulis pihak Trans7 yang ditandatangani Direktur Produksi Andi Chairil itu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....