Di Balik Seragam, Polwan Pimpin Propam Papua Tengah
- 09 Jan 2026 17:04 WIB
- Nabire
KBRN, Nabire: Seragam cokelat yang dikenakannya menyimpan tanggung jawab besar. Kompol Florensia Yuliet Nari, S.H. mencatat sejarah sebagai Polisi Wanita pertama yang dipercaya menjabat Kepala Bidang Profesi dan Pengamanan (Kabid Propam) Polda Papua Tengah. Sebuah amanah strategis yang menuntut ketegasan, integritas, dan keberanian menjaga marwah institusi.
Selasa, 6 Januari 2026, Florensia berdiri di hadapan awak media dengan nada tenang. Ia berbicara tentang tugas, tanggung jawab, dan komitmen. Di saat yang sama, ia tak menutupi sisi personalnya—sang suami tengah berada di Jakarta mendampingi anak mereka yang menjalani perawatan medis. Namun bagi Florensia, tanggung jawab sebagai perwira Polri tetap harus dijalankan sebaik mungkin.
“Saya menyadari keterbatasan sebagai manusia,” ujarnya. “Namun amanah jabatan ini harus dijalankan sesuai aturan, Tribrata, dan Catur Prasetya.”
Kepercayaan yang diberikan pimpinan Polri menjadi energi utama baginya. Sebagai satu-satunya Polwan di Indonesia yang menduduki jabatan Kabid Propam di wilayah Polda Papua Tengah, Florensia menilai posisi ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan tanggung jawab moral untuk menjaga kepercayaan publik terhadap Polri.
Baginya, integritas adalah fondasi. Ia membuka ruang kritik, koreksi, dan bimbingan sebagai bagian dari penguatan pengawasan internal. Propam, kata Florensia, harus menjadi contoh dalam profesionalisme dan objektivitas.

Keterangan Gambar: Foto bersama rekan-rekan anggota di Bidang Propam Polda Papua Tengah.
Penunjukan Florensia juga membawa pesan kuat tentang kepemimpinan perempuan. Kapolda Papua Tengah menilai perempuan memiliki ketegasan dan ketelitian tinggi, sehingga dinilai tepat untuk memperkuat fungsi pengawasan internal kepolisian.
Di akhir pernyataannya, Florensia menyampaikan harapan sederhana namun bermakna: agar kepercayaan yang diembannya menjadi inspirasi bagi para Polwan untuk terus maju dan berprestasi.
“Polwan bisa, Polwan tangguh, Polwan maju, dan Polwan jaya,” ucapnya.
Di Papua Tengah, Florensia melangkah bukan hanya sebagai penjaga disiplin, tetapi juga sebagai simbol bahwa kepemimpinan lahir dari integritas, bukan dari sekat gender.