Tiga Strategi Pemerintah Jaga Anak Indonesia: Gizi-Digital-Budaya
- 10 Okt 2025 02:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Surakarta: Pemerintah telah resmi memberlakukan PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS). Seluruh platform digital pun diwajibkan untuk mencegah anak dari paparan konten berbahaya.
“Platform digital harus menyediakan filter konten, verifikasi usia, dan kontrol orang tua. Anak-anak berhak tumbuh aman, sehat, dan terlindungi,” kata Menkomdigi Meutya Hafid, saat menghadiri pertunjukan budaya di Pura Mangkunegaran Solo, akhir pekan kemarin.
Regulasi yang ditetapkan pada 28 Maret 2025 tersebut, lanjutnya, menjadi bagian dari tiga strategi terpadu untuk menyiapkan generasi sehat, cerdas, dan berkarakter.
Dua lainnya adalah gizi dan kesehatan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG).
Kemudian penguatan karakter bangsa melalui keterlibatan lembaga budaya. Kemkomdigi pun memastikan informasi program MBG dan PKG mudah dipahami masyarakat, sehingga orang tua tahu manfaat langsung bagi tumbuh kembang anak.
“Ruang digital tidak boleh mendominasi seluruh kehidupan anak, mereka pun tetap harus bersentuhan dengan budaya dan pengalaman nyata. Mangkunegaran, misalnya, bisa menjadi ruang belajar bagi generasi muda agar dekat dengan akar budaya bangsa,” kata Meutya.
Kemajuan teknologi digital memberi banyak kemudahan. Tetapi, menurutnya, budaya tak bisa ditinggalkan, harus berjalan beriringan.
Penguatan budaya ini dikatakan Menteri selaras dengan tugas Kemkomdigi yang tidak hanya mengatur tata kelola ruang siber. Tetapi juga memastikan bahwa ruang komunikasi dan informasi menjadi medium bagi penyebaran nilai-nilai budaya bangsa.
Melalui literasi digital, program konten positif, dan kolaborasi dengan lembaga budaya, pemerintah memastikan hadir. Guna menyeimbangkan percepatan teknologi dengan pelestarian identitas nasional.
“Dengan demikian, anak-anak tidak hanya terlindungi dari sisi digital. Tetapi juga mendapatkan ruang pembelajaran yang menanamkan rasa cinta tanah air, menghormati kearifan lokal, dan membangun karakter kebangsaan,” ujarnya.
Tujuan akhirnya jelas, anak Indonesia tumbuh aman di dunia digital, sehat secara jasmani. Serta kuat dalam identitas budaya menuju Indonesia Emas 2045.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....