Makan Bergizi Gratis, Cahaya Baru Anak Papua
- 15 Okt 2025 20:43 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Pukul sebelas siang, suasana SMP Gudang Arang mulai riuh. Dari kejauhan terdengar suara mobil box putih yang pelan-pelan masuk ke halaman sekolah.
Anak-anak langsung berdiri dari bangku, beberapa berlari ke jendela, menengok keluar sambil tersenyum.
“Sudah datang… makan siang sudah datang!” teriak mereka gembira.
Hari itu, seperti biasa, mobil pengantar dari dapur umum di pusat kota Merauke membawa nasi, sayur, dan lauk bergizi.
Dari kota ke Gudang Arang jaraknya memang tidak jauh, hanya beberapa kilometer saja, namun makna yang dibawanya sungguh dalam.
Bagi anak-anak di sini, setiap ompreng yang dibuka bukan sekadar berisi makanan, tetapi juga kasih dan perhatian.
Seporsi nasi hangat yang tiba siang hari seolah berkata “Kalian tidak sendiri.”
Baca juga : Ketika Lem Aibon Menjadi Ancaman
“Kalau Tidak Ada Makan Siang Ini, Saya Cepat Lapar" - cerita Nau
Nau, siswa kelas VII C, duduk di bawah pohon ketapang di halaman sekolah.
Tangannya memegang ompreng logam berisi nasi putih, sayur kangkung, dan telur rebus.
Ia menatap lama makanan itu sebelum mulai makan perlahan.
“Dulu saya sering datang sekolah tanpa sarapan,” katanya pelan.
“Kalau lapar, kepala saya pusing. Kadang saya diam saja di kelas.”
Sejak program makanan bergizi dijalankan, Nau jarang absen.
“Sekarang saya kuat belajar sampai sore,” ucapnya sambil tersenyum kecil.
Ia menatap omprengnya dan berbisik lirih,
“Terima kasih… karena ada yang ingat kami di sini.”

Nau, siswa kelas VII C SMP Gudang Arang Merauke ketika sedang menikmati Makan Bergizi Gratis. (Foto RRI)
“Dulu Saya Malu Karena Tidak Punya Bekal" - cerita Maria
Maria adalah siswi kecil yang selalu membawa sendok sendiri dari rumah.
Ia dulu sering duduk di pojok kelas ketika teman-temannya makan bekal.
“Kadang saya pura-pura ke kamar mandi supaya tidak kelihatan,” katanya pelan.
Sekarang, setiap kali mobil box datang, Maria ikut membantu membagikan makanan ke teman-temannya.
Hari itu menunya nasi, ikan goreng, dan sayur bayam.
“Kalau saya lihat nasi putih dan ikan, rasanya senang sekali,” ujarnya sambil tersenyum.
“Dulu saya tidak pernah makan enak di sekolah. Sekarang, saya tidak malu lagi.”
Ia menunduk sebentar, lalu berkata lirih,
“Waktu makan bareng teman-teman, saya lupa kalau kami dulu sering lapar.”
“Mobil Itu Seperti Tamu yang Ditunggu” - cerita Yohanis
Setiap jam istirahat tiba, Yohanis sudah berdiri di dekat pagar sekolah.
Ia bisa mengenali suara mobil box dari jauh.
“Kalau dengar suara itu, hati saya langsung senang,” katanya sambil tertawa kecil.
Ia membantu guru menurunkan kotak logam berisi makanan dari mobil.
“Waktu buka tutupnya, uap panas keluar. Baunya enak sekali,” ujarnya sambil menghirup dalam-dalam, mengingat momen itu.
Yohanis selalu makan paling akhir.
Katanya, “Saya suka lihat teman-teman makan dulu. Itu bikin saya bahagia.”
Lalu ia menambahkan lirih,
“Mobil itu seperti tamu yang bawa kasih.”

Yohanis (tengah) ketika sedang menikmati Makan Bergizi Gratis. (Foto RRI)
“Adik Saya Mau Sekolah Karena Lihat Saya Dapat Makan” - cerita Sefina
Sefina tinggal bersama ibunya di rumah kecil dekat Kali Maro.
Setiap pagi ia berjalan kaki ke sekolah, sering tanpa sarapan.
Dulu, adiknya sering bertanya, “Kenapa kamu sekolah terus, padahal lapar?”
Sejak ada program makanan bergizi, Sefina membawa sedikit sisa nasi di omprengnya untuk adiknya di rumah.
“Kalau masih ada, saya bungkus sedikit. Dia senang sekali,” katanya sambil tersenyum.
Suatu hari, adiknya ikut datang ke sekolah, duduk di luar pagar sambil menunggu mobil makanan datang.
“Dia bilang mau sekolah juga. Katanya, kalau sekolah, bisa makan bareng teman-teman.”
Sefina menatap jauh ke arah jalan, tempat mobil box biasanya berhenti.
“Bagi kami, nasi itu bukan cuma makanan. Itu semangat.”
“Anak Saya Rajin Sekolah Karena Tidak Lapar Lagi” - suara mama Sabina
Mama Sabina duduk di depan rumahnya yang sederhana, menatap anaknya yang berjalan pulang dari sekolah dengan langkah ringan.
“Dulu dia sering malas pergi sekolah,” katanya pelan.
“Dia bilang, perutnya sakit karena belum makan.”
Sekarang, setiap kali melihat anaknya pulang dengan wajah ceria, Mama Sabina ikut tersenyum.
“Dia bilang, di sekolah ada makan siang. Katanya enak. Saya senang sekali,” ucapnya sambil menghapus air mata.
“Dulu kami sering tidak punya uang untuk beli makan pagi. Tapi sekarang, saya tenang. Anak saya tidak lapar lagi di sekolah.”
“Makanan Itu Membawa Senyum” - Kepala Sekolah Paskalis Rettob
Kepala SMP Gudang Arang, Marius Paskalis Rettob, mengaku setiap hari melihat pemandangan yang sama namun selalu menyentuh hati.
Ketika mobil box tiba, semua siswa berlarian keluar dengan tawa lepas.
“Mereka sambut makanan itu seperti hadiah besar,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
“Bagi mereka, nasi hangat dan ikan goreng itu bukan hal biasa. Itu tanda bahwa mereka diperhatikan.”
Ia bercerita, dulu banyak anak yang datang ke sekolah dalam keadaan lapar, tidak fokus belajar, bahkan tertidur di kelas.
“Tapi sekarang, setelah makan siang, mereka semangat belajar. Nilai mereka juga meningkat.”
Setelah makan, anak-anak mencuci ompreng mereka di belakang sekolah.
Semua ompreng disusun rapi di rak besi dekat dapur sekolah, tidak ada yang dibawa pulang, karena ompreng itu menjadi simbol kebersamaan.
“Bagi saya,” kata Marius pelan, “setiap suapan nasi mereka adalah bentuk harapan.”

Siswa siswa SMP Gudang Arang Merauke. (Foto RRI)
“Kami Masak Sambil Bayangkan Mereka Tersenyum” - Cerita Dari Dapur Umum
Di dapur umum di pusat kota Merauke, suara wajan dan panci berdentang setiap pagi.
Mama Lusi dan timnya menyiapkan ratusan porsi makanan bergizi.
“Tidak jauh memang jaraknya dari sekolah, tapi hati kami selalu ikut berangkat bersama makanan itu,” katanya sambil tersenyum lembut.
Ia menatap uap nasi yang mengepul dari kukusan besar.
“Setiap sendok yang kami aduk, kami bayangkan anak-anak itu makan sambil tertawa.”
Kadang hujan turun deras, jalan becek, tapi mobil box tetap berangkat.
“Anak-anak itu menunggu. Jadi kami tidak boleh terlambat,” ucap Mama Lusi.
“Kalau mereka kenyang, kami juga bahagia.”

Petugas dapur umum Makan Bergizi Gratis di Merauke sedangkan menyiapkan makanan. (Foto RRI)
Berawal dari Launching MBG
Semangat membangun generasi emas tampak membara di Halaman SD Inpres Gudang Arang, Merauke, ketika satu program besar resmi diluncurkan, Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di bawah terik matahari siang itu, anak-anak berdiri rapi di lapangan. Beberapa menunduk malu, sebagian tersenyum lebar saat melihat tamu datang.
Mereka mungkin belum memahami istilah program strategis pemerintah, tapi mereka tahu satu hal sederhana, hari itu, mereka tidak akan lapar.
Acara dimulai dengan doa, lalu lagu Indonesia Raya menggema lantang.
Ketika “Tanah Papua” dinyanyikan, banyak mata berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena harapan yang mulai terasa nyata.
Kepala SPPG Papua Selatan, Anisa Amelia, S.Gz, memimpin kegiatan tersebut. Dengan suara lembut, ia menjelaskan bahwa MBG tidak hanya memberi makan, tapi menumbuhkan masa depan.
“Program ini bukan hanya soal nasi dan lauk, tapi tentang memastikan setiap anak Papua bisa belajar tanpa perut kosong,” ujarnya.
“Kalau anak-anak makan cukup, mereka bisa berpikir lebih jernih, dan masa depan mereka lebih cerah.”
Ia juga memaparkan cakupan MBG yang menjangkau 3.994 anak dari berbagai lembaga pendidikan di Merauke, antara lain:
- SD Inpres Gudang Arang (277 siswa)
- SD Negeri 1 Merauke (512 siswa)
- SD Negeri 2 Merauke (597 siswa)
- SD Negeri Biankuk (284 siswa)
- MI Yapis 1 (531 siswa)
- MI Yapis 2 (455 siswa)
- SMP Negeri Gudang Arang (217 siswa)
- SMA Negeri 2 Merauke (1.086 siswa)
- Posyandu Seringgu dan Samkai (35 balita)
Setiap piring yang tersaji di sekolah, kata Anisa, adalah wujud kerja sama yang hidup antara pemerintah, masyarakat, dan cinta. “Anak-anak ini tumbuh dari kasih kita bersama,” ucapnya.
Ketika Batu Pertama Diletakkan untuk Harapan
Beberapa hari kemudian, semangat itu berlanjut di Gang Puspo, Mopah Lama. Tanah merah basah oleh embun pagi menjadi saksi peletakan batu pertama Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Bupati Merauke, Yoseph Bladib Gebze.
“Ada dua hal penting dalam program ini,” ucapnya dengan suara berat namun penuh keyakinan.
“Pertama, meningkatkan gizi masyarakat. Kedua, memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh anak-anak.”
Ia menatap arah matahari yang mulai naik perlahan.
“Dapur ini bukan sekadar tempat memasak. Ini rumah harapan. Tempat setiap sendok nasi membawa kasih dan masa depan.”
Seorang mama tua yang berdiri di pinggir acara mengusap air matanya.
“Dulu kami hanya bisa berdoa supaya anak-anak bisa makan enak di sekolah,” katanya lirih.
“Hari ini saya lihat sendiri, doa itu mulai dijawab.”

Bupati Merauke Yoseph Bladib Gebze ketika melakukan peletakan batu pertama pembangunan dapur Makan Bergizi Gratis. (Foto RRI)
Ketika Satgas Dibentuk, Harapan Itu Semakin Nyata
Beberapa minggu kemudian, langkah kecil menuju masa depan kembali digerakkan. Pemerintah Kabupaten Merauke membentuk Satuan Tugas MBG, dipimpin langsung oleh Bupati Yoseph Bladib Gebze.
“Program ini bukan hanya tentang memberi makan,” ujarnya tegas, “tapi menjaga masa depan anak-anak agar tetap tersenyum. Agar tidak ada lagi perut yang kosong di bangku sekolah.”
Bupati menegaskan, tahun ini hingga tahun depan akan dibangun 16 dapur sehat, melayani anak sekolah, ibu hamil, dan balita.
“Setiap dapur adalah jantung yang berdetak untuk kehidupan anak-anak kita.”
Dari bangku belakang, Mama Lusi, salah satu juru masak dapur umum, mengusap air matanya pelan.
“Kalau dengar bapak bupati bicara begitu, hati ini hangat,” ujarnya.
“Berarti perjuangan kami di dapur tidak sia-sia.”

Bupati Merauke Yosep Bladib Gebze bersama pimpinan stage holder seusai membentuk satgas Makan Bergizi Gratis. (Foto RRI)
Pahlawan Pangan di Tanah Anim Ha
Namun harapan tentang masa depan anak-anak Gudang Arang tidak hanya lahir dari dapur-dapur umum dan ruang rapat pemerintah.
Jauh di hamparan sawah yang terbentang dari Tanah Mbuti hingga Kampung Wapeko, ribuan petani Papua terus menunduk dalam doa dan kerja.
Mereka adalah pahlawan pangan, yang memastikan nasi di ompreng anak-anak itu tak pernah berhenti terhidang.
Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Merauke menjadi salah satu garda terdepan dalam mendukung program nasional Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala dinas, Yosefa Louisa Rumaseuw, berbicara lembut namun tegas.
“Kami menyiapkan 63.000 hektar area persawahan, dan tahun 2024 ada tambahan 40.000 hektar optimalisasi lahan sawah. Jadi totalnya kini mencapai 103.000 hektar yang tersebar di seluruh Merauke,” ujar Yosefa.
“Ini bukan angka, ini tentang masa depan.”
Yosefa menjelaskan, selain beras sebagai makanan utama, Merauke juga memiliki kekayaan pangan local, sagu, umbi-umbian, dan pisang, yang sudah lama menjadi sumber kehidupan masyarakat asli.
Namun produksinya masih terbatas dan tersebar di spot-spot kecil, belum menyatu dalam satu hamparan besar.
“Pangan lokal ini adalah nafas orang Merauke,” ucapnya.
“Kami punya 1.900 hektar area pohon sagu, dan sekitar 200 hektar di antaranya sudah siap panen dan diolah. Kami juga memperkenalkannya dalam berbagai event pertanian di luar daerah.”
Baginya, perubahan besar di masa pemerintahan Presiden Jokowi yang kini dilanjutkan oleh Presiden Prabowo bukan hanya soal kebijakan, tapi soal kesiapan hati para petani menghadapi dunia yang bergerak cepat.
“Yang perlu adalah mempersiapkan petani dengan baik,” kata Yosefa pelan.
“Supaya mereka bisa menerima setiap perubahan tanpa kehilangan jati diri. Mereka bukan sekadar penanam padi, tapi penyiap masa depan.”
Ia mengingatkan, di tengah semangat produksi, harga hasil pertanian juga harus tetap berpihak pada rakyat.
“Petani siap bekerja keras. Tapi harga juga harus bagus, supaya bisa membantu perekonomian keluarga mereka.”
Yosefa berharap, kolaborasi antar dinas dan dukungan petani akan memperkuat pelaksanaan program makanan bergizi gratis di seluruh Merauke.
Suaranya menggetar, seperti doa yang tak terucap di tengah senja di atas hamparan sawah.
“Kami ingin melahirkan generasi yang kuat, sehat, dan cerdas,” tutupnya.
“Biar dari tanah yang kami garap ini, tumbuh anak-anak yang mampu berdiri tegak untuk negeri.”

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Merauke Josefa Rumaseuw. (Foto RRI)
Kami Siap Menyuplai Harapan - Dukungan Perum Bulog Merauke
Perum Bulog Merauke, sebagai bagian dari Badan Usaha Milik Negara, menjadi salah satu penopang utama keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis di tanah Papua Selatan.
Kepala Perum Bulog Cabang Merauke, Karennu, menuturkan dengan nada tenang namun penuh tanggung jawab bahwa pihaknya siap mendukung sepenuhnya ketersediaan bahan pangan untuk seluruh sekolah penerima manfaat di Kabupaten Merauke.
“Selain menyiapkan pasokan beras, kami juga siap menyediakan sejumlah lauk pauk seperti ikan dan daging,” ujarnya.
“Karena kami tahu, di balik setiap piring nasi anak-anak itu, ada masa depan yang sedang kita rawat bersama.”
Karennu menjelaskan, tantangan memang masih ada, terutama soal ketersediaan buah segar yang kadang sulit dipenuhi.
“Tapi kami tidak akan menyerah. Kami akan cari solusi terbaik. Sebab kami percaya, gizi bukan soal logistik semata, tapi soal kasih dan tanggung jawab moral,” ucapnya.
Ia menatap tumpukan karung beras di gudang dengan senyum kecil.
“Beras ini mungkin tampak biasa, tapi dari sinilah kebahagiaan anak-anak itu dimulai.”

Kepala Perum Bulog Merauke Karennu. (Foto RRI)
“Ketika Pemimpin Datang dan Anak-Anak Menyanyi dengan Mata Berkilau” – Kunjungan Wamendagri Ribka Haluk
Langit Merauke siang itu cerah ketika Wakil Menteri Dalam Negeri, Ribka Haluk, melangkah masuk ke halaman SD Inpres Gudang Arang.
Tari-tarian khas Papua menyambutnya, gerak kaki anak-anak yang polos menyiratkan sukacita yang sederhana dan harapan yang tumbuh dari sepiring nasi.
Di sisi lapangan, Kepala Sekolah Natalia Maria Remetwa menahan haru.
“Kunjungan ini adalah penghormatan bagi kami,” ujarnya dengan suara pelan namun bergetar.
Natalia tahu, apa yang terlihat sederhana, piring nasi dan ikan goreng di tangan anak-anak adalah hasil dari perhatian besar negara terhadap mereka.
“Jumlah siswa kami 283 orang,” katanya. “Program makan sehat ini bukan hanya soal kenyang, tapi soal semangat.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan,
“Dengan perut yang kenyang, pikiran mereka bisa terbang lebih tinggi.”
Wamendagri Ribka Haluk menatap anak-anak yang menyanyi lagu “Tanah Papua” dengan penuh semangat.
Suaranya lembut namun tegas ketika berkata, “Bapak Presiden Prabowo betul-betul punya tekad. Selama lima tahun ke depan, anak-anak Indonesia harus makan cukup dan bergizi. Karena dari sinilah masa depan dimulai.”
Ia mengingatkan bahwa di banyak negara maju, keberhasilan anak-anak dimulai dari hal sederhana, perut yang kenyang sebelum belajar.
“Kalau anak makan cukup, pikirannya terang, hatinya tenang,” katanya sambil tersenyum pada anak-anak di barisan depan.
Beberapa anak kecil melambaikan tangan, mata mereka berkilau dalam cahaya siang.
Hari itu, Gudang Arang terasa seperti pusat kecil dari mimpi besar Indonesia,
tempat di mana sepiring nasi menjadi bukti nyata perhatian negara terhadap masa depan anak-anak Papua.

Wakil Menteri Dalam Negeri Wamendagri Ribka Haluk saat berkunjung di Merauke. (Foto RRI)
“Ketika Wapres Gibran Datang dan Anak-Anak Bernyanyi di Bawah Terik”
Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, melakukan kunjungan perdananya ke Kabupaten Merauke, Papua Selatan, Selasa (16/9/2025).
Lokasi pertama yang ia tinjau adalah SMP Negeri Gudang Arang, tempat anak-anak menikmati langsung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ketika mobil kepresidenan berhenti di halaman sekolah, anak-anak berlari keluar sambil membawa bendera kecil merah putih.
Beberapa di antaranya melompat kecil sambil berseru, “Pak Gibran datang…!”
Di bawah terik matahari, mereka menyambut dengan lagu “Tanah Papua”, suara mereka bergetar namun penuh semangat.
Wapres menatap mereka lama, lalu menunduk, seperti sedang menahan haru.
Hari itu, anak-anak menikmati menu nasi, ayam goreng, sayur, dan susu.
Wapres mendekati meja panjang tempat makanan tersusun rapi di dalam ompreng logam.
Ia tersenyum dan berkata, “Makan yang banyak, ya. Biar tambah pintar.”
Kepala Sekolah Marius Paskalis Rettob menyampaikan kepada Wapres bahwa fasilitas sekolah masih terbatas, ruang kelas sempit, meja kursi rapuh, dan lapangan tanah yang becek ketika hujan.
Namun, katanya, “Semangat anak-anak tetap besar, karena mereka tidak lapar lagi.”
Beberapa siswa maju menyampaikan aspirasi, meminta lapangan olahraga dan meja belajar baru.
Wapres mendengarkan satu per satu, lalu menepuk bahu mereka dengan lembut.
Sebelum meninggalkan sekolah, Gibran menyerahkan buku dan alat tulis untuk siswa.
Suaranya pelan ketika ia berkata, “Kalau perut kenyang, belajar jadi ringan. Masa depan kalian dimulai dari sepiring nasi ini.”

Wakil Presiden Gibran Rakabuming ketika meninjau program Makan Bergizi Gratis di SMP Gudang Arang Merauke. (Foto RRI)
Ketika Dapur MBG Menghidupkan Ekonomi
Pagi-pagi buta, ketika kabut masih menggantung di atas Kali Maro, Mama Selpi sudah duduk di emperan Pasar Wamanggu Merauke.
Di hadapannya, ember plastik berisi ikan mujair dan udang hasil tangkapan suaminya tertata rapi.
Dulu, ikan-ikan itu sering tak laku, bahkan terbuang karena tidak ada yang membeli.
Namun kini, sejak hadirnya program makanan bergizi gratis, ia tak pernah lagi pulang dengan tangan kosong.
“Sekarang ikan cepat habis, kadang saya harus ambil lagi ke kali,” ucap Mama Selpi sambil tersenyum kecil.
“Dapur umum butuh ikan tiap pagi untuk masak anak-anak sekolah. Jadi tiap hari saya bisa jual, bisa beli beras, bisa kasih uang jajan sedikit buat anak.”
Di pasar Mopah, Mama Leni, penjual sayur mayur, juga merasakan hal yang sama.
Sebelum program ini berjalan, dagangannya sering layu di meja tanpa pembeli.
Tapi kini, permintaan meningkat drastis.
“Dulu sayur kadang tidak habis, sekarang malah kurang,” katanya lirih sambil menata daun kelor segar.
“Mereka pesan banyak untuk dapur umum. Hati saya senang, karena sayur yang saya tanam sendiri bisa masuk ke piring anak-anak sekolah.”
Sementara itu di kampung Bokem, Bapa Yonas, seorang peternak ayam kampung, mengaku baru kali ini usahanya terasa benar-benar berarti.
Sebelumnya, ia hanya menjual ayam di kampung.
Sekarang, setiap minggu ada pesanan rutin dari dapur umum di kota.
“Saya tidak pernah pikir ayam-ayam saya bisa bantu anak sekolah,” ujarnya dengan mata berkaca.
“Dulu saya susah jual, sekarang dapur yang datang pesan. Saya bangga, karena hasil tangan sendiri bisa kasih makan anak-anak yang belajar.”
Program makanan bergizi gratis ternyata bukan hanya tentang perut anak sekolah yang kenyang.
Di balik aroma nasi hangat dan sayur di ompreng-ompreng logam itu, ada denyut ekonomi kecil yang hidup di kampung-kampung sekitar Merauke.
Pedagang ikan, sayur, peternak ayam, bahkan tukang ojek yang mengantar bahan ke dapur umum, semuanya kini punya harapan baru.
“Kami semua ikut kerja,” kata Mama Selpi lagi pelan.
“Dulu susah cari uang, sekarang tiap hari ada rezeki dari anak-anak yang makan di sekolah. Tuhan baik sekali.”
Air matanya menetes. Tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan karena syukur.
Karena di negeri yang dulu sepi oleh kemiskinan, kini dapur-dapur kasih itu telah menyalakan api kehidupan.
Kami Tidak Lapar Lagi, Kami Mau Bermimpi
Senja mulai turun perlahan di atas atap sekolah.
Langit Merauke berwarna oranye pucat, sementara suara tawa anak-anak masih terdengar di halaman.
Di antara mereka, Nau duduk bersandar di dinding kelas, menatap ompreng kosong di pangkuannya.
Sisa butir nasi masih menempel di tepinya. Ia mengusapnya pelan, seperti sedang menyentuh sesuatu yang berharga.
“Dulu saya sering lapar waktu belajar,” katanya pelan. “Kadang saya tidur di meja, karena perut sakit.”
“Sekarang, saya tidak lapar lagi. Saya mau jadi guru, supaya bisa ajar anak-anak lain.”
Di sampingnya, Maria ikut menatap langit yang mulai berubah warna.
“Kalau ada makan siang, saya bisa kuat belajar,” ujarnya lembut. “Saya mau jadi dokter, biar bisa bantu orang sakit.”
Keduanya terdiam sejenak. Hanya suara angin yang menyapu daun-daun ketapang di halaman.
Dari pengeras suara sekolah, terdengar pelan lagu yang diputar oleh guru mereka “Bagimu Negeri” ciptaan Kusbini.
Padamu negeri kami berjanji...
Padamu negeri kami berbakti...
Padamu negeri kami mengabdi...
Bagimu negeri jiwa raga kami...
Suara anak-anak yang ikut menyanyi terdengar pelan, namun penuh perasaan.
Nada-nada itu melayang di udara, menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya.
Mereka tidak tahu banyak tentang kebijakan, tentang anggaran, atau tentang program nasional.
Yang mereka tahu hanya satu, hari ini mereka tidak lapar, dan besok mereka masih punya alasan untuk datang ke sekolah.
Di ujung hari, matahari tenggelam di balik pepohonan Gudang Arang, meninggalkan cahaya lembut di langit selatan Papua.
Nau dan teman-temannya masih duduk di halaman, bernyanyi lirih sambil memeluk ompreng mereka yang kosong.
“Kalau besok mobil makanan datang lagi,” kata Nau tersenyum,
“itu artinya Tuhan masih sayang sama kami.”
Dan di bawah langit yang mulai gelap, suara mereka terus terdengar,
kecil, rapuh, tapi penuh harapan, harapan anak-anak yang kini bisa belajar, bermimpi, dan tumbuh, karena sepiring nasi telah mengubah segalanya.