Belajar Tanpa Tembok, Bermimpi Tanpa Batas

  • 03 Okt 2025 18:57 WIB
  •  Merauke

KBRN, Merauke : Langkah kecil itu menyibak genangan air yang memantulkan cahaya matahari siang. Telanjang kaki, tanpa alas, tanpa keluh. Ia terus berjalan, menyusuri jalan tanah yang becek, berlumpur, penuh jebakan duri dan pecahan kaca, di antara reruntuhan rumah-rumah kayu yang lapuk, tenda plastik yang sobek-sobek, dan sisa-sisa bara dari tungku tua yang sudah lama tak menyala. Di sudut terpencil Jalan Gudang Arang, Kelurahan Kamahedoga, Kabupaten Merauke, tempat yang luput dari peta pembangunan, bocah itu menjemput harapan, bukan dengan tangan kosong, tetapi dengan keberanian yang membara dalam dada kecilnya.

Baca juga : Pegadaian dan Harapan Baru Anak Papua

Namanya Julio Wemiyaupea. Tujuh tahun usianya, tapi di matanya, usia bukanlah angka, melainkan beban hidup yang terus bertambah. Ia mengelap peluh dengan ujung kaus yang sudah robek di beberapa sisi, menggendong tumpukan sapu lidi hasil buatan sendiri, lalu berjalan dari pintu ke pintu, menyapa dengan senyum meski perutnya kosong. Bukan demi mainan seperti anak-anak kota, bukan pula demi es krim rasa stroberi yang hanya bisa ia lihat di poster toko, tapi demi segenggam beras untuk ibu dan dua adiknya yang menunggu dalam diam di rumah gubuk yang tak punya pintu, jendela, atau sambungan listrik, rumah yang lebih pantas disebut perteduhan luka.

Julio adalah anak dari tanah Papua, tanah yang kaya namun sering lupa membagi kekayaannya pada anak-anaknya sendiri. Ibunya berdarah Asmat, ayahnya dari Mimika, tapi yang paling kuat mengalir dalam darahnya adalah keberanian untuk bertahan hidup, bahkan ketika dunia terasa begitu dingin dan kejam. Di dadanya, bergemuruh semangat yang tak bisa dibeli oleh apa pun, karena ia tahu: hidup bukan soal menunggu belas kasihan, tapi soal melawan agar tetap bisa bertahan.

Saat anak-anak lain bermain bola dengan sepatu baru, tertawa dengan teman-teman di taman bermain, atau membawa kotak bekal berisi ayam goreng tepung dan jus jeruk, Julio justru melangkah di jalanan becek dengan kaki telanjang. Ia mencebur ke kolam dangkal untuk mencari ikan kecil, atau masuk ke rimba seorang diri demi memikul kayu bakar yang lebih berat dari tubuhnya. Ia tidak pernah tahu rasanya naik ayunan berwarna-warni, apalagi duduk tenang di bangku sekolah yang nyaman.

Baginya, sebutir nasi putih dengan secuil ikan goreng adalah pesta. Sebuah perayaan kecil yang ditunggu-tunggu setiap malam. Ia tidak tahu seperti apa rasa pizza, tidak pernah duduk di restoran cepat saji. Tapi ia hafal betul bunyi perut yang melilit saat malam datang, saat angin dingin menerpa tubuh yang tak tertutup selimut, saat dunia seperti lupa bahwa anak-anak juga butuh kenyang sebelum bermimpi.

"Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu, demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu..."

— (Petikan lagu “Ibu” ciptaan Iwan Fals)

Lirik dari sang legenda itu seolah menggambarkan Julio: anak kecil yang harus bergulat dengan waktu, dengan nasib, dengan kenyataan yang terlalu kejam. Ia menghabiskan masa kanak-kanaknya bukan dengan bermain dan belajar, tapi dengan bermandi peluh dan luka, hanya demi mengisi perut, demi bertahan satu hari lagi.

Julio tak punya akta kelahiran. Ia tak punya Kartu Keluarga, tak punya data dalam sistem negara. Dan itu saja sudah cukup untuk menutup semua pintu sekolah formal. Dunia terlalu sibuk mencatat syarat administratif, terlalu sibuk mengurus dokumen, dan lupa bahwa di balik angka dan akta itu, ada anak-anak yang juga ingin belajar, ingin tumbuh, ingin tahu dunia. Tapi tak diberi jalan.

Dan Julio bukan satu-satunya. Di wilayah Gudang Arang, di kampung kecil bernama Kamahedoga, puluhan anak mengalami hal yang sama. Ada yang pernah mencicipi bangku kelas satu, tapi berhenti karena seragamnya robek dan tak bisa beli buku. Ada yang tak pernah sama sekali menulis namanya sendiri. Mereka tumbuh, tapi tanpa pijakan. Mereka berjalan, tapi tanpa arah.

Di rumah beratap daun rumbia yang miring dan reot, di tepi sungai Maro yang keruh, Julio tinggal bersama ibunya, Marta Wemiyaupea, dan dua adik kecilnya. Marta, perempuan tangguh yang tubuhnya mulai membungkuk di usia 36 tahun, tiap hari berkeliling menjala ikan di kolam-kolam yang hampir kering, mencabut ilalang di ladang tetangga, atau mengais sisa makanan di pasar demi menyambung hidup. Semua itu ia lakukan demi anak-anak yang tak ia biarkan kelaparan.

“Bapaknya Julio pergi sejak dia masih bayi, sa tidak tahu ke mana,” ucap Marta pelan, dengan tatapan kosong. “Tapi sa tidak bisa menangis terus. Sa harus hidup untuk anak-anak.”

Kalimat itu tak hanya keluar dari mulutnya, tapi dari luka yang dalam.

Ketika hujan turun, atap rumah bocor di semua sudut. Tikar yang mereka tiduri berubah menjadi becek. Saat itu, Julio akan menggiring adik-adiknya masuk ke kolong meja kecil yang mulai lapuk dimakan usia. Di sana, mereka bertiga tidur sambil memeluk satu sama lain, mencoba melupakan dingin yang menggigit, memeluk harapan yang mereka tahu mungkin tidak akan datang malam itu juga.

Sekolah dari Ranting-Ranting Kasih

Di tengah keterpurukan, di antara semak dan rawa yang menyimpan kisah luka, hadir sosok perempuan bernama Yune Angel Anggelia Rumateray. Seorang perempuan muda berdarah Papua, yang hatinya terlalu lembut untuk membiarkan anak-anak seperti Julio terus dihantam kerasnya kehidupan. Ia tidak datang membawa bantuan besar, tapi ia datang membawa satu hal yang dunia kadang lupa: kasih.

“Setiap kali saya lihat Julio, hati saya seperti digerus,” ujar Yune lirih, menatap jauh ke arah kampung. “Bagaimana mungkin anak sekecil itu harus menanggung beban yang seharusnya jadi tanggung jawab kita semua?”

Yune tak hanya melihat kemiskinan, ia merasakannya menembus kulit dan menyusup ke relung hati. Ia melihat anak-anak yang matanya kehilangan cahaya, yang tertawa dengan suara yang tertahan, yang memanggil "ibu guru" bukan di kelas, tapi di jalan saat mereka menjual pinang atau memikul kayu.

Dari kesadaran itulah, dengan bermodal tekad dan cinta kasih yang tak terbendung, Yune mendirikan Sekolah Alam dan Bevak Literasi Paradise. Tempat itu tak memiliki tembok, tak ada papan tulis putih, tak ada meja kursi mewah. Hanya ada para-para dari batang kayu, atap dari terpal bekas, dan lantai dari tanah merah. Tapi justru dari sanalah tumbuh gerakan yang menghidupkan harapan baru.

Yune Angel Anggelia Rumateray ( topi merah) ketika mengajar anak anak di Sekolah Alam bevak literasi Paradise (Foto RRI)

Anak-anak mulai berdatangan. Anak-anak yang sebelumnya bekerja di pasar, memulung botol plastik, atau mengurus adik saat orangtua pergi mencari nafkah, kini duduk bersila di atas tikar, mengeja huruf demi huruf. Sekolah itu bukan hanya tempat belajar, tapi tempat di mana masa kecil yang sempat hilang bisa ditemukan kembali.

Rumah Belajar yang Merangkul

Kehadiran Sekolah Alam dan Bevak Literasi Paradise seperti mata air di tengah padang yang kering. Ia perlahan mencuri perhatian masyarakat, karena metode pembelajarannya yang alami, terbuka, dan menyentuh nurani. Di sana, belajar bukan kewajiban, tapi keinginan. Bukan beban, tapi sukacita.

Yune mengajar tanpa batasan. Tak ada garis pemisah antara Papua dan non-Papua, antara Muslim dan Kristen, antara anak dari kampung dan anak dari kota. Semua duduk berdampingan, saling berbagi buku, makanan, dan cerita. Di sana, anak-anak belajar menjadi manusia sebelum menjadi cerdas.

“Tidak ada biaya sepeser pun. Siapa pun boleh masuk. Yang penting punya semangat untuk belajar,” ujar Yune penuh keyakinan.

Julio Wemiyaupea (baju hijau) ketika bersama siswa Sekolah Alam dan Bevak Literasi Paradise (Foto RRI)

Kelas dibagi sederhana: Bibit untuk usia 6–8 tahun, Tunas 9–11, Ranting 12–14, dan Pohon untuk usia 15 tahun ke atas. Mereka belajar bukan hanya membaca dan menulis, tapi tentang cinta lingkungan, menanam mangrove, mengenali bahasa ibu (Malind), mengolah pangan lokal, dan membangun karakter. Tak ada rapor dengan angka, tapi ada pujian untuk anak yang paling rajin menjaga pohon, yang paling banyak membaca buku.

“Karena mereka bukan hanya butuh ilmu,” ucap Yune, “tapi juga pengakuan atas martabatnya, bahwa mereka penting, mereka berharga.”


Tumbuh dalam Rasa Peduli

Waktu berjalan. Hujan datang dan pergi. Tapi cinta yang ditanam di tanah Sekolah Alam itu justru tumbuh semakin subur. Dari hanya 40 siswa di masa pandemi 2020, saat semua orang sibuk menjaga jarak dan membentengi diri, sekolah ini justru membuka pintunya lebih lebar. Kini, lebih dari 90 anak belajar di sana. Anak-anak yang dulunya tak tercatat di sistem, yang dianggap tak ada oleh negara, kini punya nama, punya suara, dan yang paling penting, punya tempat berpijak.

Salah satu BUMN kelistrikan melihat nyala kecil dari sudut kampung ini dan memilih untuk ikut menyalakan cahaya. Mereka membangun bangunan permanen untuk sekolah tersebut, menggantikan para-para beratap bocor yang dulu menjadi saksi anak-anak belajar di tengah hujan. Kini, tak ada lagi yang perlu menulis sambil menahan dingin atau menggambar dengan arang di tanah.

Sekolah ini juga telah diakui secara resmi oleh pemerintah sebagai lembaga pendidikan non-formal. Sebuah pengakuan yang penting, bukan hanya di atas kertas, tapi juga bagi hati anak-anak yang selama ini dianggap tak cukup layak untuk disebut "pelajar". Di sana, mereka tidak hanya diajari membaca dan menulis, tapi juga diajarkan untuk percaya pada dirinya sendiri, bahwa kemiskinan bukan kutukan, bahwa masa depan tetap bisa mereka genggam, meski dengan tangan yang penuh luka.

Kondisi Sekolah Alam Bevak Literasi Paradise setelah mendapatkan bantuan pembangunan ruang belajar ( Foto RRI)

Di sekolah itu, tumbuh pula cerita-cerita kecil yang menampar kesadaran kita. Seperti Elisabet, gadis 10 tahun yang dulu menjual pinang di pasar sambil menggendong adiknya. Sekarang, ia berdiri di atas panggung kecil sekolah alam, membaca puisi tentang matahari dan tanah air, dengan suara lantang yang membuat air mata menetes di pipi para guru.

Atau Samuel, 13 tahun, yang pernah hampir terjebak dalam lingkaran putus sekolah selamanya. Ia kini jadi pemimpin kelas, dengan semangat menyala. “Saya mau jadi polisi,” ujarnya dengan mata tajam. “Agar tidak ada anak yang ditangkap hanya karena lapar.” Kata-katanya bukan sekadar mimpi, tapi jeritan nurani dari generasi yang selama ini dibungkam.

Suara dari Pemerintah: Harapan Tak Lagi Tunggal

Pemerintah pun akhirnya mendengar. Bupati Merauke, Yoseph Bladib Gebze, hadir langsung memberikan dukungan. Di antara tumpukan proposal dan jadwal padat, ia menyempatkan diri untuk melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana anak-anak di Gudang Arang berjuang untuk belajar.

“Saya sangat mengapresiasi upaya anak muda seperti Yune. Ini bukti bahwa perubahan tidak selalu datang dari ruang rapat atau gedung bertingkat. Ia bisa lahir dari desa, dari pinggiran, dari perempuan muda Papua yang punya hati sebesar samudra,” ujarnya dalam kunjungannya.

Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze ketika di konfirmasi RRI ( Foto RRI)

Bupati Yoseph juga menyuarakan pentingnya regulasi pendidikan yang lebih inklusif, yang tidak menjadikan dokumen sebagai penghalang utama bagi anak-anak untuk mendapatkan haknya. “Pendidikan tidak boleh menjadi hak yang mewah. Pendidikan adalah napas bangsa. Dan setiap anak, tanpa terkecuali, berhak untuk menghirupnya,” tegasnya.

Pernyataan itu, meski singkat, menjadi pelipur bagi banyak orang tua yang selama ini berjuang sendiri dalam sunyi. Bahwa kini, mereka tidak lagi sendiri. Ada tangan pemerintah yang mulai terulur, ada janji yang semoga tidak sekadar janji.

Apresiasi Nasional: Harapan Itu Nyata

Kerja keras tak selalu dilihat, tapi tak pernah benar-benar hilang jejak. Yune, perempuan muda yang memulai segalanya dengan hanya satu tikar dan sebatang kapur, kini telah mendapat pengakuan nasional. Ia dua kali meraih Apresiasi Satu Indonesia Award (SIA), pada tahun 2021 dan 2022. Ia terpilih sebagai perwakilan Provinsi Papua untuk kategori individu bidang pendidikan.

Tapi bagi Yune, penghargaan itu bukanlah titik akhir. Bukan pula medali kemenangan. Itu hanyalah pengingat bahwa jalan di depan masih panjang dan terjal. “Sa ingin agar tak ada lagi anak yang merasa tidak layak bermimpi,” tuturnya, pelan tapi pasti. “Karena semua anak, dari kota sampai kampung, dari gunung sampai rawa, berhak atas cahaya.”

Yune Angel Anggelia Rumateray ketika berada di Sekolah Alam dan Bevak Literasi Paradise (Foto RRI)

Penghargaan itu membawa nama Yune ke layar-layar televisi, ke forum-forum besar. Tapi hatinya tetap tinggal di Gudang Arang. Di setiap anak yang tersenyum karena bisa mengeja. Di setiap tangan kecil yang menulis huruf pertama mereka. Di setiap tawa yang lahir bukan karena lelucon, tapi karena mereka merasa diakui.

Dan Julio Kini...

Julio kini bisa menulis namanya sendiri: J-U-L-I-O W-E-M-I-Y-A-U-P-E-A. Huruf demi huruf itu ia tulis dengan tangan yang dulu lebih sering menggenggam sapu lidi. Tapi kini, tangan itu menggenggam pena. Pena yang membawanya dari gelap ke terang, dari diam ke suara, dari tanya ke jawaban.

Setiap malam, ketika suara jangkrik menggantikan bising pasar, ketika lampu-lampu mulai padam, Julio duduk diam di sudut rumah. Ia menatap langit yang bertabur bintang, lalu berdoa dalam hati.

“Aku ingin jadi guru,” bisiknya. “Agar anak-anak lain tak harus berjalan sejauh aku berjalan untuk bisa membaca.”

Mungkin suatu hari nanti, Julio akan kembali menyusuri jalan becek di Gudang Arang. Tapi bukan lagi untuk menjual sapu lidi. Ia akan datang dengan sepatu sederhana, membawa buku-buku cerita dan mimpi. Ia akan membuka kelas kecil di bawah pohon rindang, mengajar anak-anak yang dulu sepertinya tak pernah punya nama.

Dan saat itu tiba, anak-anak akan menyebutnya bukan hanya “guru”, tapi juga “cahaya”.

Di tengah keheningan malam Papua Selatan, suara anak-anak yang membaca, mengeja, dan bernyanyi telah menjadi lagu paling merdu. Bukan dari televisi, bukan dari gawai, bukan dari iklan kota. Tapi dari mulut-mulut mungil yang dulu nyaris bungkam oleh sistem.

Dan sekolah ini, Sekolah Alam dan Bevak Literasi Paradise, bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah pelita yang menyala di tengah gelap. Ia adalah pelukan yang merangkul luka. Ia adalah bukti, bahwa cinta, bila diperjuangkan, bisa menembus batas kemiskinan, keterbatasan, dan pengabaian.

Di Gudang Arang, dari tanah yang kerap luput dari peta, dari anak-anak yang nyaris hilang dalam statistik, kini tumbuh harapan yang tak bisa lagi dipadamkan.

Karena di setiap huruf yang mereka tulis, di setiap doa yang mereka ucap, tersimpan janji:

Bahwa mereka akan terus bertahan.

Bahwa mereka akan terus belajar.

Dan bahwa mereka akan terus bermimpi.

Rekomendasi Berita