Inflasi Februari 2026 Diprediksi Naik imbas Ramadan

  • 28 Feb 2026 12:01 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Laju inflasi Indonesia diperkirakan meningkat pada Februari 2026 seiring momentum Ramadan yang biasanya mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok.

Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan data inflasi Februari pada Senin 2 Maret 2026. Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg, median proyeksi inflasi bulanan (month-to-month/mtm) pada Februari mencapai 0,3 persen.

Melansir dari Bloomberg Technoz, kenaikan harga pangan menjadi faktor utama pendorong inflasi. Mengutip data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia, harga beras tercatat naik di sebagian besar provinsi sepanjang Februari.

Kenaikan harga beras tertinggi terjadi di Banten sebesar 3,01 persen secara bulanan, disusul Jawa Tengah 2,33 persen, Aceh 2,31 persen, dan Kalimantan Utara 2,03 persen.

Harga daging ayam ras juga mengalami kenaikan signifikan di berbagai daerah. Lonjakan tertinggi tercatat di Kalimantan Utara sebesar 13,64 persen, diikuti Maluku 13,31 persen, Yogyakarta 10,34 persen, dan Nusa Tenggara Barat 9,94 persen.

Kondisi serupa terjadi pada telur ayam ras yang naik di sebagian besar provinsi, dengan kenaikan tertinggi di Yogyakarta 12,5 persen, Jawa Tengah 12,43 persen, Jawa Barat 10,74 persen, Jawa Timur 10,53 persen, serta Banten 10 persen.

Namun komoditas yang paling mencuri perhatian adalah cabai. Untuk cabai merah, kenaikan ekstrem terjadi di Sulawesi Utara yang melonjak 83,02 persen dalam sebulan. Disusul Sulawesi Barat 52,52 persen, Gorontalo 47,37 persen, dan Bali 46,78 persen.

Sementara itu, harga cabai rawit di Sulawesi Selatan meroket 99,23 persen. Kenaikan juga tercatat di Nusa Tenggara Barat 86,48 persen, Gorontalo 50,83 persen, dan Kalimantan Timur 48,97 persen.

Ekonom PT Bank Permata Tbk, Faisal Rachman, menilai lonjakan harga pangan tersebut wajar terjadi menjelang Ramadan.

“Inflasi bulanan memang biasanya tinggi ketika Ramadan karena faktor demand-pull, terutama akibat kenaikan harga pangan utama seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah,” ujarnya.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Februari 2026 juga diperkirakan meningkat. Median proyeksi Bloomberg menunjukkan angka 4,3 persen yoy. Jika terealisasi, level tersebut akan menjadi yang tertinggi sejak April 2023.

Kenaikan ini juga dipengaruhi basis perbandingan tahun lalu. Pada Januari hingga Februari 2025, pemerintah memberikan diskon tarif listrik 50 persen yang sempat menekan inflasi, bahkan menyebabkan deflasi tahunan pada Februari 2025.

Untuk inflasi inti (core inflation), proyeksi median berada di 2,48 persen yoy, relatif stabil dibandingkan Januari sebesar 2,45 persen yoy. Stabilitas nilai tukar rupiah serta harga emas yang masih tinggi dinilai turut memengaruhi pergerakan inflasi inti.

Menurut Faisal, ekspektasi inflasi inti yang masih berada dalam target 1,5 hingga 3,5 persen memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuannya, meskipun inflasi umum meningkat.

Ia memperkirakan inflasi umum akan tetap berada di atas 3 persen yoy hingga kuartal I-2026, sebelum melandai ke bawah 3 persen pada akhir 2026.

Meski demikian, ruang penurunan suku bunga acuan dinilai terbatas. Faisal memperkirakan pemangkasan BI Rate hanya berpotensi terjadi satu kali sebesar 25 basis poin pada semester II-2026.

Rekomendasi Berita