Jamal Idham dan Perjalanan Kemanusiaan di Tengah Bencana

  • 11 Des 2025 18:06 WIB
  •  Meulaboh

KBRN, Meulaboh: Di tengah gelap malam yang hanya diterangi lampu darurat di sebuah lokasi pengungsian di Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya, Aceh, sosok itu kembali datang. Wajahnya tampak letih, langkahnya berat, namun matanya tetap menyala dengan semangat yang sama, memastikan tidak ada satu pun warga yang terabaikan.

Ia adalah Jamal Idham, Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, yang dalam dua pekan terakhir hampir tidak mengenal waktu istirahat.

"Masih banyak yang perlu kita antar malam ini," ucapnya kepada tim kecil yang setia mengiringinya, sebelum kembali mengangkat kardus berisi kebutuhan mendesak bagi para penyintas banjir bandang dan longsor yang melanda sebagian besar wilayah Aceh.

Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Jamal Idham foto bersama pengungsi saat mengantar Lampu Tenaga Surya di Beutong Atuh Banggalang, Nagan Raya, Aceh, Selasa (9/12/2025). Foto kiriman untuk RRI

Sejak bencana melanda, Jamal Idham tidak menempatkan dirinya sebagai pejabat atau tamu penting. Ia memilih cara paling sederhana namun paling berarti: hadir langsung. Baik siang, malam, bahkan hingga larut malam, ia mendatangi titik-titik pengungsian yang tersebar di beberapa kabupaten.

Dari Aceh Tengah, Aceh Timur, Beutong Ateuh Banggalang di Nagan Raya, hingga Bener Meriah yang logistik bantuan dikirim melalui jalur udara karena akses darat terputus semua wilayah itu telah ia sambangi.

Dalam setiap kunjungan, ia tak sekadar menyerahkan bantuan, tetapi juga mendengar, mencatat, dan memastikan apa yang paling dibutuhkan warga saat itu.

"Setiap kali saya dapat kabar dari relasi dan jaringan di daerah, saya langsung bergerak. Tidak bisa ditunda, karena yang dibutuhkan warga adalah bantuan cepat,” katanya sambil mengusap keringat setelah menuruni bukit berlumpur menuju sebuah desa terpencil.

Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Jamal Idham, mengantarkan langsung bantuan kepada warga terdampak banjir bandang di Aceh.

Yang membedakan Jamal Idham dengan banyak relawan atau pejabat lain adalah pendekatannya yang sangat praktis. Ia tidak menyalurkan bantuan secara generik.

Setiap paket yang ia bawa adalah respons terhadap laporan kebutuhan lapangan yang ia terima langsung dari jaringan masyarakat, relawan lokal, dan tokoh desa.

Jika warga membutuhkan listrik, ia bawa lampu penerang. Jika mereka membutuhkan beras, popok bayi, selimut, atau air bersih, ia pastikan itu yang tiba ke lokasi.

Ia memposisikan dirinya bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai penghubung antara kebutuhan mendesak warga dan kemampuan negara untuk hadir.

Jamal Idham menyebut perjalanan ke Beutong Ateuh sebagai salah satu yang paling berat. Jalur longsor, jalan berlumpur, dan risiko cuaca tidak membuatnya mundur. "Kalau saya menyerah di tengah jalan, bagaimana dengan warga di ujung sana? Mereka menunggu," tuturnya.

Di beberapa titik, ia harus berganti kendaraan, berjalan kaki, bahkan menggunakan tenaga warga untuk memikul bantuan agar bisa tiba ke kamp pengungsian yang aksesnya benar-benar terputus.

Lelah Terbalas, Ketika Rakyat Tersenyum

Di balik senyum kecil yang selalu ia lemparkan kepada warga, sebenarnya terlihat jelas kelelahan yang ia tanggung. Tapi bagi Jamal Idham, itu bukan alasan untuk berhenti.

Baginya, tugas seorang wakil rakyat bukan hanya berbicara di ruang rapat, melainkan hadir di saat rakyat berada dalam titik paling lemah.

"Kalau kita tidak turun, kita tidak akan merasakan beratnya situasi ini. Saya harus lihat sendiri, dengar sendiri," ungkapnya.

Dalam rentang waktu dua minggu ini, Jamal Idham telah menembus hampir semua wilayah Aceh yang terdampak banjir besar. Kehadirannya memberi harapan, bukan hanya karena bantuan materi yang ia bawa, tetapi karena bukti bahwa negara melalui wakilnya masih dekat dengan rakyat.

Di tengah air mata kehilangan, trauma, dan ketidakpastian, kehadiran seseorang yang bersedia menjangkau mereka melalui segala keterbatasan adalah bentuk empati yang tidak bisa diukur dengan angka.

Dan di perjalanan panjang itu, Jamal Idham membuktikan bahwa pengabdian tidak selalu harus lantang.

Kadang, ia tampil dalam wujud sederhana: sepasang tangan yang mengulurkan bantuan, langkah kaki yang tidak berhenti, dan hati yang memilih untuk hadir.

Rekomendasi Berita