Ketika Lem Aibon Menjadi Ancaman

  • 14 Okt 2025 14:10 WIB
  •  Merauke

KBRN, Merauke : Malam turun perlahan di Merauke. Lampu jalan menyala satu per satu, menorehkan cahaya kuning pucat di sepanjang Jalan Parakomando.

Di antara sorot lampu itu, tiga anak kecil duduk bersandar di dinding toko yang mulai tutup. Tawa mereka terdengar parau, diselingi batuk kecil dan suara kaleng yang dibuka. Bau menyengat lem aibon menguar, memenuhi udara yang lembab dan panas.

Mereka tertawa seperti tak punya beban, seolah dunia ini hanya butuh tawa dan kaleng kecil untuk bertahan hidup. Tapi di balik tawa itu, ada sesuatu yang hancur, pelan tapi pasti. Sesuatu yang bernama masa depan.

Salah satu dari mereka, seorang anak bertubuh kurus dengan rambut yang tidak terurus, menatap kami dengan tatapan waspada. Tangannya yang kecil menggenggam kaleng lusuh.

Namanya Joni (bukan nama sebenarnya), 13 tahun.

“Kalau malam kerja parkir. Dapat uang dua puluh ribu. Separuh beli makan, separuh beli lem,” katanya, pelan. “Kalau hidung sudah bau lem, kepala jadi ringan, perut tidak lapar.”

Baca juga : Saat Garuda Menangis di Jeddah

Kalimat itu keluar tanpa ragu, seperti anak kecil menceritakan hal biasa. Ia tidak tahu bahwa yang sedang ia hirup setiap malam adalah perlahan-lahan mencuri masa depan dan kesehatannya.

Ia hanya tahu, lem membuat lapar hilang, membuat dunia tak terasa terlalu berat.

Potret anak anak ketika berada di depan emperan salah satu toko di Kabupaten Merauke. (Foto RRI)


Anak-Anak di Bawah Cahaya Lampu Jalan

Di emperan toko lain, di bawah papan reklame yang mulai pudar catnya, beberapa anak lain juga berkumpul. Ada yang tertidur, ada yang bernyanyi pelan sambil memegang plastik kecil berisi sisa lem.

Mereka menyalakan api dari korek bekas, bukan untuk merokok, tapi untuk menghangatkan diri dari dingin yang turun dari selatan.

Mereka disebut anak aibon, istilah yang lahir dari kebiasaan menghirup lem merek Aibon yang mudah didapat di toko-toko bangunan.

Bagi sebagian besar masyarakat, mereka hanyalah “anak jalanan yang nakal”.

Tapi di balik label itu, ada kisah yang jauh lebih getir.

Menurut catatan lembaga perlindungan anak Merauke, jumlah anak yang hidup di jalan meningkat setiap tahun. Ratusan anak berkeliaran di sekitar pusat kota, di emperan toko, pasar, terminal, dan pelabuhan.

Sebagian besar dari mereka masih usia sekolah dasar. Banyak yang tidak memiliki akta kelahiran, banyak pula yang tidak tahu siapa ayah mereka.

“Kami ini bukan anak nakal,” ujar Joni dengan nada getir. “Kami cuma lapar.”

Potret salah satu anak saat sedang menjaga parkiran di depan salah satu toko di Kabupaten Merauke. (Foto RRI)


Steven: Bocah yang Tak Lagi Punya Rumah

Di antara kelompok itu, ada seorang anak lain yang lebih pendiam. Tubuhnya kecil, matanya sayu, dan tangannya penuh luka gores. Ia duduk di dekat tiang listrik, menatap kosong ke jalan.

Sebut saja Steven (nama samaran), 11 tahun. Sudah enam bulan ia hidup di jalan, sejak ibunya meninggal dunia.

“Mama meninggal waktu saya kelas dua SD,” katanya pelan. “Bapa juga tidak tahu di mana. Saya tinggal di rumah kosong dulu, tapi lama-lama bosan. Akhirnya ikut teman di jalan.”

Setiap malam, Steven menjadi tukang parkir bersama Joni. Uang yang ia dapat tidak seberapa, tapi cukup untuk membeli nasi bungkus dan sebotol lem.

Ia tak tahu berapa lama sudah jadi pecandu. Yang ia tahu, ketika kepalanya pusing dan dunia terasa terlalu sunyi, lem adalah satu-satunya teman yang tak pernah pergi.

“Kalau tidak hirup, kepala sakit. Tapi kalau sudah hirup, saya rasa kayak terbang,” ujarnya sambil menatap bintang di langit. “Rasanya enak, kayak lupa semua.”

Lupa, mungkin itu kata kunci dari hidup mereka. Lupa lapar, lupa sepi, lupa dunia yang tak pernah memberi tempat bagi anak seperti mereka.

Hari yang Tak Pernah Berubah

Pagi di Merauke dimulai dengan suara motor dan hiruk pikuk pasar. Tapi bagi anak-anak ini, pagi bukan waktu untuk sekolah.

Mereka bangun dari lantai trotoar yang dingin, mencuci muka di selokan kecil, lalu berjalan ke toko untuk mengemis atau membantu memarkir kendaraan.

“Kadang ada orang baik kasih uang lebih,” kata Steven sambil tersenyum. “Tapi banyak juga yang marah, bilang kami bikin kotor jalan.”

Tak jauh dari sana, seorang pedagang sayur memandang mereka dengan tatapan iba.

“Setiap pagi saya lihat anak-anak itu tidur di situ. Kasihan sekali,” ujar Mama Lusia, pedagang asal Mopah. “Kadang saya kasih ubi, tapi mereka lebih suka beli lem. Mereka bilang kalau tidak hirup, badan sakit.”

Anak-anak itu hidup dalam lingkaran setan, lapar, mengemis, menghirup lem, lalu kembali lapar. Tak ada sekolah, tak ada rumah, tak ada pelukan.


Ibu yang Kehilangan Anak

Kami menemui Beti, seorang ibu berusia 40 tahun yang anaknya juga menjadi pecandu lem. Rumahnya di kawasan Gudang Arang, berdinding papan, atap seng berkarat, dan lantainya dari tanah.

Wajah Beti lelah. Ia menatap foto anaknya di dinding, foto seorang bocah laki-laki yang tersenyum lebar, sebelum dunia merenggutnya.

“Saya dulu kerja di pasar, suami pergi. Anak saya mulai ikut teman ke kota. Lama-lama tidak pulang. Saya cari ke jalan, ternyata sudah ikut anak-anak aibon,” ucapnya sambil mengusap air mata.

“Saya marah, tapi saya juga salah, saya tidak bisa jaga dia.”

Beti bukan satu-satunya. Banyak orang tua di Merauke kehilangan anak karena kemiskinan dan tekanan hidup. Sebagian pergi ke kota untuk mencari kerja, sebagian lain sibuk bertahan hidup hingga lupa bahwa anak mereka perlahan menghilang di jalan.

Bahaya yang Tak Terlihat

Menurut Dr. Yenny Mahuze, Mantan Direktur RSUD Merauke, kecanduan lem aibon bukan hanya persoalan moral, tapi ancaman kesehatan serius.

“Zat toluena di dalam lem aibon menyerang sistem saraf pusat,” jelasnya.

“Anak-anak bisa mengalami halusinasi, kerusakan otak permanen, bahkan kematian mendadak. Tapi yang paling parah, mereka kehilangan kemampuan untuk membedakan kenyataan dan khayalan.”

Dr. Hendra, pakar kesehatan masyarakat, menambahkan bahwa lem aibon juga menyebabkan kerusakan paru-paru dan hati.

“Efeknya sama seperti narkotika. Tapi karena ini produk murah dan legal, banyak yang tidak sadar bahaya jangka panjangnya.”

Namun yang lebih berbahaya, kata Hendra, adalah hilangnya empati masyarakat.

“Kita terbiasa melihat anak-anak ini di jalan tanpa merasa bersalah. Padahal mereka sedang sekarat di depan mata kita.”

Dr. Yenny Mahuze saat di wawancarai RRI. (Foto RRI)


Psikolog: Mereka Bukan Pecandu, Mereka Korban

Devita Martin, seorang psikolog anak di Merauke, menjelaskan bahwa sebagian besar anak jalanan yang menghirup lem mengalami trauma keluarga.

“Mereka tidak punya figur orang tua yang stabil. Banyak yang mengalami kekerasan, pelecehan, atau penelantaran. Lem menjadi pelarian karena memberi sensasi nyaman dan hangat,” katanya.

“Kita tidak bisa hanya menertibkan mereka. Mereka harus dipulihkan, secara psikologis, sosial, dan spiritual.”

Devita bercerita, dalam salah satu sesi konseling, seorang anak aibon berkata bahwa ia hanya ingin “disayang seperti anak lain”.

Kalimat sederhana, tapi mengguncang siapa pun yang mendengarnya.

“Mereka Masih Anak-Anak Kita

Di balik wajah tegasnya sebagai seorang polisi, AKP Enggelberta Kaize, Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Merauke, tak kuasa menahan haru setiap kali melihat anak-anak kecil menghirup lem aibon di sudut-sudut kota.

Ia bercerita, suara tawa anak-anak itu sering kali terdengar di antara deru kendaraan malam, tapi bukan tawa yang lahir dari kebahagiaan, melainkan pelarian dari lapar, dari sepi, dan dari dunia yang terlalu keras untuk mereka.

“Setiap kali kami temukan mereka, hati ini seperti diremas. Anak-anak itu duduk di bawah lampu jalan, matanya kosong, tapi masih bisa tersenyum saat kami sapa.

Mereka memanggil saya ‘Mama Polisi’ dan kadang hanya itu yang membuat saya kuat menahan air mata,” tutur Enggelberta lirih, sembari menatap jauh ke arah jalan Parakomando yang mulai sepi.

Ia menceritakan, banyak dari anak-anak itu berasal dari keluarga yang tidak mampu, sebagian bahkan tidak tahu di mana orang tua mereka berada. Saat petugas datang menjemput, mereka tak melawan, seolah sudah pasrah dengan nasib.

“Kami bawa mereka ke rumah singgah, kami kasih makan, kami mandikan. Tapi setelah dua hari, mereka harus kembali. Dan ketika kembali, mereka hilang lagi ke jalanan,” ujarnya pelan.

Bagi Enggelberta, penanganan anak-anak ini bukan sekadar soal tugas. Ini tentang nurani, tentang panggilan hati seorang ibu yang tak ingin melihat masa depan Papua Selatan pudar oleh kabut lem aibon.

“Mereka masih anak-anak kita. Mereka hanya butuh dipeluk, bukan dihakimi,” katanya dengan suara bergetar. “Kalau tidak kita yang peduli, siapa lagi?”

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak PPA Polres Merauke AKP Angelbertha Kaize saat di wawancarai RRI. (Foto RRI)


Saat Pemerintah Diminta Turun Tangan

Suara itu kemudian disambut dari tingkat yang lebih tinggi. Wakil Gubernur Papua Selatan, Paskalis Imadawa, menegaskan bahwa sudah saatnya empat kabupaten di wilayah Papua Selatan segera merancang dan menyusun Peraturan Daerah (Perda) tentang penanganan anak-anak penyandang masalah sosial, terutama mereka yang dikenal sebagai anak aibon.

“Di empat kabupaten ini semua ada anak-anak aibon begitu, dan kalau boleh di-Perdakan, sehingga kita jemput mereka dan langsung bawa ke tempat khusus yang sudah disiapkan oleh pemerintah. Di sana mereka akan dibina, didampingi, dan direhabilitasi,” ujarnya.

Wajahnya tampak serius ketika berbicara, karena di balik setiap data yang ia sebut, tersimpan wajah-wajah kecil yang kini hidup di emperan dan jalanan kota.

Imadawa menegaskan bahwa penanganan anak-anak aibon belum berjalan optimal di seluruh wilayah Papua Selatan lantaran belum adanya regulasi yang mengikat.

“Kenapa penanganannya saat ini kurang maksimal? Karena anak-anak ini hanya dijemput, kemudian ditaruh di rumah singgah selama dua hari, dan setelah itu dikembalikan kepada orang tua. Saya rasa ini kurang maksimal, karena rehabilitasi harus dilakukan oleh mereka yang profesional dan memiliki keahlian khusus,” ujarnya.

Baginya, menyelamatkan anak-anak ini bukan sekadar program sosial, melainkan bentuk tanggung jawab moral pemerintah terhadap generasi Papua Selatan. Ia menekankan bahwa rehabilitasi dan pendampingan harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya sesaat.

“Penanganan anak-anak terlantar itu butuh perhatian ekstra, kontinyu, dan masif, supaya mereka bisa memperoleh pendampingan dan pembinaan keterampilan yang berguna bagi masa depannya,” katanya menutup pernyataan dengan nada lirih.

Di tengah segala kesibukan birokrasi dan laporan pembangunan, suara itu seperti mengingatkan, masih ada anak-anak yang menatap kosong di bawah cahaya lampu jalan, menunggu tangan negara benar-benar turun untuk merangkul mereka, bukan sekadar mencatat nama mereka di atas kertas.

Wakil Gubernur Papua Selatan Paskalis Imadawa saat di wawancarai RRI. (Foto RRI)


Negara yang Masih Menutup Mata

Menurut Hendrik Mahuze, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Merauke, masalah anak aibon sudah mencapai tingkat krisis.

“Setiap tahun kami temukan wajah-wajah baru di jalan. Artinya, generasi pecandu ini terus lahir. Tapi sampai sekarang belum ada program rehabilitasi permanen.”

Ia menyebutkan, selama ini LPA hanya bisa melakukan penyuluhan dan patroli sosial. Namun tanpa dukungan anggaran dan regulasi, semua itu seperti menimba air di lautan bocor.

“Anak-anak ini bukan kriminal. Mereka korban dari sistem yang tidak peduli,” tegas Hendrik.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Merauke Hendrik Mahuze saat di wawancarai RRI. (Foto RRI)


Cahaya Kecil dari Aspuma Kelapa Lima

Di tengah kisah muram anak-anak jalanan yang terjerat bau lem dan dingin trotoar, secercah cahaya perlahan mulai tumbuh dari sudut Kelapa Lima, Merauke. Di tempat sederhana bernama Aspuma, Dinas Sosial Kabupaten Merauke berusaha mengembalikan masa depan yang sempat hilang itu, setidaknya untuk beberapa anak yang masih mau digandeng menuju harapan.

Plt Kepala Dinas Sosial Merauke, Yuliana Kahol mengatakan pihaknya telah melaksanakan program Pra Rehabilitasi bagi anak-anak aibon gelombang pertama sejak Juni hingga Agustus 2023, untuk 20 anak yang selama ini hidup di jalan.

“Kami berusaha menarik mereka keluar, pelan-pelan. Kami beri kegiatan, pembinaan, dan pendampingan. Tujuannya sederhana, agar mereka kembali merasa dicintai,” ujarnya dengan nada lembut.

Saat ini, Dinas Sosial juga sedang berkoordinasi dengan Balai Wirajaya Makassar, untuk mengirim lima anak kategori berat agar menjalani rehabilitasi penuh di sana.

“Anak-anak itu masih punya masa depan, hanya perlu sedikit waktu dan banyak kasih sayang,” tutur Yuliana.

Untuk tahap kedua, pihaknya memperluas pembinaan kepada anak-anak putus sekolah di Aspuma Kelapa Lima. Program ini melibatkan kerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Dinas Pendidikan.

“Bagi yang masih bisa kembali ke sekolah, kami dorong agar mereka bersekolah lagi, baik formal maupun non-formal. Sementara yang sudah dewasa, kami latih keterampilan agar bisa bekerja,” katanya.

Yuliana mengingat satu kisah yang membuatnya selalu percaya bahwa setiap anak bisa berubah.

“Tahun 2022, lima anak kami kirim ke Balai Wirajaya di Makassar. Setelah dibina dan dilatih di BLK Sorong, mereka pulang dengan senyum baru, tidak lagi memegang kaleng lem, tapi memegang sertifikat keterampilan,” ucapnya, tersenyum kecil.

Namun ia juga mengakui, perjuangan itu masih panjang.

“Merauke belum punya panti rehabilitasi sendiri, jadi pra rehabilitasi masih kami lakukan di Aspuma. Ruang terbatas, tenaga juga terbatas, tapi kami tidak berhenti. Karena di balik setiap anak itu, ada hidup yang layak diperjuangkan,” ujarnya lirih.

Di tempat sederhana itu, anak-anak yang dulu tidur di emperan kini mulai belajar lagi: menulis, menggambar, atau sekadar menyapu halaman.

Mereka belum sepenuhnya sembuh, tapi di mata mereka mulai tumbuh cahaya kecil, dan cahaya yang menolak padam di tengah gelapnya jalanan Merauke.

Anak anak aibon binaan Pemerintah Daerah Kabupaten Merauke. (Foto RRI)


Pelukan TP-PKK: Cahaya Baru untuk Anak Aibon

Di sebuah ruang sederhana di Panti Asuhan Kartini, Merauke, aroma kertas dan kayu tua bercampur dengan suara tawa yang mulai terdengar kembali. Ruangan itu kini menjadi harapan baru bagi anak-anak pengguna lem aibon yang selama ini hidup di emperan toko dan trotoar Jalan Parakomando.

Tim Penggerak PKK Kabupaten Merauke periode 2025–2030, di bawah pimpinan Nova Gebze, hadir dengan satu misi jelas, memberikan perhatian khusus kepada anak-anak itu, bukan sekadar menertibkan mereka di jalan, tetapi merengkuh mereka dengan kasih dan peduli.

“Anak-anak ini tumbuh tanpa pengawasan cukup, sehingga mudah terjerumus. Kami ingin memberi mereka tempat yang aman, di mana mereka bisa belajar kembali menjadi anak-anak,” kata Nova, saat menatap mata-mata kecil yang mulai menatapnya dengan penasaran.

Berbeda dari pendekatan medis atau rehabilitasi formal, PKK menekankan pembinaan mental dan spiritual. Di Panti Asuhan Kartini, anak-anak dibimbing perlahan, bermain sambil belajar, berbagi cerita di bawah cahaya lampu senja, dan merasakan sentuhan kasih yang selama ini jarang mereka dapatkan.

Tak hanya anak-anak, para orang tua pun dilibatkan. Nova menegaskan pentingnya sosialisasi.

“Kami ingin mereka memahami, bahwa anak-anak ini butuh perhatian, bukan hukuman. Dengan pemahaman itu, anak-anak bisa kembali ke sekolah dan merasakan hidup yang lebih baik.”

Program ini juga membuka peluang kerja sama dengan sekolah rakyat dan berbagai bentuk pembinaan lain, sambil menunggu kebijakan lanjutan dari pemerintah daerah untuk menjamin masa depan yang layak bagi anak-anak ini.

Di Panti Asuhan Kartini, tawa mulai terdengar di antara dinding-dinding yang dulu sunyi. Anak-anak yang sempat terperangkap kabut lem aibon kini mulai belajar menulis, menggambar, dan merasakan hangatnya perhatian. Setiap langkah kecil itu adalah cahaya baru, yang perlahan menyingkirkan gelap masa lalu dan menyalakan harapan masa depan.

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Merauke Nova Gebze ketika di wawancarai RRI. (Foto RRI)


Momok Lem Kuning dan Janji Masa Depan

Fenomena lem aibon di Kabupaten Merauke kini menjadi momok yang menakutkan bagi generasi Papua Selatan. Anak-anak peribumi yang seharusnya menatap masa depan kini terjerat oleh bau kimia kuning yang menyengat, dan jumlah mereka terus meningkat setiap tahun.

Aica Aibon, lem kuning yang biasa digunakan untuk merekatkan berbagai material bangunan, kini menjadi simbol tragis dari kenyataan pahit di jalanan. Setiap hirupan bagi anak-anak itu bukan sekadar mencari rasa ringan atau melupakan lapar, tapi perlahan mencuri masa depan mereka.

Maria Salome Kanden anggota DPRD terpilih periode 2024–2029 Dapil 2 Kabupaten Merauke dari Partai PDIP, menegaskan bahwa permasalahan anak aibon adalah tanggung jawab semua pihak. Ia menekankan pentingnya duduk bersama, mencari akar persoalan, dan merumuskan solusi yang nyata, bukan sekadar retorika.

“Masalah anak aibon ini sudah ada sejak saya kuliah, dan sampai sekarang belum terselesaikan. Untuk menanganinya butuh proses panjang, karena harus melibatkan produsen lem, distributor, hingga penjual eceran. Semua harus diajak bicara, bersama mencari jalan keluar,” ujarnya.

Maria menambahkan, ketergantungan anak-anak terhadap lem sangat memprihatinkan. Hampir 99 persen penggunanya adalah anak-anak Papua, generasi yang seharusnya menjadi penerus pembangunan, yang kini harus berjuang melawan zat adiktif demi sekadar merasa ringan di kepala dan kenyang di perut.

“Dari sisi pendidikan dan kesehatan, mereka harus terpenuhi. Masalah ini harus segera dituntaskan, karena setiap anak yang hilang dalam kabut lem berarti satu masa depan Papua Selatan yang ikut pudar,” katanya dengan suara lembut namun tegas.

Ia berjanji, akan mengajak semua pihak untuk bersatu mengatasi persoalan ini. Bukan dengan amarah, tapi dengan kepedulian nyata, agar anak-anak yang saat ini tersesat di jalanan bisa kembali merasakan kasih, pelukan, dan kesempatan untuk bermimpi.

“Anak-anak ini bukan sekadar statistik atau berita di koran. Mereka adalah generasi kita. Kalau kita biarkan mereka hilang dalam kabut lem, siapa yang akan menjaga masa depan Papua Selatan?” ujarnya lirih, matanya berkaca-kaca membayangkan masa depan yang masih bisa diperjuangkan.

Anggota DPRD Merauke Maria Salome Kanden. (Foto RRI)


Ketika Hukum Tak Turun ke Jalan

Kepala Satpol PP Merauke, Frans Kamijai, mengatakan bahwa tidak adanya peraturan daerah membuat aparat sulit melakukan penindakan.

“Kami hanya bisa menertibkan mereka sementara. Setelah dilepas, mereka kembali ke jalan. Tanpa perda dan tempat rehabilitasi, kami tidak punya pilihan lain.”

Sementara itu, tokoh gereja Pendeta Jelira menilai fenomena anak aibon adalah “panggilan moral bagi seluruh umat”.

“Anak-anak ini bukan sampah. Mereka diciptakan Tuhan sama seperti kita. Kalau kita biarkan mereka rusak di jalan, berarti kita kehilangan nurani.”

Mimpi yang Menguap di Udara Malam

Di emperan toko itu, Joni dan Steven masih duduk berdampingan.

Mereka berbagi sisa nasi bungkus, lalu menengadah ke langit.

Bulan pucat menggantung di atas Merauke, menyinari wajah dua anak yang tak tahu ke mana harus pulang.

“Kalau saya besar, mau jadi tentara,” kata Joni pelan. “Biar bisa jaga orang, biar mama bangga kalau masih ada.”

Tapi malam terlalu panjang, dan masa depan terlalu jauh bagi anak yang hidup dari kaleng lem. Sedikit demi sedikit, mereka terlelap.

Di tangan mereka, kaleng aibon masih tergenggam erat. Di udara, aroma kimia menyatu dengan udara laut yang asin.

Dan di sanalah, mimpi mereka perlahan menguap, bersama udara malam yang diam.

Refleksi: Di Mana Nurani Kita ?

Fenomena anak aibon bukan sekadar berita lokal. Ini adalah cermin retak dari wajah bangsa. Cermin tentang anak-anak yang kehilangan masa depan di depan mata kita, tanpa seorang pun berbuat cukup untuk menyelamatkan mereka.

Pasal 34 UUD 1945 menyebutkan, “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.”

Tapi di emperan toko Jalan Parakomando, mereka justru dipelihara oleh dingin malam, bau lem, dan kesepian. Mungkin, di tengah hiruk pikuk dunia yang sibuk, kita lupa bahwa masa depan Indonesia sedang duduk di trotoar, memegang kaleng kecil, menghirup mimpi yang seharusnya kita jaga.

Rekomendasi Berita