Program CKG Jangkau 29 Juta Peserta, Mayoritas Perempuan
- 19 Sep 2025 06:56 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengungkapkan, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah menjangkau 29 juta peserta. Hal tersebut, berdasarkan data CKG sampai pertengahan September 2025.
Pernyataan tegas itu, diungkapkan oleh Dirjen Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang. Ia menjelaskan, dari jumlah itu, dua dari tiga orang yang mengikuti pemerikasaan adalah perempuan.
"Dari 29 juta itu 17 jutanya perempuan, laki-lakinya 12 juta. Dan 51 persen dari 29 juta ini adalah penduduk Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat," ujar Endang dalam konferensi pers 'Perkembangan Program Cek Kesehatan Gratis' di Jakarta, Kamis (18/9/2025).
Endang menilai, hal ini dinilai wajar mengingat jumlah populasi di ketiga provinsi tersebut sangat besar. Ia mendorong provinsi lain, terutama kawasan timur seperti Papua, Papua Barat, dan Papua Pegunungan, untuk meningkatkan partisipasi.
"Dari sisi tren harian, pendaftar baru program CKG saat ini mencapai rata-rata 600 ribu orang per hari. Pemeriksaan dilakukan di puskesmas maupun di sekolah, setelah program CKG mulai diterapkan di satuan pendidikan pada Agustus lalu," ucap Endang.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, hasil pemeriksaan juga mulai menunjukkan temuan penting salah satunya bayi baru lahir. 'Screening' (pengecekan) awal mendeteksi kelainan saluran empedu, berat lahir rendah, penyakit jantung bawaan kritis, hingga defisiensi enzim G6PD.
"Sedangkan pada balita, masalah yang banyak ditemukan antara lain gigi karies, anemia, stunting, hingga gangguan perkembangan. Pada usia dewasa, sebagian besar masyarakat menghadapi masalah kurangnya aktivitas fisik, disertai gigi bermasalah, obesitas sentral, hingga hipertensi," ujar Endang.
Pada populasi khusus usia 40 tahun ke atas, ditemukan pula hiperlipidemia, risiko kanker, serta anemia pada calon pengantin perempuan. Endang menegaskan, deteksi dini lewat program CKG merupakan langkah nyata pemerintah dalam mengelola risiko kesehatan masyarakat.
Sementara, Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah, Chacha Annisa, mengajak masyarakat memanfaatkan program ini. Menurutnya, masih ada masyarakat yang enggan memeriksakan kesehatan karena takut mengetahui penyakit yang diderita.
“Ubah perspektif itu, deteksi dini sangat penting untuk menjaga kesehatan agar bisa bekerja. Supaya bisa membuat Indonesia sesuai dengan visi kita Indonesia Emas 2045,” kata Chacha.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....