Ketika Negara Hadir di Hutan

  • 05 Okt 2025 11:39 WIB
  •  Merauke

KBRN, Merauke : Di ujung timur Indonesia, saat pagi belum sepenuhnya terbangun dan kabut masih memeluk pepohonan, berdirilah rumah-rumah kayu yang menjulang di atas batang pohon raksasa. Di sanalah Suku Korowai tinggal, jauh dari keramaian, dekat dengan langit.

Mereka disebut manusia pohon. Hidup setinggi harapan, namun jauh dari perhatian. Rumah mereka berdiri 20 hingga 30 meter dari tanah, dijangkarkan di atas batang pohon. Di sanalah mereka memasak, tidur, menenun, melahirkan, dan menangisi kehilangan.

Baca juga : Pegadaian MengEMASkan Papua

Tidak ada jalan raya. Tidak ada suara sirene. Tak ada klinik yang bisa dijangkau dalam hitungan menit. Ketika sakit datang di Dusun Dayo Distrik Yaniruma Kabupaten Bovendigoel, mereka hanya bersandar pada daun-daun hutan, pada api unggun, dan pada doa-doa yang pelan.

Hingga suatu hari, kartu kecil berwarna hijau itu tiba: BPJS Kesehatan.

Anak anak Suku Korowai di Dusun Dayo Distrik Yaniruma Kabupaten Boven Digoel ketika sedang bermain di hutan ( Foto RRI)


Mama Bisa Hidup Lagi

Hujan deras malam itu mengalir dari atap daun ke tanah berlumpur. Di dalam rumah pohon, Ahowa terkulai lemah. Tubuhnya panas, napasnya terbata. Putrinya, Yinore Lopom (34), bersimpuh di sampingnya.

“Kami sudah gali lubang di bawah pohon,” bisik Yinore.

Namun sebelum pagi datang, suara langkah kaki menembus rimba. Seorang agen pesiar hadir, membawa kabar dan kartu kecil berwarna hijau: BPJS Kesehatan.

Dengan bantuan warga, Ahowa diturunkan. Mereka menyusuri akar, menyeberangi sungai, hingga tiba di Puskesmas Yaniruma.

“Kalau tidak ada BPJS, mama saya sudah tidak ada,” ucap Yinore dengan mata sembap.

Dua Nisan Menggores Duka

Moriva Lenor (41) berdiri kaku di bawah rumah pohonnya. Di tanah merah yang basah, dua gundukan kecil tertata rapi. Di sanalah dua anaknya terbaring.

Yang pertama pergi karena malaria. Yang kedua hanya karena luka di kaki yang membusuk dan menjalar.

“Cuma luka kecil di jari. Tapi pelan-pelan membiru. Anak saya bilang, ‘Mama, kakiku dingin...’ lalu dia diam selamanya,” kenangnya dengan suara pecah.

Beberapa hari kemudian, seseorang datang ke rumahnya. Ia naik tangga kayu yang curam dan menyerahkan kartu kecil itu.

“Bu, sekarang kalau ada yang sakit, bisa berobat tanpa bayar. Ini BPJS.”

Moriva hanya menatap kartu itu lama. Ia peluk erat, seakan sedang memeluk anaknya yang tak sempat diselamatkan.

Anak Saya Tidak Jadi Mati

Nama anaknya adalah Kilop, usianya baru 6 tahun. Ibunya, Mabel Pue (29), bercerita dengan mata berkaca-kaca di depan rumah pohon mereka yang beratap rumbia.

“Saya kira dia akan menyusul kakaknya. Demamnya tinggi, matanya melayang,” kata Mabel pelan.

Dulu, kakak Kilop meninggal karena tak sempat dibawa berobat. Kini, mereka punya kartu BPJS.

Dengan panik, Mabel menggendong Kilop turun dari rumah pohon, lalu meminta bantuan warga membawanya ke puskesmas. Di sanalah, untuk pertama kalinya, ia tidak perlu berpikir soal biaya.

“Saat perawat bilang anak saya bisa sembuh, saya menangis. Saya peluk kartu itu. Saya peluk Kilop lebih kuat dari sebelumnya,” tuturnya. “Tuhan kirim BPJS sebelum terlambat.”

Lagu Itu untuk Anak Saya

Lunema (42) duduk memandangi selimut kecil yang kini tak lagi hangat. Malam itu, putrinya demam. Tubuh mungil itu menggigil. Tapi sungai terlalu deras, malam terlalu gelap, dan waktu terlalu cepat.

“Saya tunggu pagi, tapi anak saya lebih dulu pergi,” katanya pelan.

Beberapa hari kemudian, dua petugas datang. Mereka membawa kartu BPJS. Tapi yang tersisa hanyalah nisan kecil di bawah pohon sagu.

“Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata, ketika aku harus pergi...”

— Ebiet G. Ade

Kini, di atas rumah pohon, ibu-ibu menyanyikan lagu itu sebagai doa. Agar tak ada lagi anak yang pergi diam-diam, tanpa pernah tahu bahwa harapan sebenarnya sedang dalam perjalanan.

Mama dan anak Suku Korowai ketika beraktifitas di Dusun Dayo. (Foto RRI).


Anak Korowai Tak Lagi Takut Sakit

Yugum (12), murid kelas 6 SD di Yaniruma, kini tahu arti sebuah kartu. Ia menyimpannya dalam tas sekolah, dibungkus plastik bening.

“Kalau saya sakit, saya bisa ke puskesmas, tidak bayar,” ujarnya malu-malu.

Dulu, katanya, teman-temannya takut demam karena tidak tahu harus berobat ke mana. Sekarang mereka saling mengingatkan, “Jangan lupa bawa kartu hijau kalau sakit.”

Yugum bermimpi jadi perawat suatu hari nanti.

“Biar saya bisa sembuhkan orang-orang di rumah pohon,” katanya sambil menatap langit di sela dedaunan.


Air Mata Agen Pesiar

Namanya Yustus Nawuka, agen pesiar yang telah lebih dari sepuluh kali mendaki rumah pohon. Ia bukan hanya membawa kartu, tapi juga pelukan negara bagi yang nyaris putus harapan.

“Saya pernah sampai di satu rumah pohon, dan ibu di sana menangis karena anaknya baru saja dikubur. Ia bilang, ‘Tuhan kirim kamu telat sehari saja,’” tutur Yustus dengan suara lirih.

Ia mengaku sering menangis diam-diam saat turun dari rumah pohon. Bukan karena lelah, tapi karena merasa selalu datang terlambat.

“Tapi saya tidak menyerah. Saya tahu, satu kartu bisa menyelamatkan satu keluarga,” tambahnya. “Saya ingin jadi jembatan, agar tidak ada lagi ibu yang menangis tanpa tahu harus ke mana.”


Doa dari Balik Daun Kering

Pendeta Elianus Lepuk (53), tokoh agama yang melayani jemaat di Yaniruma, mengaku sering mendengar keluhan soal akses berobat.

“Dulu kalau ibunya sakit, anak hanya bisa menangis. Mereka berdoa di bawah rumah pohon, berharap mujizat. Tapi sekarang mereka tahu, ada pertolongan yang nyata datang bersama BPJS,” ucapnya.

Ia mengatakan, sejak BPJS hadir, semakin banyak warga datang untuk meminta doa sebelum berobat—bukan hanya saat kematian datang.

“Harapan itu hidup kembali. Sekarang kalau ada yang sakit, mereka bilang: ‘Tuhan, bantu saya turun ke puskesmas.’ Itu artinya mereka percaya ada jalan,” katanya sambil menatap langit pagi yang tertutup kabut.

Satu Kartu, Seribu Harapan

Kambutop Weremba, Kepala Distrik Yaniruma, menyaksikan langsung perubahan di dusun-dusun rumah pohon.

“Sebelum BPJS, warga takut berobat. Mereka pikir harus bayar mahal. Sekarang, mereka tahu mereka juga bagian dari bangsa ini,” ucapnya.

Agen pesiar datang sebagai jembatan. Mereka menyusuri hutan, mendaki rumah pohon, mengetuk pintu-pintu kayu yang lama sunyi. Mereka membawa kabar baik dan satu kalimat yang membuat hati warga mencair: “Negara belum lupa kalian.”

UHC dari Goresan Peluh Agen Pesiar

Erika Lumban Gaol, Kepala BPJS Kesehatan Merauke, menyebut cakupan Universal Health Coverage (UHC) di Kabupaten Boven Digoel hampir mencapai 100 persen.

“Capaian ini bukan hasil kerja di kantor. Ini datang dari kaki-kaki para agen pesiar yang menembus belantara, rumah pohon, lumpur, akar, dan derasnya hujan,” ujarnya.

Ia menambahkan, warga Suku Korowai adalah bukti bahwa kehadiran negara bisa dirasakan, bahkan di tempat yang tak dikenal peta.

Kepala BPJS Kesehatan Merauke Erika Lumban Gaol ( Foto RRI)


BPJS Menyelamatkan Orang Korowai

Bupati Boven Digoel, Hengky Yaluwo, menegaskan komitmennya bahwa tak satu pun warga, termasuk suku adat terpencil, boleh dibiarkan sendiri menghadapi sakit.

“BPJS bukan program biasa. Ini bentuk kasih negara. Kami akan terus mendorong agar seluruh masyarakat di distrik-distrik terpencil mendapat perlindungan,” katanya.

Ia juga mengajak semua pihak menjaga keberlanjutan program ini.

“Karena di rumah pohon itu, ada harapan yang hidup. Dan BPJS telah menjadi pelindung harapan itu.”

Harapan Kini Hidup di Rumah Pohon

Kini, kartu BPJS digantung di dinding rumah pohon. Dibungkus plastik bening, dijaga seperti harta pusaka. Anak-anak mulai tahu bahwa jika mereka sakit, mereka bisa disembuhkan. Ibu-ibu mulai tahu bahwa tangisan bukan satu-satunya obat.

Namun di bawah pohon-pohon itu, masih ada kuburan kecil yang diam. Masih ada nama yang tak sempat melihat kartu.

Mereka memang tak sempat merasakan perubahan. Tapi perubahan itu kini hidup untuk melindungi saudara-saudaranya yang masih bernapas.

Dan setiap malam, di atas rumah pohon yang ditiup angin, terdengar bisikan:

“Tuhan, jangan ambil anakku lagi.”

Rekomendasi Berita