Dari Rumah Pohon ke Rumah Impian
- 09 Feb 2026 10:24 WIB
- Merauke
RRI.CO.ID, Merauke : Di ketinggian belasan meter dari tanah, di antara rimbun hutan Dusun Dayo, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel, seorang anak laki-laki pernah menatap dunia dari lantai kayu rumah pohon. Dialah Ananias Yaluwo, lelaki dari suku Korowai yang masa kecilnya dilewati di atas rumah pohon, rumah yang dibangun untuk menjauh dari banjir, binatang buas, dan ancaman alam.
Angin malam yang menggoyang dinding anyaman sagu menjadi lagu pengantar tidur. Tangga kayu yang curam menjadi saksi langkah-langkah kecilnya menuju masa depan yang kala itu terasa begitu jauh.
“Saya tidak pernah membayangkan akan punya rumah di kota,” tutur Ananias lirih. Di atas rumah pohon itulah ia belajar tentang kerasnya hidup, tentang hujan yang merembes dari celah atap, tentang api unggun kecil yang menjadi penghangat sekaligus penerang," Ujar Ananias, Senin 2 Februari 2025.
Namun di balik sunyi hutan, tersimpan mimpi yang pelan-pelan tumbuh.
Dari Pedalaman ke Kantor Pemerintah
Takdir membawanya menempuh pendidikan hingga akhirnya diterima sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan Pemerintah Provinsi Papua Selatan di Merauke. Kota yang dulu hanya ia dengar dari cerita, kini menjadi tempatnya mengabdi.
Di ruang-ruang kantor yang dingin oleh pendingin udara, Ananias kerap teringat rumah pohon di Dusun Dayo.
“Setiap kali saya duduk di meja kerja, saya teringat orang tua saya di kampung. Saya ingin mereka tahu bahwa anak dari rumah pohon juga bisa bekerja di pemerintahan,” katanya.
Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan jarak, tetapi lompatan peradaban. Dari lantai kayu yang berderit ke lantai keramik yang licin. Dari pelita ke lampu listrik. Dari hutan sunyi ke denyut kota perbatasan.
.webp)
Menumpang di Kota Orang
Namun menjadi pegawai negeri tak serta-merta membuat hidupnya mudah. Sejak pindah ke Merauke, Ananias belum memiliki rumah sendiri. Ia menumpang di rumah teman, berpindah dari satu kamar sempit ke kamar lainnya.
“Kadang saya merasa tidak enak. Saya pegawai, tapi belum punya rumah. Saya ingin mandiri,” ucapnya pelan.
Di kota yang terus tumbuh, harga rumah terasa tinggi bagi seorang pegawai baru. Setiap malam, saat merebahkan badan di kamar pinjaman, ia memikirkan satu hal, sampai kapan harus menumpang.
Berani Memilih Rumah DP Nol Persen
Harapan itu datang melalui program perumahan DP nol persen yang digagas Pemerintah Daerah Merauke. Program yang memberi kesempatan masyarakat, termasuk ASN, memiliki rumah tanpa beban uang muka.
Dengan keberanian yang ia kumpulkan perlahan, Ananias mendaftarkan diri. “Saya sempat ragu. Tapi saya ingat perjuangan orang tua saya. Saya harus berani,” katanya.
Ketika kunci rumah itu akhirnya berada di tangannya, ia terdiam lama. Rumah sederhana dengan dinding kokoh itu bukan sekadar bangunan, ia adalah simbol perubahan hidup. Dari rumah pohon yang terbuka pada angin, kini ia memiliki atap yang pasti, pintu yang bisa dikunci, dan ruang yang bisa ia sebut milik sendiri. Air matanya jatuh tanpa suara.

Bank BTN dan Harapan di Balik Layanan Sederhana
Program itu berjalan berkat dukungan pembiayaan dari Bank BTN. Meski di Merauke layanan masih memanfaatkan kantor pos karena belum memiliki kantor cabang sendiri, Ananias mengaku sangat terbantu.
“Prosesnya jelas. Saya dibimbing. Walaupun lewat layanan kantor pos, tetap terasa mudah dan membantu,” ujarnya.
Bagi Ananias, sistem pembayaran yang ringan dan terjangkau membuatnya tidak lagi dihantui kecemasan tiap akhir bulan. Ia bisa mengatur gaji, membantu keluarga di kampung, dan tetap membayar cicilan rumah dengan tenang.
Rumah itu kini menjadi tempatnya menyusun doa-doa baru.
Dalam Genggaman Bale by BTN
Di sela kesibukannya sebagai ASN, Ananias kini tak lagi harus datang jauh hanya untuk memastikan cicilan rumahnya terbayar. Lewat layar kecil di tangannya, melalui aplikasi Bale by BTN dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, ia bisa membayar angsuran rumahnya hanya dalam hitungan menit.
Di kamar yang masih sederhana itu, ia pernah duduk sendirian, menatap notifikasi pembayaran yang berhasil. Tidak ada perayaan. Hanya napas panjang yang akhirnya terasa ringan.
“Sekarang saya tidak takut terlambat bayar. Semua bisa saya cek dari HP,” ucapnya pelan.
Bagi banyak orang, itu mungkin sekadar layanan digital. Namun bagi Ananias, Bale by BTN adalah rasa tenang. Dari ponsel yang dulu bahkan tak pernah ia bayangkan miliki saat tinggal di rumah pohon tanpa listrik, kini ia memastikan rumah permanennya tetap terjaga, dibayar tepat waktu, satu sentuhan jari, satu harapan yang terus ia rawat.

Bupati: Hunian Murah, Jawaban Sebuah Doa
Pemerintah Kabupaten Merauke, Papua Selatan, menghadirkan program hunian murah dengan DP nol rupiah, tanpa uang muka, bagi masyarakat umum, pegawai negeri, hingga anggota TNI-Polri. Program ini lahir dari kenyataan bahwa banyak keluarga bekerja keras, tetapi tak pernah mampu menembus mahalnya biaya awal memiliki rumah.
Program tersebut dijalankan melalui kerja sama dengan PT Arya Nusantara Sartika sebagai pengembang dan Bank Tabungan Negara (BTN) sebagai penyalur kredit. Proyeknya dibangun di Jalan Irian Cikombong, Kelurahan Kamundu, Distrik Merauke, dengan nama Perumahan Banggu Permai Residence.
Rumah tipe 36/96 itu sederhana, dua kamar tidur, satu kamar mandi, dapur, ruang tamu, dan halaman untuk satu mobil, namun bagi banyak keluarga, itulah arti kepastian. Sebanyak 1.156 unit direncanakan dibangun, dengan 200 unit pada tahap awal.
Bupati Merauke, Yoseph Bladib Gebze, menyebut program ini sebagai bagian dari komitmen 100 hari kerja bersama Wakil Bupati Fauzun Nihayah, sekaligus dukungan terhadap program nasional tiga juta rumah.
Menurutnya, sandang, pangan, dan papan adalah kebutuhan dasar yang wajib dijawab pemerintah. Program tanpa uang muka ini diharapkan menyentuh masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah dan aparatur negara yang bertugas di wilayah perbatasan.
Ke depan, Pemkab Merauke juga merencanakan pengembangan program serupa di distrik dengan kepadatan tinggi seperti Jagebob, Tanah Miring, dan Semangga, agar semakin banyak keluarga tak lagi sekadar menumpang, tetapi benar-benar pulang ke rumahnya sendiri.

Pengembang: Menjaga Harapan yang Dititipkan
Di balik deretan fondasi yang mulai ditanam, ada tanggung jawab besar yang dipikul pengembang. Direktur PT Arya Nusantara Sartika, Nanang, mengatakan program hunian murah ini adalah amanah dari Pemerintah Kabupaten Merauke yang harus diwujudkan dengan hati.
“Kami tidak hanya membangun rumah, tetapi tempat berlindung yang aman dan nyaman. Bebas banjir, akses jalan yang baik, ada pos polisi, pos keamanan, rumah ibadah, dan fasilitas penunjang kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Nanang memahami, bagi banyak keluarga, satu rumah sederhana bisa mengakhiri tahun-tahun menumpang dan kecemasan setiap musim hujan. Karena itu, ia berkomitmen merampungkan proyek tersebut secepat mungkin agar masyarakat segera menempatinya.
“Kami memberi program gratis DP, akses yang mudah, serta rekayasa sistem drainase yang terkoneksi saluran primer agar kawasan ini bebas banjir,” katanya.
Ia juga menegaskan peran Bank Tabungan Negara (BTN) dalam program tersebut. “BTN menjadi mitra penting dalam penyaluran kredit. Melalui skema pembiayaan yang memudahkan, masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, ASN, hingga TNI-Polri bisa memiliki rumah tanpa terbebani uang muka,” ujar Nanang.
Di lahan yang kini perlahan berubah menjadi kawasan hunian, bukan hanya tembok yang didirikan, tetapi juga harapan agar setiap keluarga punya tempat pulang yang pasti.
Kantor POS: Jembatan Sunyi Menuju Rumah Impian
Di tengah keterbatasan layanan perbankan di ujung timur negeri, Kantor POS Merauke menjadi simpul yang diam-diam menghubungkan harapan warga dengan rumah impian mereka.
Kepala Dukungan Umum Kantor POS Merauke, Farhan Rizky, mengatakan meski Bank BTN belum memiliki kantor cabang di Merauke, pelayanan kepada nasabah tetap berjalan melalui kerja sama dengan Kantor POS Cabang Merauke.
“Meski belum memiliki kantor di Merauke, Bank BTN siap melayani nasabah melalui kerja sama pelayanan di Kantor POS Cabang Merauke,” ujar Farhan.
Sepanjang tahun 2025, layanan BTN di Kantor POS Merauke mencatat empat jenis transaksi yakni BTN Cetak Cover Buku Tabungan, BTN Setor dengan Buku dengan total Rp654.376.000, BTN Setoran Tanpa Buku Tabungan sebesar Rp11.044.952.546, serta BTN Penarikan Tunai senilai Rp461.554.000.
Angka-angka itu mungkin tampak sebagai deretan nominal. Namun bagi Farhan, di balik setiap setoran dan penarikan ada cerita tentang gaji yang disisihkan, tentang cicilan yang dibayar dengan penuh harap, tentang keluarga yang perlahan mendekati pintu rumahnya sendiri.
Di loket sederhana itulah, harapan tentang rumah tak lagi terasa jauh, meski kantor bank belum berdiri, pelayanan tetap hadir, menjaga mimpi-mimpi kecil agar tidak padam di perbatasan.

BTN: Menjaga Asa Rumah Subsidi
Di tingkat nasional, Bank BTN kembali menegaskan perannya sebagai salah satu dari 10 bank penyalur KPR Sejahtera FLPP tertinggi yang menandatangani perjanjian kerja sama penyaluran FLPP tahun 2026.
Direktur Consumer Banking BTN, Hirwandi Gafar, mengatakan BTN berkomitmen mengoptimalkan penyaluran KPR FLPP sebagai bagian dari dukungan terhadap Program 3 Juta Rumah pemerintah.
“BTN masih menjadi bank penyalur KPR Subsidi terbesar secara nasional. Portofolio KPR Subsidi mencapai 64 persen dari total portofolio KPR BTN. Pertumbuhannya stabil sepanjang 2025 dan kami berharap meningkat pada 2026, seiring kebutuhan rumah layak dan terjangkau bagi MBR,” ujar Hirwandi.
Di tengah tantangan cuaca yang menghambat pembangunan dan kendala perizinan di lapangan, BTN tetap menyalurkan KPR Sejahtera FLPP bagi masyarakat yang membutuhkan hunian.
“Permintaan terus meningkat. Kami siap menyalurkan sesuai pipeline yang tersedia dan akan terus berdiskusi dengan pemerintah serta pengembang agar penyaluran lebih efektif,” katanya.
Pada 2026, BTN juga akan memperkuat penyaluran KPR Subsidi dengan menjangkau lebih banyak calon debitur melalui kerja sama dengan berbagai institusi dan korporasi yang memiliki ribuan karyawan.
Bagi BTN, angka-angka itu bukan sekadar portofolio. Di dalamnya ada wajah-wajah pekerja yang menabung diam-diam, berharap suatu hari bisa membuka pintu rumah yang akhirnya mereka miliki sendiri.
Menteri PKP: Target yang Menyimpan Harapan
Di tengah deretan data penyaluran rumah subsidi, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menyampaikan apresiasi atas kontribusi BTN. Ia berharap dukungan itu terus berlanjut demi mengejar target nasional 350.000 unit rumah pada 2026.
| Baca juga: Donor Darah Warnai Hari Bakti TNI AU |
“Terima kasih atas dukungan BTN dan seluruh bank penyalur. Semoga kita bisa terus membantu rakyat, karena perbankan adalah bagian penting dalam menghadirkan rumah bagi masyarakat,” ujarnya.
Bagi Menteri PKP, angka 350.000 unit bukan sekadar target tahunan. Di dalamnya ada keluarga-keluarga kecil yang masih bertahan di rumah kontrakan sempit, ada orang tua yang menabung dari sisa gaji, ada anak-anak yang bermimpi punya kamar sendiri. Target itu adalah tentang mempercepat hari ketika mereka akhirnya tak lagi menunggu dan benar-benar pulang ke rumahnya sendiri.
Presiden: Rumah Layak untuk Martabat Rakyat
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi kepada PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) atas perannya mendukung pemenuhan rumah rakyat melalui penyaluran KPR FLPP yang mencapai 182.952 unit pada 2025, tertinggi di antara seluruh bank penyalur secara nasional.
Berdasarkan data BP Tapera, hingga 19 Desember 2025 total penyaluran KPR FLPP nasional mencapai 263.017 unit senilai Rp32,67 triliun, melibatkan 39 bank penyalur, 22 asosiasi pengembang, dan 7.998 pengembang.
Rumah subsidi itu tersebar di 12.981 perumahan di 33 provinsi dan 401 kabupaten/kota. Dari angka tersebut, BTN mendominasi sekitar 70 persen penyaluran nasional.
“Saya mengucapkan terima kasih untuk semua pihak yang hari ini bersatu sehingga kita bisa memberikan kualitas hidup kepada rakyat kita. Mereka harus punya rumah yang layak. Ini sangat membanggakan, tapi masih jauh dari yang harus kita capai,” ujar Presiden dalam acara akad massal KPR Sejahtera 2025.
Ia mengingatkan, masih ada 29 juta rakyat yang belum memiliki rumah. Karena itu, seluruh pemangku kepentingan, pemerintah dan pelaku ekosistem perumahan, diminta bekerja lebih keras dan menjaga kualitas hunian yang dibangun.
Di balik angka ratusan ribu unit itu, tersimpan jutaan keluarga yang masih menunggu. Sebab bagi mereka, rumah bukan sekadar bangunan, melainkan harga diri, rasa aman, dan harapan akan hidup yang lebih layak.

Rumahku Istanaku
Sore merambat pelan di atas atap rumah barunya. Dindingnya sederhana, halamannya belum ditanami apa-apa. Bau semen masih terasa. Tetapi di sanalah Ananias berdiri, terpaku, seolah takut berkedip karena khawatir semua ini hanya mimpi yang terlalu indah.
Dari rumah pohon di pedalaman Yaniruma yang lantainya berderit dan atapnya bocor saat hujan, kini ia memegang kunci rumah permanen di kota. Dulu ia tidur ditemani suara rimba dan dingin malam yang menembus celah dinding.
Kini ia memutar kunci pintu dan merasakan tenang yang tak pernah benar-benar ia kenal sebelumnya.
Ia duduk di lantai ruang tamu yang masih kosong. Tak ada sofa, tak ada lemari, hanya tas kerja dan sehelai tikar. Namun di ruang sunyi itulah air matanya jatuh. Ia teringat orang tuanya yang masih bertahan di rumah pohon, memanjat tangga kayu setiap hari dengan tubuh yang tak lagi muda.
Rumah ini bukan sekadar tempat berteduh. Ia adalah jarak yang berhasil ia tempuh dari masa kecil yang keras menuju masa depan yang lebih pasti.
Ananias sadar, tanpa keberanian mengambil kesempatan dan dukungan pembiayaan dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk melalui program KPR subsidi tanpa uang muka, ia mungkin masih berpindah dari satu kamar pinjaman ke kamar lainnya.
Ketika malam turun dan lampu rumah itu menyala untuk pertama kalinya, ia berdiri di depan pintu, menatap langit Merauke yang perlahan gelap. Di balik rasa syukur itu, ada harapan yang belum selesai, membawa kedua orang tuanya turun dari rumah pohon, agar suatu hari mereka bisa duduk bersamanya di rumah sederhana ini.
Dan di antara sunyi yang mengisi ruangan kosong itu, Ananias akhirnya mengerti, perjalanan panjangnya belum berakhir, tetapi untuk pertama kalinya, ia memiliki tempat untuk pulang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....