Tulisan Kosong Dipuja Angka Mati Ditinggalkan Makna Publik
- 23 Des 2025 00:19 WIB
- Meulaboh
KBRN Meulaboh: Ada sesuatu yang busuk dalam cara banyak tulisan lahir hari ini. Bukan karena kurangnya ide, melainkan karena ide sudah tidak lagi dianggap penting. Yang dikejar bukan pemahaman, bukan dampak, melainkan angka—berapa banyak yang terbit, seberapa cepat tayang, dan seberapa sering ruang diisi, meski isinya nyaris tak bernilai.
Tulisan-tulisan itu hadir seperti produk pabrik. Seragam, dangkal, dan mudah dilupakan. Judul dibuat seolah penting, namun isinya sekadar pengulangan kalimat aman yang tidak berani bersikap. Paragraf demi paragraf disusun bukan untuk menjelaskan atau menggugah, tetapi untuk mencapai panjang tertentu agar terlihat “selesai”.
Di saat yang sama, berita berseliweran tanpa mutu. Informasi dilempar ke publik tanpa konteks, tanpa kedalaman, tanpa tanggung jawab intelektual. Fakta dipotong, makna diabaikan, dan pembaca diperlakukan seolah tidak pantas mendapat penjelasan yang utuh. Yang penting ada konten, soal isinya berguna atau tidak, itu urusan belakangan.
Lebih menyakitkan lagi, proses menulis kehilangan martabatnya. Menulis tidak lagi menjadi ruang berpikir, melainkan rutinitas menggugurkan kewajiban. Kata-kata dipaksa lahir meski pikiran kosong. Tulisan dibuat agar tampak bekerja, bukan karena ada sesuatu yang layak disampaikan. Di titik ini, kualitas bukan lagi korban—ia sudah lama dikubur.
Akibatnya jelas. Pembaca lelah, kepercayaan runtuh, dan tulisan kehilangan daya hidup. Apa yang seharusnya menjadi sumber pengetahuan berubah menjadi kebisingan digital yang cepat lewat dan tak pernah dirindukan. Tulisan-tulisan itu tidak meninggalkan bekas, karena sejak awal memang tidak pernah punya niat untuk berarti.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, yang tersisa hanyalah arsip kosong berisi kata-kata mati. Banyak, tapi hampa. Ramai, tapi tak bermakna. Dan pada akhirnya, bukan pembaca yang kehilangan sesuatu—melainkan para penulis yang diam-diam telah menyerah pada kualitas dirinya sendiri.