Menembus Rimba Papua Demi Data

  • 30 Jun 2026 15:06 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Tok... tok... tok...

Suara pangkur menghantam batang sagu memecah kesunyian hutan Kampung Danuwage, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel.

Bunyi itu terdengar berulang-ulang, berpadu dengan tawa anak-anak Korowai yang berlarian tanpa alas kaki di bawah rumah-rumah pohon.

Di kejauhan, seorang ibu mengumpulkan pati sagu ke dalam noken, sementara asap tipis mengepul dari tungku kayu.

Begitulah pagi dimulai di pedalaman Papua.

Tak ada suara klakson.

Tak ada dering telepon.

Tak ada tanda bahwa dunia modern pernah singgah di tempat itu.

Di atas pohon setinggi 15 hingga 30 meter, berdiri rumah-rumah sederhana yang menjadi tempat berlindung Suku Korowai.

Leluhur mereka membangunnya tinggi agar keluarga terhindar dari roh jahat, binatang buas, dan musuh yang datang tanpa diketahui.

Sebagian laki-laki dan perempuan masih mengenakan cawat dari kulit kayu.

Mereka hidup dari hutan, berburu, menangkap ikan, dan mengolah sagu untuk bertahan hidup.

Dulu, Korowai dikenal karena kisah kanibalisme yang pernah menjadi bagian dari sejarah mereka.

Sekitar 35 tahun lalu, misionaris Belanda membuka jalan bagi dunia luar untuk mengenal manusia-manusia pohon itu.

Namun setelah dunia mengenal mereka, tidak berarti kehidupan mereka menjadi mudah.

Sampai hari ini, sinyal telepon belum mampu mencapai kampung itu.

Jalan darat belum menghubungkannya dengan kota.

Dan untuk sekadar mencatat kehidupan mereka, seseorang harus rela mempertaruhkan tenaga, waktu, bahkan keselamatannya.

Itulah yang dilakukan petugas Sensus Ekonomi.

Mereka datang bukan membawa bantuan.

Mereka hanya membawa sebuah buku catatan.

Tetapi buku kecil itu menyimpan harapan yang jauh lebih besar daripada ukurannya.

Salah satu rumah pohon Suku Korowai di Kampung Danuwage. (Foto RRI)

Menulis Harapan

Alexander Kinop mengusap lumpur yang menempel di sepatunya.

Sejak pagi ia berjalan melewati rawa, menyeberangi sungai, lalu memanjat rumah-rumah pohon yang menjulang puluhan meter.

Telepon genggam yang dibawanya sebenarnya telah terpasang aplikasi Sensus Ekonomi.

Namun benda itu tak lebih dari sekadar penunjuk waktu.

Tak ada jaringan.

Tak ada internet.

Tak ada cara untuk mengirim data.

Alexander pun membuka buku catatan yang selalu ia lindungi dari hujan.

Di sanalah ia menulis setiap nama, setiap usaha, dan setiap cerita yang disampaikan warga.

"Pendataannya sebenarnya lewat aplikasi di handphone. Tapi di sini tidak ada jaringan. Jadi kita tulis dulu di buku. Setelah kembali ke kota, baru kita masukkan ke aplikasi secara online," katanya.

Bagi Alexander, perjalanan pulang bukan berarti tugas selesai.

Perjalanan pulang justru menjadi awal perjuangan berikutnya, membawa catatan-catatan itu keluar dari hutan agar akhirnya bisa menjadi data negara.

Alexander Kinop ketika harus menyeberang rawa untuk melaksanakan sensus ekonomi bagi warga Suku Korowai. (Foto RRI)

Meraih Kepercayaan

Thomas Nipko masih mengingat rumah pohon pertama yang ia datangi.

Tak seorang pun turun menyambut.

Anak-anak hanya mengintip dari balik dinding kayu.

Orang-orang dewasa memperhatikan dari atas dengan tatapan penuh curiga.

Thomas tidak memanggil mereka.

Ia memilih duduk di bawah pohon.

Menunggu.

Membiarkan waktu yang memperkenalkan dirinya.

Barulah setelah beberapa saat, seorang warga turun perlahan.

Percakapan sederhana pun dimulai.

"Yang paling sulit bukan jalannya, tapi buat mereka percaya kalau kita datang untuk bantu, bukan mengganggu," ujarnya.

Sejak saat itu, satu demi satu rumah pohon mulai membuka pintunya.

Thomas Nipko harus melewati jalan berlumpur untuk melakukan sensus ekonomi bagi warga Suku Korowai. (Foto RRI)

Tak Seorang Tertinggal

Bagi Ananias Onim, perjalanan sensus selalu meninggalkan bekas.

Sepatu penuh lumpur.

Pakaian basah oleh hujan.

Tubuh dipenuhi gigitan serangga.

Tetapi semua itu tak pernah menjadi alasan untuk berhenti.

Sebagai petugas sensus, ia percaya setiap langkah menuju pedalaman adalah langkah untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal dari pembangunan.

"Kalau kita menyerah karena medan berat, mungkin ada keluarga yang tidak pernah tercatat. Itu yang tidak kita inginkan," katanya.

Di tengah hutan yang sunyi, Ananias memahami bahwa tugas mereka bukan sekadar menghitung kegiatan ekonomi.

Mereka sedang memastikan bahwa kehidupan sekecil apa pun tetap memiliki tempat dalam catatan Indonesia.

Ananias Onim ketika melakukan sensus ekonomi bagi warga Suku Korowai. (Foto RRI)

Harapan Korowai

Silas Kimbut, salah seorang warga Suku Korowai, berdiri di depan rumah pohonnya sambil menggendong anaknya.

Tatapannya mengikuti ujung pena Alexander yang mencatat setiap jawaban di buku pendataan.

Dengan suara pelan, ia bertanya,

"Apakah nanti pemerintah tahu kita tinggal di sini?"

Setelah mendapat penjelasan bahwa pendataan itu dilakukan agar pemerintah memiliki data yang lengkap untuk menyusun kebijakan pembangunan, Silas mengangguk pelan.

"Saya hanya mau anak-anak kita bisa sekolah dan tidak takut kalau sakit," katanya lirih.

Tak ada permintaan tentang rumah baru.

Tak ada permintaan tentang uang.

Ia hanya berharap anak-anak Suku Korowai memiliki kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan layanan kesehatan yang lebih baik, sesuatu yang selama ini terasa begitu jauh dari pedalaman hutan tempat mereka tinggal.

Pesan Terakhir

Saat matahari mulai condong ke barat, warga Korowai lainnya, Yunus Mitinko, mengantar petugas hingga tepi hutan.

Ia memperhatikan buku catatan yang dibawa Alexander.

Di dalam buku itulah, untuk pertama kalinya, identitas dan keberadaan keluarganya didata sebagai bagian dari Sensus Ekonomi 2026.

Dengan suara pelan ia berkata,

"Kalau sudah pulang, jangan lupa kita."

Tak ada kalimat panjang.

Namun ucapan sederhana itu membuat langkah para petugas terasa lebih berat daripada saat mereka datang.

Kalimat tersebut bukan sekadar pesan perpisahan, melainkan harapan agar masyarakat Korowai tidak lagi menjadi kelompok yang terlupakan dan pembangunan benar-benar dapat menjangkau hingga rumah-rumah pohon di pedalaman Papua.

Negara Hadir

Perjuangan petugas Sensus Ekonomi menembus hutan, menyeberangi sungai, hingga memanjat rumah-rumah pohon untuk menjangkau masyarakat Korowai menjadi bukti bahwa negara tetap hadir hingga ke wilayah terpencil.

Kepala Distrik Yaniruma, Kambutop Weremba, mengatakan kehadiran petugas membawa harapan bagi masyarakat yang selama ini hidup jauh dari pusat pemerintahan.

"Masyarakat Korowai hidup jauh dari kota, tetapi mereka tidak boleh jauh dari perhatian negara," katanya.

Ia mengimbau masyarakat menerima kedatangan petugas dan memberikan informasi yang jujur agar pendataan dapat berjalan dengan baik.

Data Membangun

Bentang alam Boven Digoel yang didominasi hutan, sungai, dan wilayah terpencil menjadikan pendataan sebagai tantangan tersendiri.

Dari 112 kampung yang tersebar di kabupaten ini, sebagian besar hanya dapat dijangkau melalui jalur sungai, hutan, atau transportasi udara.

Bupati Boven Digoel, Roni Omba, menegaskan setiap data yang dikumpulkan petugas Sensus Ekonomi akan menentukan arah pembangunan daerah.

"Kalau datanya benar, pembangunan bisa menjangkau mereka yang selama ini sulit dijangkau," ujarnya.

Ia mengajak masyarakat memberikan data yang benar, lengkap, dan jujur agar pemerintah dapat menyusun kebijakan yang tepat bagi peningkatan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat Korowai.

Sensus Ekonomi

Sensus Ekonomi yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali menjadi upaya Badan Pusat Statistik (BPS) memotret kondisi ekonomi masyarakat.

Di Kabupaten Boven Digoel, kegiatan ini melibatkan 91 petugas, terdiri atas 75 mitra hasil rekrutmen dan sisanya pengawas.

Seluruh petugas mengikuti pelatihan selama tiga hari, mulai dari penggunaan aplikasi, teknik wawancara, hingga menghadapi berbagai kondisi di lapangan.

Kepala BPS Kabupaten Boven Digoel, Novita Damayanti, mengatakan pelatihan tidak sepenuhnya menggambarkan beratnya perjalanan menuju kampung pedalaman seperti Danuwage.

"Kami menyadari medan yang dihadapi sangat berat. Tetapi kami ingin memastikan tidak ada satu pun masyarakat yang tertinggal dari pendataan," katanya.

Kepala BPS Kabupaten Boven Digoel Novita Damayanti ketika di wawancarai RRI. (Foto RRI)

Mencatat Indonesia

Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) bertujuan mendata seluruh pelaku usaha di Indonesia sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan yang berbasis data.

Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan data yang lengkap dan akurat menjadi fondasi pengambilan keputusan bagi pemerintah maupun pelaku usaha.

"Data yang lengkap dan akurat menjadi fondasi pengambilan keputusan. Pemerintah maupun pelaku usaha memerlukannya untuk merumuskan kebijakan dan strategi yang lebih tepat sasaran," ujarnya.

Pelaksanaan SE2026 diawali dengan rekrutmen petugas pada 8–25 Mei 2026, dilanjutkan pencanangan nasional 14 Juni 2026, serta pendataan lapangan pada 15 Juni hingga 31 Agustus 2026.

Sebanyak lebih dari 251 ribu petugas diterjunkan ke seluruh Indonesia untuk memastikan setiap pelaku usaha tercatat.

Prestasi BPS

Selain melaksanakan pendataan di seluruh Indonesia, BPS juga terus memperkuat tata kelola data dan arsip.

Komitmen tersebut mendapat pengakuan pada 20 Mei 2026 melalui penghargaan Simpul Jaringan Terbaik Nasional serta predikat Kategori AA (Sangat Memuaskan) dalam Anugerah Kearsipan 2026 yang diselenggarakan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) di Jakarta.

Penghargaan ini menegaskan keberhasilan BPS dalam menghimpun sekaligus mengelola data secara profesional, akuntabel, dan terpercaya sebagai penyedia statistik resmi Indonesia.

Langkah Terberat

Rumah pohon terakhir mulai menghilang di balik pepohonan ketika Alexander Kinop melangkah meninggalkan Kampung Danuwage.

Tak ada lagi percakapan.

Hanya lambaian tangan anak-anak Korowai yang terus mengikuti langkahnya hingga batas hutan.

Alexander berhenti sejenak dan menoleh ke belakang.

Di tempat yang sunyi itu, ia sadar bahwa perjalanan paling berat bukan saat menembus rawa, menyeberangi sungai, atau memanjat rumah pohon.

Yang paling berat adalah meninggalkan orang-orang yang menaruh harapan begitu besar pada sebuah pendataan.

"Kita hanya ingin pastikan mereka tidak terlupakan. Semoga apa yang kita kerjakan hari ini benar-benar membawa manfaat bagi mereka," ujarnya lirih.

Langkahnya kembali berlanjut.

Di belakangnya, rumah-rumah pohon perlahan tertutup kabut sore.

Membawa Harapan

Senja mulai turun.

Suara pangkur sagu kembali terdengar dari kejauhan.

Alexander Kinop menutup buku catatannya perlahan.

Beberapa halamannya mulai kusut karena hujan.

Besok ia masih harus berjalan berjam-jam melewati hutan, menyeberangi sungai, lalu menuju kota hanya untuk menemukan sebatang sinyal telepon.

Di sanalah seluruh tulisan tangan itu akan dipindahkan ke dalam aplikasi Sensus Ekonomi.

Sebelum melangkah pergi, Alexander memandang sekali lagi rumah-rumah pohon yang mulai diselimuti kabut.

Pelan ia menyanyikan lagu Ibu Pertiwi karya Ismail Marzuki.

"Kulihat Ibu Pertiwi sedang bersusah hati..."

Suaranya perlahan tenggelam bersama denting pangkur sagu yang terus menggema di tengah hutan.

Di dalam tasnya hanya ada sebuah buku catatan.

Namun di setiap halaman yang basah oleh hujan, tersimpan jejak kehidupan masyarakat Korowai yang selama ini nyaris tak terdengar.

Karena terkadang, kehadiran negara tidak selalu datang dalam bentuk bangunan megah.

Ia hadir melalui langkah-langkah sunyi seorang petugas yang rela menembus rimba, agar nama-nama di ujung negeri tetap tercatat dan harapan mereka menemukan jalan pulang menuju Indonesia.

Begitulah kisah itu ditulis, halaman demi halaman, oleh BPS Boven Digoel.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....