Ketika Hutan Membawah Berkah
- 17 Nov 2025 13:26 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Kabut pagi masih menyelimuti mahkota hutan Papua ketika Lani Betop, perempuan 50 tahun asal Yaniruma, membuka mata di rumah pohonnya. Empat puluh meter di atas tanah, dunia terasa sakral. Dengan tangan keriput, ia menyalakan api kecil untuk menghangatkan tubuh anaknya, Markus.
“Anak ko bangun sudah,” bisiknya lembut. “Matahari sudah mulai membuka matanya.”
Bagi Suku Korowai, rumah pohon bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah benteng dari banjir, binatang buas, dan roh-roh halus. Namun, kehidupan berubah.
Hari ini Markus (25) tak lagi berburu seperti leluhurnya. Ia turun dari rumah pohon menuju Sungai Deiram Hitam, membawa sekop dan dulang kayu — senjata baru untuk bertahan hidup.
Baca juga : Belajar Tanpa Tembok, Bermimpi Tanpa Batas
Jejak Baru di Sungai Deiram
Perjalanan Markus melewati jalur masa kecilnya: belajar membaca jejak hewan, mengenali tanaman obat, mendengar bahasa hutan. Kini, jejak yang dicari bukan lagi kasuari atau babi hutan, melainkan butiran emas.
“Setiap kali kaki saya menyentuh tanah dari rumah pohon, hati saya berdesir,” katanya lirih. “Seperti meninggalkan sebagian jiwa di atas sana. Tapi ketika saya lihat mama makin tua, dan adik ingin sekolah, saya tahu pilihan ini harus diambil.”
Di tepi sungai, sepuluh warga sudah berkumpul. Di antaranya, Samuel Tiar (45), pemimpin pendulangan emas. “Dulu bapak saya ajar membuat panah untuk berburu kasuari. Sekarang saya ajarkan ayunan dulang untuk menangkap emas. Keduanya butuh kesabaran. Hanya tujuannya berbeda,” ucapnya.

Samuel saat di wawancarai RRI di atas rumah pohon Suku Korowai. (Foto RRI)
Air Mata Martha
Dengan peluh di kening, Martha Wenggem (28) mendulang emas dengan cekatan. Anak keduanya, Kaleb, berada di noken. Ia masih menyimpan luka kehilangan Maria, putri pertamanya yang meninggal karena malaria.
“Maria demam seminggu. Kami coba semua daun dan akar, tapi tak sembuh,” kenangnya, mata berkaca-kaca. “Di hari terakhir, dia bilang ingin lihat sekolah. Tapi ia pergi sebelum sempat.”
Kesedihan itu mengubah Martha. Butiran emas pertamanya ia tabung di Pegadaian, bukan untuk membeli beras. “Setiap kali menabung emas, saya seakan berkata pada Maria: kematianmu tidak sia-sia. Emas ini air mata kami yang berubah jadi harapan.”

Martha menggendong anak di noken dan bersiap untuk beraktifitas di tepi sungai Deiram. (Foto RRI)
Yoseph, Tetua Yang Berubah
Yoseph Manggon (60), awalnya menentang keras aktivitas ini. Baginya, sungai adalah keramat. Namun segalanya berubah ketika cucunya, David, sakit keras.
“Obat tradisional tak mempan. Kami bawa ke rumah sakit di Bovendigoel,” tuturnya. “Dokter menyelamatkan nyawa cucu saya. Saat itu saya sadar, dunia berubah. Kita harus beradaptasi.”
Sejak itu Yoseph menjadi penggerak warga. “Uang bisa habis, terbakar, dicuri. Tapi emas di Pegadaian aman. Itu masa depan anak-anak kita,” tegasnya.
Suara Dari Yaniruma
Kambutop Weremba, Kepala Distrik Yaniruma, menyaksikan perubahan besar. “Dulu warga hanya pulang dengan ubi atau hasil buruan. Sekarang, mereka pulang dengan buku tabungan emas — simbol harapan,” ujarnya.
Ia menegaskan, emas di Pegadaian bukan sekadar kilau tanah. “Itu cahaya pendidikan anak-anak, pintu menuju rumah sakit ketika sakit datang. Dengan emas, orang Korowai menabung masa depan.”

Kepala Distrik Yaniruma Kambutop Weremba saat di wawancarai RRI. (Foto RRI)
Perhatian Pemerintah
Bupati Bovendigoel, Hengky Yaluwo, menyebut langkah masyarakat Yaniruma sebagai contoh kemandirian. “Mereka cerdas mengelola sumber daya, bukan sekadar eksploitasi. Pegadaian memberi mereka jalan untuk berpikir jauh ke depan,” tegasnya.
Ia berjanji membangun pusat kesehatan bersalin di Yaniruma dan memberi beasiswa. “Mimpi saya sederhana: tak ada lagi anak Korowai putus sekolah karena biaya, dan tak ada lagi ibu melahirkan tanpa tenaga medis.”

Bupati Bovendigoel saat di wawancarai RRI. (Foto RRI)
Pegadaian dan Komitmen
Dukungan penuh datang dari PT Pegadaian. Arman, Manajer Bisnis Pegadaian Merauke, mengungkap pertumbuhan nasabah luar biasa.
“Dulu hanya puluhan nasabah. Kini lebih dari 200 dari Suku Korowai,” jelasnya. “Ada kelompok ibu-ibu yang menamai rekening mereka ‘Tabungan Pendidikan Anak’. Setiap bulan mereka setor emas dari hasil sungai.”
Data Pegadaian membuktikan tren positif. Per 31 Agustus 2025, nasabah tabungan emas mencapai 4,06 juta, naik dari 3,27 juta pada Desember 2024. Total kelolaan layanan Bank Emas mencapai 22,82 ton, terdiri dari tabungan emas 14,12 ton dan deposito emas 1,38 ton.
Harga emas pun terus naik: Rp 938.000/gram (2021), Rp 1.026.000 (2022), Rp 1.130.000 (2023), Rp 1.515.000 (2024), hingga Rp 2.094.000/gram pada 2025. Bahkan dalam lima bulan terakhir, Mei–September 2025, harga terus menanjak dari Rp 1.925.000 menjadi Rp 2.085.000 per gram.
“Dengan tren ini, tabungan emas jadi cara paling aman. Hasil kerja keras warga tidak hilang, justru bertambah nilainya,” tegas Arman.

Tren kenaikan harga emas di Indonesia, gambar kiri : 5 bulan terakhir, gambar kanan : 5 tahun terakhir. (Sumber Data : IG pegadaian_id)
Generasi Baru
Daniel Kiriwok (19) kini kuliah di Jurusan Kehutanan Universitas Cenderawasih, Jayapura. Semua biaya awal ia kumpulkan dari hasil mendulang emas yang disimpan di Pegadaian.
“Kalau saya simpan uang tunai, pasti habis. Tabungan emas Pegadaian yang akhirnya membiayai kuliah saya,” katanya.
Sementara Yakob Yanggi (15), siswa SMP, sudah punya 3 gram emas tabungan. “Itu untuk sekolah saya nanti. Kalau bisa, kuliah juga. Saya ingin jadi guru,” ujarnya polos.
Senja di Yaniruma
Transformasi mencapai puncaknya ketika Lani, ibu Markus, turun dari rumah pohon untuk pertama kali. Di Pegadaian, ia memegang buku tabungan emas anaknya. Air matanya jatuh.
“Saya tak pernah bayangkan punya harta seperti ini,” bisiknya. “Dulu harta kami rumah pohon dan kebun sagu. Sekarang, ada harta yang menjamin masa depan cucu-cucu saya.”
Dalam perjalanan pulang, Yoseph bersenandung syair karya Franz Theodorus Rumainum:
“Tanah Papua, tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke bumi. Seluas tanah, sebanyak madu, adalah harta di tanah Papua...”
Lagu itu menggema di tepian hutan, menyatukan masa lalu dan masa depan. Hutan tetap “surga kecil” mereka, tetapi emas kini jadi cahaya harapan.
Pegadaian MengEMASkan Indonesia
Kisah Yaniruma bukan sekadar cerita tentang pendulangan emas. Ini adalah epik modern tentang suku yang beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Sungai keruh menyimpan kilau harapan. Setiap butir emas adalah doa ibu, kerja keras ayah, dan mimpi anak-anak untuk sekolah.
Di malam hari, ketika mereka kembali ke rumah pohon, mereka tidak hanya membawa beras dan garam, tetapi juga mimpi tentang generasi baru — guru, dokter, ahli kehutanan yang lahir dari Suku Korowai.
Melalui tabungan emas, Pegadaian tidak sekadar menyimpan harta, tetapi menyimpan masa depan. Dari Yaniruma, gema harapan itu bergulir: Pegadaian mengEMASkan Indonesia.