Masjid “Abu Peuleukung”, Saksi Sejarah Perjuangan Ulama Kharismatik Aceh

  • 04 Mar 2026 15:52 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Nagan Raya - Di hamparan tanah Seunagan yang subur, di Kabupaten Nagan Raya, berdiri sebuah masjid yang tak sekadar menjadi tempat bersujud. Ia adalah jejak sejarah, pusat zikir, sekaligus saksi perjuangan panjang seorang ulama kharismatik Aceh.

Masyarakat mengenalnya sebagai Masjid Abu Peuleukung, sementara nama resminya adalah Masjid Jamik Habib Muda Seunagan. Saat dikunjungi pada Minggu 1 Maret 2026, Masjid ini tampak begitu megah, renovasi yang terus terjadi memperindah pandangan mata saat malam hari.

Masjid ini dibangun pada tahun 1382 Hijriah atau bertepatan dengan 1960 Masehi oleh seorang ulama besar Aceh, Habib Muda Seunagan, yang memiliki nama lengkap Sayid Muhammad Muhyiddin bin Sayid Muhammad Yasin. Di mata masyarakat, beliau bukan hanya guru ruhani, tetapi juga pejuang kemerdekaan yang tangguh.

Lahir di Gampong Krueng Kulu, Seunagan, sekitar tahun 1870, Habib Muda tumbuh dalam suasana perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Sejak muda ia telah terlibat dalam pertempuran bersama ayahnya, Habib Syaikhuna Muhammad Yasin atau yang dikenal dengan Tengku Padang Si Ali.

Ketika kepemimpinan perjuangan berada di tangannya, penjajah menjulukinya “Tengku Puteh” sebuah gelar yang mencerminkan keberanian dan kharisma yang disegani. Ia memimpin tentara rakyat yang sebagian besar merupakan murid-murid Tarekat Syattariyah. Bahkan dalam catatan sejarah kolonial Belanda, namanya disebut sebagai aktor utama dalam sebuah penyergapan terhadap petinggi militer Belanda.

Atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, pada 10 November 1998, Presiden B. J. Habibie menganugerahkan Bintang Jasa Utama, yang diterima oleh pihak keluarga melalui Gubernur Aceh saat itu.

Pusat Spiritualitas Tarekat Syattariyah

Masjid Jamik Habib Muda Seunagan bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah pusat pengembangan Tarekat Syattariyah, sebuah tarekat muktabar yang telah diwariskan turun-temurun dalam keluarga ulama tersebut.

Di kompleks masjid terdapat makam Habib Muda Seunagan dan keluarganya. Makam ini kerap diziarahi masyarakat dari berbagai daerah, terutama mereka yang memiliki ikatan spiritual dengan ajaran Syattariyah.

Halaman masjid yang luas menjadi lautan manusia setiap Idul Fitri dan Idul Adha. Ribuan jamaah berkumpul untuk menunaikan shalat hari raya dan mendengarkan khutbah yang biasanya disampaikan oleh keturunan beliau. Di sudut-sudut kompleks juga berdiri bale-bale zikir tempat jamaah melantunkan zikir dengan khusyuk, menyatu dalam irama tasbih dan tahmid yang menggema hingga ke langit Seunagan.

Seiring perjalanan waktu, masjid ini telah tiga kali direnovasi. Renovasi pertama dilakukan pada tahun 2004. Kemudian pada 2015, keluarga besar Abu Habib Muda Seunagan melanjutkan pembaruan bangunan. Renovasi ketiga mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Nagan Raya pada 2016 dan rampung pada 10 Muharram 1439 H atau bertepatan dengan 30 September 2017.

Meski bentuk fisiknya berubah mengikuti zaman, ruhnya tetap sama: menjadi rumah ibadah, pusat dakwah, dan simpul persatuan umat. Masjid Abu Peuleukung hari ini bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga bukti bahwa perjuangan tak selalu di medan perang. Ia bisa hidup dalam doa-doa panjang, dalam zikir yang lirih, dan dalam ajaran yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di bawah kubahnya, orang-orang bersujud. Di halamannya, ribuan hati bersatu. Dan di pusara yang teduh di dalam kompleksnya, seorang ulama pejuang beristirahat—meninggalkan warisan iman dan keberanian bagi Aceh dan Indonesia.

Rekomendasi Berita