Rupiah Melemah ke Rp16.771, Asing Net Sell SBN
- 28 Feb 2026 11:48 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup pekan terakhir Februari 2026 dengan pelemahan, meskipun indeks dolar AS justru berada dalam tren menurun.
Pada Jumat 27 Februari 2026, rupiah ditutup melemah 0,1 persen ke posisi Rp16.771 per dolar AS. Sementara itu, Indeks Dolar AS tercatat turun 0,11 persen ke level 97,67.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, pelemahan rupiah tersebut mengindikasikan tekanan tidak semata-mata berasal dari penguatan dolar AS, melainkan dipengaruhi faktor domestik serta meningkatnya persepsi risiko di pasar keuangan.
Salah satu sentimen yang membayangi pasar adalah peringatan dari S&P Global Ratings yang menyoroti meningkatnya tekanan fiskal Indonesia, terutama akibat kenaikan biaya pembayaran utang pemerintah.
Lembaga pemeringkat tersebut mengingatkan bahwa beban bunga utang yang semakin besar berpotensi mempersempit ruang fiskal dan meningkatkan risiko terhadap profil kredit kedaulatan Indonesia. Dalam skenario tertentu, tekanan tersebut bahkan dapat memicu penurunan peringkat atau outlook.
Isu fiskal dinilai sebagai sentimen sensitif bagi pasar. Meskipun Indonesia masih mempertahankan peringkat layak investasi, setiap sinyal potensi penurunan prospek langsung tercermin pada pergerakan nilai tukar rupiah dan imbal hasil obligasi negara.
Di tengah kondisi suku bunga global yang masih relatif tinggi, investor global cenderung merespons cepat terhadap risiko kredit, termasuk dengan melakukan penyesuaian portofolio di pasar negara berkembang.
Padahal, dari sisi fundamental eksternal, kondisi Indonesia relatif terjaga. Konsensus pasar memperkirakan surplus perdagangan Januari 2026 tetap berada di kisaran 2,8 miliar dolar AS, dengan ekspor tumbuh dua digit dan impor meningkat seiring aktivitas domestik yang membaik.
Namun pasar keuangan bersifat forward looking. Jika kebutuhan pembiayaan pemerintah meningkat akibat tekanan fiskal, maka pasar memprediksi pasokan surat utang negara akan bertambah, yang berpotensi menekan harga obligasi dan mendorong kenaikan imbal hasil.
Mengacu data Bloomberg hingga Selasa 25 Februari 2026, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) di pasar surat utang domestik senilai 226,1 juta dolar AS. Dengan asumsi kurs JISDOR Bank Indonesia di Rp16.779 per dolar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp3,79 triliun.
Dari pasar Surat Utang Negara (SUN), tekanan jual terjadi di sejumlah tenor pendek hingga menengah. Pergerakan imbal hasil cenderung meningkat di sebagian besar tenor, meskipun dalam skala terbatas.
Yield tenor 1 tahun naik ke kisaran 5 persen, tenor 5 tahun meningkat ke 5,77 persen, dan tenor acuan 10 tahun tercatat naik ke 6,42 persen. Sementara itu, tenor panjang 30 tahun berada di level 6,751 persen dan tenor 40 tahun menyentuh 6,773 persen.
Kondisi ini mencerminkan pasar tengah melakukan repricing terhadap risiko domestik, terutama menyusul kekhawatiran atas tekanan fiskal dan potensi meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah dalam waktu mendatang.