Di Antara Bata dan Harapan

  • 30 Mar 2026 06:06 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Matahari belum sepenuhnya tinggi ketika suara palu mulai bersahutan di sebuah proyek bangunan di Kabupaten Merauke. Di antara debu semen yang beterbangan dan tumpukan bata yang tersusun rapi, seorang pria tampak sibuk mengaduk pasir dan semen.

Keringat mengalir di wajahnya, membasahi kaos lusuh yang ia kenakan sejak pagi. Namanya Suryadi, 36 tahun, seorang buruh bangunan yang setiap hari bertaruh tenaga demi menghidupi keluarganya.

Sejak pukul delapan pagi, ia sudah berada di lokasi kerja. Tangannya tak pernah benar-benar berhenti, mengangkat, menyusun, mencampur, lalu kembali mengangkat. Rutinitas itu terus berulang hingga senja mulai turun, sekitar pukul enam sore.

“Kerja begini sudah biasa. Dari pagi sampai sore, yang penting dapat upah untuk makan dan kebutuhan anak-anak,” ujar Suryadi.

Bagi Suryadi, pekerjaan ini bukan sekadar mencari nafkah. Ia adalah satu-satunya sandaran bagi dua orang anaknya yang kini masih bersekolah. Anak pertamanya duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar, sementara anak keduanya sudah menginjak kelas 8 sekolah menengah pertama.

Di balik senyum yang ia paksakan setiap hari, tersimpan kisah hidup yang tak mudah. Ia harus menjalani peran sebagai ayah sekaligus ibu setelah rumah tangganya berakhir karena persoalan ekonomi.

“Dulu kami berpisah karena masalah ekonomi. Berat, tapi saya harus tetap jalan. Anak-anak tanggung jawab saya,” katanya pelan.

Sejak saat itu, hidupnya seakan tak punya pilihan selain terus bekerja. Upah sebagai buruh bangunan sering kali tak cukup untuk menutup seluruh kebutuhan. Namun Suryadi tak pernah berhenti mencari cara.

Ketika malam datang dan tubuhnya seharusnya beristirahat, ia justru kembali keluar rumah. Ia mengambil pekerjaan serabutan, apa saja yang bisa menambah penghasilan, mulai dari membantu bongkar muat hingga pekerjaan kecil lainnya.

“Kalau ada kerja malam, saya ambil. Capek memang, tapi kalau tidak begitu, susah untuk cukup,” ungkapnya.

Lelah menjadi hal yang akrab dalam hidupnya. Namun di balik semua itu, ada dua alasan yang membuatnya terus bertahan, dua anak yang menunggu di rumah, dengan harapan sederhana untuk tetap sekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Di lingkungan tempat tinggalnya, perjuangan Suryadi bukan hal yang asing. Indra Alsian Mauw, tetangganya, menyaksikan langsung bagaimana keseharian pria itu dijalani dengan penuh keteguhan.

“Saya lihat sendiri, dia kerja dari pagi sampai sore, kadang malam masih keluar lagi cari tambahan. Tidak semua orang bisa seperti itu,” kata Indra.

Menurut Indra, Suryadi dikenal sebagai sosok yang pendiam namun pekerja keras. Meski hidup dalam keterbatasan, ia tidak pernah mengeluh berlebihan, apalagi menyerah pada keadaan.

“Dia fokus sekali sama anak-anaknya. Semua dilakukan supaya anaknya tetap sekolah. Itu yang paling saya salut,” tambahnya.

Di tengah kerasnya hidup, Suryadi memang tidak memiliki banyak pilihan. Namun ia memilih untuk tetap berdiri, meski perlahan, meski tertatih. Baginya, selama masih ada tenaga, selama masih ada kesempatan bekerja, ia akan terus melangkah.

Menjelang senja, saat pekerjaan hari itu usai, Suryadi membersihkan sisa semen di tangannya. Langit Merauke mulai berubah warna, dari terik menjadi temaram. Ia bersiap pulang, kembali ke rumah kecilnya, tempat dua anaknya menunggu dengan harapan yang sederhana.

Dan esok pagi, cerita itu akan kembali berulang.

Di antara bata-bata yang ia susun, sesungguhnya ia sedang membangun sesuatu yang lebih besar, masa depan anak-anaknya. Sebuah harapan yang mungkin tak terlihat oleh banyak orang, namun terus ia jaga, hari demi hari, dengan keringat dan keteguhan yang tak pernah benar-benar berhenti.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....