Harapan Tumbuh di Sawah Kurik

  • 23 Apr 2026 05:54 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Pagi baru saja merekah di hamparan sawah Distrik Kurik, Kabupaten Merauke. Kabut tipis masih menggantung di atas petak-petak padi yang hijau, sementara embun perlahan jatuh dari ujung daun. Di tengah suasana yang tenang itu, seorang pria tampak berjalan menyusuri pematang, memeriksa tanaman yang menjadi tumpuan hidupnya. Namanya Ahmad Irawan, 30 tahun, seorang petani yang menggantungkan harapan pada tanah yang ia olah setiap hari.

Bagi Ahmad, sawah bukan sekadar lahan. Ia adalah ruang perjuangan, tempat keringat berubah menjadi harapan, dan tempat doa-doa sederhana dipanjatkan setiap musim tanam.

“Kalau pagi begini, saya biasa keliling lihat kondisi padi. Dari situ kita tahu apa yang harus dilakukan hari itu,” ujar Ahmad Irawan.

Menjadi petani di Merauke bukan perkara mudah. Selain bergantung pada cuaca, para petani juga dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari biaya produksi hingga fluktuasi harga hasil panen. Namun di tengah keterbatasan itu, Ahmad mengaku mulai merasakan perubahan.

Ia menyebut, bantuan pupuk subsidi dari pemerintah menjadi salah satu penopang utama dalam menjaga keberlangsungan usaha tani yang ia jalani.

“Pupuk subsidi sangat membantu. Kalau tidak ada itu, biaya produksi bisa jauh lebih besar. Sekarang kami bisa sedikit bernapas,” katanya.

Tak hanya itu, kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) bagi petani juga memberikan dampak nyata. Melalui aplikasi X Star yang dikelola BPH Migas, Ahmad dan petani lain bisa mendapatkan akses BBM dengan harga yang lebih terjangkau untuk menunjang aktivitas pertanian, terutama penggunaan mesin dan transportasi.

“BBM subsidi lewat aplikasi itu sangat terasa manfaatnya. Kita bisa kerja lebih maksimal tanpa terlalu khawatir soal biaya,” ungkapnya.

Namun di balik berbagai kemudahan yang mulai dirasakan, ada satu hal yang masih menjadi kegelisahan. Harga beras yang tidak stabil kerap membuat petani berada dalam posisi sulit.

“Harapan kami, harga beras bisa lebih diperhatikan pemerintah. Jangan sampai kami sudah capek bekerja, tapi hasilnya tidak sebanding,” ujarnya dengan nada lirih.

Menurutnya, kesejahteraan petani tidak hanya ditentukan oleh hasil panen, tetapi juga oleh kepastian harga yang adil. Tanpa itu, kerja keras di sawah sering kali terasa sia-sia.

Di sisi lain, hasil panen petani Kurik tidak hanya berhenti di lumbung. Ia sampai ke dapur-dapur rumah warga, menjadi makanan sehari-hari yang menghidupi banyak orang.

Galang Meilandri, salah satu konsumen yang rutin membeli beras hasil petani Merauke, merasakan langsung kualitas dan manfaat dari produksi lokal tersebut.

“Kalau saya, lebih sering beli beras dari petani lokal. Selain kualitasnya bagus, kita juga ikut bantu petani di sini,” kata Galang Meilandri.

Menurutnya, beras dari Merauke memiliki rasa yang pulen dan segar karena langsung berasal dari hasil panen petani setempat. Ia juga menilai, keberadaan petani lokal sangat penting dalam menjaga ketersediaan pangan di daerah.

“Beras ini bukan cuma untuk konsumsi sehari-hari, tapi juga penting untuk program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis. Jadi memang harus didukung,” ujarnya.

Galang berharap pemerintah terus memperhatikan kesejahteraan petani, terutama dalam menjaga stabilitas harga agar petani tidak dirugikan.

“Kalau petani sejahtera, kita sebagai konsumen juga ikut merasakan dampaknya. Harga stabil, kualitas tetap bagus,” tambahnya.

Optimisme itu juga hidup dalam diri Ahmad Irawan. Ia percaya, dengan perhatian yang berkelanjutan dari pemerintah, sektor pertanian di Merauke akan terus tumbuh dan menjadi kekuatan utama di kawasan timur Indonesia.

“Kalau pemerintah terus dukung kami, saya yakin Merauke bisa jadi lumbung pangan di Indonesia Timur. Kami siap bekerja, yang penting ada perhatian,” katanya penuh harap.

Di tengah hamparan sawah yang tak berujung, Ahmad kembali melangkah, menyusuri pematang yang basah oleh embun. Di setiap langkahnya, tersimpan keyakinan bahwa tanah ini akan terus memberi, selama ada tangan-tangan yang setia merawatnya.

Dan di balik butir-butir padi yang kelak mengisi piring-piring makan, ada cerita tentang kerja keras, keteguhan, dan harapan, tentang seorang petani yang percaya bahwa masa depan bisa tumbuh dari tanah yang ia cintai.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....