Sekolah Rakyat Selamatkan Masa Depan 100 Anak Papua
- 28 Mei 2026 16:10 WIB
- Merauke
RRI.CO.ID, Merauke : Suara tawa anak-anak memenuhi halaman Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke di Jalan Kamizaun Mopah, Merauke.
Tak banyak yang tahu, di balik tawa itu tersimpan kisah hidup yang berat.
Ada anak yang kehilangan ayah dan ibu akibat HIV/AIDS.
Ada yang putus sekolah karena kemiskinan.
Ada yang tumbuh bersama ayah penyandang tuna netra, hingga ada yang pernah hidup di jalanan tanpa perhatian dan kasih sayang.
Kini, mereka berada di tempat yang sama.
Belajar, bermain, dan kembali berani bermimpi.
Sejak diresmikan pada 27 Oktober 2025, Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke menjadi rumah bagi 100 anak dari keluarga kurang mampu.
Mereka terdiri dari 50 siswa SD dan 50 siswa SMP yang berasal dari keluarga desil 1 dan desil 2 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Di sekolah inilah, harapan yang sempat hilang perlahan tumbuh kembali.
Kehilangan Segalanya
Paulinus Dowen (15) masih mengingat hari ketika kedua orang tuanya meninggal dunia.
Sejak saat itu, ia tidak hanya kehilangan ayah dan ibu, tetapi juga kesempatan untuk bersekolah.
Anak asal Distrik Semangga itu terpaksa berhenti belajar karena tidak ada lagi yang membiayai kebutuhan hidup dan pendidikannya.
Saat teman-teman seusianya berangkat ke sekolah, Paulinus hanya bisa melihat dari kejauhan.
Ia sempat mengira mimpinya telah berakhir.
Harapan itu kembali datang ketika Paulinus diterima di Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke.
Kini ia kembali mengenakan seragam sekolah dan belajar bersama teman-temannya.
"Senang sekali bisa sekolah lagi. Sa mau belajar yang rajin supaya bisa jadi polisi," ujarnya.
Mata Paulinus tampak berbinar.
Mimpi yang sempat hilang kini perlahan tumbuh kembali.

Anak Pemulung
Di ruang kelas SMP, Erlin Yanggon (13) mengikuti pelajaran dengan serius.
Bagi siswi kelas 7 asal Asmat itu, duduk di bangku sekolah adalah impian yang lama tertunda.
Orang tuanya bekerja sebagai pemulung dengan penghasilan yang tidak menentu.
Jangankan membayar biaya sekolah, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari pun sering kali kesulitan.
Karena itu, Erlin sempat tidak mengenyam pendidikan.
"Sa senang bisa sekolah. Dulu tidak sekolah karena orang tua tidak punya biaya," katanya.
Kini Erlin mulai belajar membaca, menulis, dan mengejar pelajaran yang sempat tertinggal.
Baginya, Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke telah membuka kembali harapan yang lama tertutup oleh kemiskinan.
| Baca juga: Di Antara Bata dan Harapan |

Cahaya untuk Ayah
Yohanis Sam (14), siswa kelas 2 SMP asal Distrik Muting, tumbuh dalam keluarga yang penuh keterbatasan.
Ayahnya menjadi penyandang tuna netra akibat sebuah musibah, sementara ibunya pergi meninggalkan mereka.
Meski hidup dalam kesulitan, Yohanis tidak pernah menyerah pada cita-citanya untuk terus bersekolah.
"Sa ingin sekolah yang rajin supaya nanti bisa bantu bapak," katanya.
Kini Yohanis belajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke.
Baginya, sekolah bukan sekadar tempat belajar, tetapi harapan untuk mengubah masa depan dirinya dan sang ayah.
Tanpa Mama Bapa
Di antara riuh tawa anak-anak di Sekolah Rakyat, Adrianus Lewi (7) menyimpan kisah yang mengundang haru.
Siswa kelas 1 SD asal Distrik Sota itu kehilangan ayah dan ibunya akibat HIV/AIDS.
Meski kedua orang tuanya positif HIV, Adrianus dinyatakan negatif dan tumbuh sehat.
Namun kehilangan orang yang paling dicintainya membuat masa kecilnya berbeda dengan anak-anak seusianya.
Di usia yang masih sangat muda, ia harus belajar menerima kenyataan hidup tanpa mama dan bapa.
"Sa mau sekolah yang rajin supaya bisa berhasil," ujarnya pelan.
Kini Adrianus menjadi salah satu siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke.
Di tempat itu, ia kembali menemukan harapan dan kesempatan untuk meraih cita-cita yang dulu nyaris ikut hilang bersama kepergian kedua orang tuanya.
Hidup di Jalanan
Kisah Markus Yawid (9) lebih memilukan.
Siswa kelas 3 SD itu pernah hidup di jalanan.
Saat anak-anak lain bermain dan belajar, Markus justru menghabiskan waktunya di pinggir jalan.
Ia menjadi tukang parkir, mengemis, dan bergaul dengan lingkungan yang membuatnya mengenal lem aibon sejak usia dini.
Masa kecilnya berjalan tanpa arah.
Kadang ia tidur tanpa kepastian.
Kadang ia mencari uang hanya untuk bisa bertahan hidup.
Hari-harinya jauh dari gambaran masa kecil yang seharusnya.
Kini semuanya berubah.
Markus bangun pagi, memakai seragam sekolah, belajar di kelas, makan bersama teman-temannya, lalu beristirahat di asrama yang aman.
Ia tidak lagi menghabiskan hidup di jalanan.
Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke memberinya kesempatan untuk kembali menjadi anak-anak.
Syukur Orang Tua
Mama Gema Yowan (56), orang tua Erlin, tidak mampu menyembunyikan rasa syukurnya.
Sebagai pemulung, ia mengaku penghasilannya tidak pernah cukup untuk menyekolahkan anaknya.
Karena itu, kehadiran Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke menjadi harapan baru bagi keluarganya.
"Terima kasih karena anak kami bisa sekolah dengan baik. Mereka mendapat makan, tempat tinggal, dan pendidikan yang layak," ujarnya.
Rasa syukur yang sama juga dirasakan Bapak Gerard Sam, ayah Yohanis yang merupakan penyandang tuna netra.
Di tengah keterbatasannya, ia kini merasa tenang karena anaknya dapat melanjutkan pendidikan tanpa membebani keluarga.
Bagi mereka, Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke bukan sekadar sekolah, tetapi kesempatan untuk mengubah masa depan anak-anak melalui pendidikan.

Memutus Kemiskinan
Program Sekolah Rakyat terus diperluas agar semakin banyak anak dari keluarga miskin bisa bersekolah.
Saat ini, terdapat 166 Sekolah Rakyat di 34 provinsi dengan sekitar 14 ribu siswa, didukung 2.400 guru dan ribuan tenaga kependidikan, termasuk wali asrama dan wali asuh.
Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke menjadi sekolah ke-165 yang beroperasi di bawah naungan Kementerian Sosial RI.
Untuk menjadi siswa, setiap anak harus melalui survei, asesmen, wawancara dengan orang tua, dan verifikasi kondisi sosial ekonomi.
Tim sekolah bahkan mendatangi kampung-kampung yang jauh agar anak-anak yang benar-benar membutuhkan tidak terlewat.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke, Budi Sutomo, mengatakan proses tersebut dilakukan agar program tepat sasaran.
"Konsep Sekolah Rakyat adalah menghasilkan satu sarjana dari satu keluarga miskin agar dapat memutus mata rantai kemiskinan," ujarnya.
Selama bersekolah, seluruh kebutuhan siswa dipenuhi, mulai dari asrama, makan, seragam, hingga perlengkapan belajar.
Setiap siswa juga menerima satu laptop untuk belajar.
Sekolah ini juga dilengkapi ruang kelas, laboratorium MIPA, laboratorium Bahasa Inggris, laboratorium komputer, ruang makan, dan berbagai fasilitas pendukung lainnya.

Orang Tua Kedua
Di luar jam pelajaran, anak-anak mendapatkan pendampingan dari wali asrama dan wali asuh.
Wali Asrama Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke, Ecep Karneda, mengatakan banyak siswa yang membutuhkan perhatian khusus karena memiliki latar belakang kehidupan yang berat.
Ada yang belum lancar membaca, kesulitan belajar, hingga belum mampu beradaptasi dengan lingkungan baru.
Karena itu setiap shift terdiri dari tiga wali asuh dan satu wali asrama.
Setiap wali asuh bertanggung jawab mendampingi sepuluh siswa.
"Kami mendampingi mereka setiap hari. Bukan hanya soal belajar, tetapi juga membantu mereka beradaptasi dan membangun kepercayaan diri," katanya.
Bagi anak-anak yang pernah kehilangan perhatian dan kasih sayang, para wali asuh menjadi sosok yang hadir layaknya orang tua kedua.

Menjaga Masa Depan
Berdasarkan data Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, terdapat 38.732 anak tidak sekolah di Papua Selatan, termasuk 7.511 anak di Kabupaten Merauke.
Angka itu menunjukkan masih banyak anak yang kehilangan kesempatan untuk mengenyam pendidikan.
Bupati Merauke, Yoseph Bladib Gebze, mengatakan kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama.
Menurutnya, pendidikan menjadi jalan terbaik untuk mengubah masa depan anak-anak sekaligus memutus rantai kemiskinan.
"Pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan. Anak-anak ini harus kita siapkan agar kelak menjadi generasi yang mandiri, berilmu, dan mampu membawa perubahan bagi Papua Selatan," katanya.
Karena itu, kehadiran Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke menjadi harapan baru bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Melalui sekolah ini, mereka kembali mendapat kesempatan untuk belajar, meraih cita-cita, dan menata masa depan yang lebih baik.

Harapan Baru
Paulinus terpaksa berhenti sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya.
Erlin tidak bisa bersekolah karena orang tuanya yang bekerja sebagai pemulung tidak mampu membiayai pendidikannya.
Yohanis tumbuh bersama ayah penyandang tuna netra, sementara Adrianus kehilangan ayah dan ibunya akibat HIV/AIDS saat masih kecil.
Di sisi lain, Markus menghabiskan masa kecilnya di jalanan sebagai pengemis dan tukang parkir.
Kisah mereka berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan.
Kemiskinan dan kehilangan pernah membuat mereka jauh dari bangku sekolah.
Kini, mereka belajar bersama di Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke.
Tempat yang memberi mereka kesempatan untuk kembali belajar, mengejar cita-cita, dan menata masa depan.
Di sela-sela kegiatan sekolah, Paulinus menyanyikan penggalan lagu karya Liberty Manik, "Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa kita."
Lagu itu terdengar sederhana, tetapi membawa harapan bahwa setiap anak Indonesia, termasuk mereka yang pernah hidup dalam keterbatasan, memiliki hak yang sama untuk belajar dan meraih masa depan yang lebih baik.
Senyum Bahagia
Menjelang malam, anak-anak kembali ke asrama setelah belajar seharian.
Sebagian mengerjakan tugas, sementara yang lain bermain bersama teman-temannya.
Tak ada lagi yang memikirkan biaya sekolah, makan, atau tempat tinggal.
Mereka akhirnya bisa menikmati masa kecil seperti anak-anak lainnya.
Di balik tawa itu, tersimpan mimpi-mimpi besar.
Paulinus ingin menjadi polisi. "Sa mau hidup tidak susah lagi, meski bapak dan mama sudah meninggal."
Markus ingin menjadi tentara. "Sa mau beli rumah, biar sa tidak hidup di jalan lagi."
Erlin ingin menjadi guru. "Sa mau ajar anak-anak supaya tidak jadi pengemis seperti orang tua saya."
Yohanis ingin menjadi pilot. "Sa mau jadi pilot, biar bisa antar bapak yang tuna netra berobat dengan pesawat."
Adrianus ingin menjadi dokter. "Sa harus jadi dokter supaya bisa sembuhkan orang yang kena HIV/AIDS seperti bapak dan mama saya."
Bagi anak-anak yang pernah kehilangan orang tua, hidup dalam kemiskinan, atau tumbuh di jalanan, memiliki mimpi adalah harapan yang dulu hampir hilang.
Kini, Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke memberi mereka kesempatan untuk belajar, bermimpi, dan menata masa depan.
Sekolah Rakyat menjadi aksi nyata mewujudkan pendidikan berkualitas bagi the invisible people, anak-anak yang selama ini hidup dalam keterbatasan dan kerap luput dari perhatian.
Hari ini, Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke bukan sekadar tempat belajar.
Sekolah ini telah menjadi ruang harapan yang menyelamatkan masa depan 100 anak Papua Selatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....