Sepuluh Hari Terakhir Ramadan di Haramain Lebih Fokus Ibadah
- 12 Mar 2026 12:15 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Meulaboh - Suasana Ramadan di Tanah Suci atau Haramain memiliki nuansa yang berbeda dibandingkan dengan di daerah, termasuk di Aceh. Perbedaan paling terasa adalah tingkat fokus umat Muslim dalam menjalankan ibadah, terutama saat memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan.
Direktur PT Aceh Darussalam Tour and Travel, Ustaz Mahlil Haithami, mengatakan secara umum tidak ada perbedaan signifikan dalam pelaksanaan ibadah Ramadan antara di Indonesia dan di Haramain yang meliputi Kota Mekkah dan Madinah. Namun, tradisi dan pola aktivitas masyarakat selama Ramadan cukup berbeda.
“Di Haramain kehidupan malam selama Ramadan jauh lebih hidup dibandingkan siang hari, dan masyarakat lebih fokus kepada ibadah. Bahkan memasuki sepuluh malam terakhir, semangat beribadah justru semakin meningkat,” kata Mahlil saat berbincang dalam program Kurma (Kisah Unik Ramadan) di RRI Meulaboh, Senin, 9 Maret 2026.
Ia menjelaskan, banyak jamaah dari berbagai negara yang sengaja datang ke Mekkah dan Madinah untuk menjalani ibadah umrah selama bulan Ramadan. Sebagian bahkan memilih menetap selama sebulan penuh hingga Idulfitri.
Menurutnya, lonjakan jamaah umrah juga terlihat pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Hal tersebut membuat biaya perjalanan umrah pada periode tersebut biasanya lebih tinggi dibandingkan waktu lainnya.
“Banyak orang memilih berangkat umrah khusus untuk sepuluh hari terakhir Ramadan karena ingin mendapatkan keutamaan ibadah di Tanah Suci,” ujarnya.
Mahlil yang pernah menjalani Ramadan di Haramain tahun lalu menambahkan, aktivitas ibadah di masjid berlangsung lebih khusyuk dan tidak terburu-buru. Salat tarawih di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi biasanya dilakukan dengan tempo lebih tenang sehingga jamaah dapat menikmati ibadah dengan lebih khusyuk.
Hal ini berbeda dengan sebagian kebiasaan masyarakat di daerah yang terkadang menyelesaikan salat tarawih lebih cepat karena ingin melanjutkan aktivitas lain seperti berkumpul di warung kopi atau berbelanja.
Selain ibadah, suasana berbuka puasa di Haramain juga memiliki keunikan tersendiri. Salah satu minuman khas yang populer saat Ramadan di Mekkah adalah Sobiah, minuman tradisional yang terbuat dari campuran gandum, barley, atau beras yang difermentasi sehingga menghasilkan rasa manis dan segar.
“Tradisi berburu makanan berbuka atau ngabuburit juga tetap ada. Bahkan sebagian warga Indonesia yang bekerja di Arab Saudi memanfaatkan Ramadan untuk berjualan makanan berbuka,” katanya.
Mahlil berharap umat Muslim, khususnya di Aceh, dapat terus meningkatkan kualitas ibadah selama Ramadan, terutama pada sepuluh hari terakhir yang memiliki banyak keutamaan.
Ia juga mendoakan agar masyarakat dapat merasakan pengalaman menjalankan ibadah Ramadan di Tanah Suci suatu saat nanti.
“Semoga para pendengar RRI suatu hari bisa merasakan Ramadan di Haramain, berbuka dengan kurma dan air zam-zam serta beribadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi,” ujarnya.